22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Turki Merapat ke Rusia

Turki Merapat ke RusiaFiqhislam.com - Saat hubungan Turki dengan negara-negara Barat menegang, pascakudeta gagal di Turki 15 Juli lalu, Presiden Recep Tayyip Erdogan akan melakukan perjalanan ke Rusia pada Selasa (9/8). Dalam kunjungannya tersebut, Erdogan akan menemui Presiden Rusia Vladimir Putin. Hubungan Turki dengan Moskow memang telah mencair, setelah sebelumnya Rusia menjatuhkan sanksi perdagangan karena jet tempur mereka ditembak jatuh dekat perbatasan Turki-Suriah. Kunjungan Erdogan kali ini 'bertepatan' dengan meregangnya hubungan Ankara dengan negara Barat.

Erdogan dan banyak warga Turki marah dengan kekhawatiran Barat akan tindakan mereka terhadap pelaku kudeta, tapi mengabaikan apa yang mereka sebut peristiwa berdarah sebelumnya. Pemerintah Turki juga menyalahkan kudeta pada para pengikut Fethullah Gulen yang kini berada di pengasingan di Amerika Serikat.

Ketegangan dengan Barat meningkat ketika Menteri Luar Negeri Jerman mengatakan tak bisa berdiskusi dengan Turki karena seperti pembicaraan 'dua planet berbeda'. Kanselir Austria juga menyarankan diakhirinya pembicaraan keanggotaan Turki di Uni Eropa.

Menurut mantan diplomat Turki dan analis di lembaga think tank Carnegie Eropa, Sinan Ulgen, bagi Erdogan pertemuan dengan Putin menjadi kesempatan untuk memberikan sinyal ke Barat bahwa mereka memilih strategis pilihan lain.

"Ada persepsi bahwa Turki secara strategis bisa condong ke Rusia jika hubungan dengan Barat tak bisa dipertahankan. Ada juga insentif Rusia yang menggunakan krisis antara Turki dengan Barat sebagai cara melemahkan kekompakkan NATO," kata Ulgen.

Pertemuan Erdogan dengan Putin akan menjadi pertemuan kedua Erdogan dengan kepala negara asing sejak kudeta. Pada Jumat (5/8), Erdogan menjamu Presiden Kazakhstan yang berkunjung ke Ankara. Para pejabat Turki mempertanyakan, mengapa tak ada pemimpin negara Barat yang datang menunjukkan solidaritas.

Direktur Umum lembaga think tank yang dekat dengan Kementerian Luar Negeri Rusia, Russian International Affairs Council, Andrey Kortunov mengatakan, kudeta telah membuat Turki lebih dekat dengan Rusia. Namun menurutnya, kedua negara masih memiliki perbedaan serius.

Banyak hal yang bertentangan antara Turki dan Rusia, di antaranya, Rusia merupakan pendukung Bashar al-Assad, sementara Turki ingin ia digulingkan. Kemudian masalah di Kaukasus Selatan di mana Turki mendukung Azerbaijan sementara Rusia merupakan sekutu Armenia.

"Pertemuan antara Putin dan Erdogan akan menunjukkan seberapa jauh kedua belah pihak bersedia berkompromi. Pertanyaannya adalah apakah saat-saat penurunan ketegangan ini bisa diterjemakan dalam kemitraan yang lebih strategis?" kata Kortunov.

Sementara itu, Amerika Serikat kemungkinan akan mengawasi dengan cermat hubungannya dengan Ankara. Terlebih setelah Erdogan menuduh Gulen yang mendapat suaka di AS sebagai dalang kudeta.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry diperkirakan akan mengunjungi Turki akhir Agustus ini. Pembicaraan mereka tampaknya akan menjadikan masalah Gulen sebagai agenda utama.

Mantan duta besar Turki untuk AS Faruk Logoglu mengatakan, saat-saat seperti ini secara psikologis warga Turki berharap mendapat ekspresi solidaritas dan kebersamaan. Namun mereka tak mendapatkannya dari negara-negara Barat.

Sementara ditanya mengenai perjalanan Erdogan ke Rusia, Logoglu mengatakan ini memang bisa ditafsirkan sebagai sinyal ke Barat. Namun ia meragukan Turki akan sepenuhnya ke Rusia dan merusak hubungannya dengan AS secara abadi.

"Hubungan Turki-Amerika seperti perkawinan Katolik, tidak ada perceraian, kedua belah pihak saling membutuhkan," katanya.

Sementara itu, pembantu kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov mengatakan, Suriah akan menjadi topik utama pada pertemuan dengan Erdogan. TurkStream, proyek listrik tenaga nuklir dan dimulainya kembali penerbangan Rusia ke Turki juga akan dibahas dalam pertemuan kedua kepala negara. [yy/okezone]

 

Tags: turki | rusia | erdogan | putin