22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

EUROPOL Akui Pihaknya Sulit Deteksi Ancaman Aksi Teror di Eropa

EUROPOL Akui Pihaknya Sulit Deteksi Ancaman Aksi Teror di Eropa

Fiqhislam.com - Eropa berisiko tinggi terkena serangan teror bergaya "lone-wolf" atau yang dilakukan seorang diri tanpa ada perintah dari grup tertentu. Agensi penegak hukum Uni Eropa, Europol, mengatakan sejumlah insiden terbaru menunjukkan "betapa sulitnya mendeteksi dan menggagalkan aksi teror."

Sejumlah insiden terbaru, termasuk penyerangan dengan kapak di sebuah kereta api di Jerman dan pembantaian di Nice yang menewaskan 84 orang, "masih menjadi taktik grup Islamic State (ISIS) dan juga al-Qaeda," ujar Europol.

"Kedua grup berulang kali menyerukan kepada Muslim yang tinggal di negara Barat untuk melakukan aksi lone-wolf," lanjutnya, seperti dikutip AFP, Rabu (20/7/2016).

Dalam aksi teror di kereta Wuerzburg, Jerman, ISIS merilis video berisi mengenai imigran berusia 17 tahun yang melakukan serangan teror dengan menggunakan kapak. Serangan ini melukai lima orang, dua di antaranya kritis.

"Meski ISIS mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan terbaru, tidak ada satu pun yang kelihatannya direncanakan, mendapat dukungan logistik atau diperintahkan langsung," kata Europol.

Meski pelaku mendeklarasikan kesetiaan kepada ISIS, "keterlibatan nyatanya dirinya dengan grup ekstremis itu tidak dapat dipastikan," sambungnya.

Europol merilis "Laporan Tren Terorisme Uni Eropa" yang menyebut 151 orang meninggal dunia dan lebih dari 350 lainnya terluka dalam serangkaian aksi teror di blok Eropa tahun lalu.

Laporan setebal 55 halaman itu hanya menyebutkan peristiwa pada 2015, tanpa memasukkan serangan di Nice atau di bandara Brussel dan stasiun kereta Belgia pada Maret yang menewaskan 32 orang.

"Pada 2015, Uni Eropa menderita banyak korban jiwa akibat serangan teror," tutur kepala Europol Rob Wainwright. "Serangkaian serangan ini mendemonstrasikan meningkatnya ancaman kepada Uni Eropa dari minoritas fanatik, yang digabungkan dengan jaringan orang-orang yang lahir dan dibesarkan di Eropa."

Menurut Waiwright, orang-orang tersebut "biasanya diradikalisasi dengan cepat, dan bersedia menjadi fasilitator atau mitra aktif dalam terorisme," sambung Wainwright. [yy/atjehcyber]
 
 
Tags: eropa | teror | lone wolf