25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Presiden Erdogan Dituding Sengaja Buat Kudeta Militer Palsu

Fiqhislam.com - Penganut teori konspirasi mulai menyinggung upaya kudeta militer di Turki sebenarnya palsu setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan dilaporkan menyebut kudeta tersebut sebagai hadiah dari Allah.

Pengguna sosial media membandingkan upaya kudeta yang menewaskan 160 orang itu seperti serangan di gedung parlemen Jerman yang terjadi pada 1933 dimana Hitler menggunakannya sebagai alasan untuk mengekang kebebasan sipil dan melakukan penangkapan massal terhadap musuh-musuhnya.

Dilansir Independent, Erdogan dilaporkan mengatakan kepada pendukungnya di bandara Istanbul bahwa upaya kudeta tersebut didalangi oleh Fethullah Gulen yang disebutnya sebagai organisasi teroris bersenjata.

Erdogan juga menyebut upaya kudeta tersebut akan membersihkan militer dari anggota geng yang akan membayar mahal atas penghianatan.  Hal itu dikhawatirkan membuat Erdogan menggunakan kudeta sebagai alasan untuk membersihkan para penentangnya. Kekhawatiran itu seperti 2.745 hakim dipecat setelah upaya kudeta militer terjadi.

Senior koresponden Politico, Ryan Heath memberi komentar di Twitter bahwa sumbernya di Turki yang menyebut peristiwa pada Jumat tersebut sebagai kudeta palsu akan membantu pasukan demokrasi palsu.

"Mungkin kita akan melihat pemilihan yang dilakukan secara dini di mana dia (Erdogan) akan mencoba memastikan suara mayoritas yang tak bisa dipercaya. Mungkin ini akan menjadi garansi 10-15 tahun lagi untuk otoritarian, diktator yang terpilih, " ujar sumber itu. [yy/republika]

Presiden Erdogan Dituding Sengaja Buat Kudeta Militer Palsu

Fiqhislam.com - Penganut teori konspirasi mulai menyinggung upaya kudeta militer di Turki sebenarnya palsu setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan dilaporkan menyebut kudeta tersebut sebagai hadiah dari Allah.

Pengguna sosial media membandingkan upaya kudeta yang menewaskan 160 orang itu seperti serangan di gedung parlemen Jerman yang terjadi pada 1933 dimana Hitler menggunakannya sebagai alasan untuk mengekang kebebasan sipil dan melakukan penangkapan massal terhadap musuh-musuhnya.

Dilansir Independent, Erdogan dilaporkan mengatakan kepada pendukungnya di bandara Istanbul bahwa upaya kudeta tersebut didalangi oleh Fethullah Gulen yang disebutnya sebagai organisasi teroris bersenjata.

Erdogan juga menyebut upaya kudeta tersebut akan membersihkan militer dari anggota geng yang akan membayar mahal atas penghianatan.  Hal itu dikhawatirkan membuat Erdogan menggunakan kudeta sebagai alasan untuk membersihkan para penentangnya. Kekhawatiran itu seperti 2.745 hakim dipecat setelah upaya kudeta militer terjadi.

Senior koresponden Politico, Ryan Heath memberi komentar di Twitter bahwa sumbernya di Turki yang menyebut peristiwa pada Jumat tersebut sebagai kudeta palsu akan membantu pasukan demokrasi palsu.

"Mungkin kita akan melihat pemilihan yang dilakukan secara dini di mana dia (Erdogan) akan mencoba memastikan suara mayoritas yang tak bisa dipercaya. Mungkin ini akan menjadi garansi 10-15 tahun lagi untuk otoritarian, diktator yang terpilih, " ujar sumber itu. [yy/republika]

Gulen: Partai Erdogan Dalang Kudeta Militer

Gulen: Partai Erdogan Dalang Kudeta Militer

Gulen: Partai Erdogan Dalang Kudeta MiliterTurki dilanda kudeta militer pada Jumat 15 Juli 2016 malam waktu setempat. Beruntung, kudeta tersebut berhasil digagalkan. Presiden Recep Tayyip Erdogan segera menudingkan jari kepada Fethullah Gulen dan pengikutnya sebagai dalam di balik kudeta tersebut.

Merasa tidak terima, ulama yang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) itu menuduh balik Erdogan sebagai dalang di balik kudeta tersebut. Gulen bahkan menyamakan mantan sahabat dekatnya itu dengan pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

“Ada kemungkinan bahwa kudeta itu dipentaskan oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Erdogan. Tujuannya tidak lain adalah untuk memelihara tuduhan kepada para pengikut Gulen dan pihak militer,” ujar salah satu ulama terkemuka Turki itu di Pennsylvania, seperti dimuat Russia Today, Minggu (17/7/2016).

Erdogan juga menuntut pemerintahan Barack Obama untuk mengekstradisi pemimpin kelompok Hizmet itu dari AS. Atas tuntutan itu, Gulen mengaku tidak resah. Ia memegang kartu hijau AS sehingga mendapatkan status permanent resident meski tidak berstatus warga Negeri Paman Sam.

“Saya tidak yakin dunia akan menganggap serius tuduhan Presiden Erdogan terhadap saya,” tutur pria berusia 75 tahun itu. Pun begitu, Gulen mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan untuk mendongkel Erdogan dari posisinya.

Sedikitnya 265 orang tewas setelah usaha kudeta militer itu gagal dilaksanakan. Lebih dari 2.800 personel militer telah ditangkap dan 2.700 di antaranya dibebastugaskan. Selain itu, sekira 2.745 hakim dipecat oleh pemerintah Turki pasca kudeta tersebut. [yy/okezone]

Erdogan Ditakutkan Mulai Balas Dendam

Erdogan Ditakutkan Mulai Balas Dendam

Rezim Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mulai melakukan penangkapan massal terhadap pejabat militer dan tentara yang berupaya melakukan kudeta terhadap Pemerintah Turki. Para diplomat Barat takut penangkapan massal ini sebagai misi balas dendam Erdogan.
 
Hampir 3 ribu tentara dan pejabat tinggi militer Turki telah dituduh terlibat kudeta. Pemerintah Erdogan bahkan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap 2.745 hakim yang dituduh pro-kudeta.
 
”Mereka akan membayar harga yang mahal untuk ini,” demikian peringatan keras Erdogan setelah kudeta militer Turki digagalkan warga sipil.
 
”Pemberontakan ini adalah hadiah dari Tuhan untuk kita karena ini akan menjadi alasan untuk membersihkan tentara kita,” lanjut Erdogan.
 
Seorang diplomat Barat yang berbicara dalam kondisi anonim takut bahwa rezim Erdogan akan menggunakan alasan kudeta gagal itu untuk menunjukkan kekuasaannya.
 
”Untuk saat ini semua orang senang bahwa demokrasi dipulihkan," kata diplomat yang jadi sumber The Sunday Telegraph, Minggu (17/7/2016). ”Ketakutannya adalah atas apa yang muncul berikutnya.”
 
Mujtaba Rahman, dari Eurasia Group, juga mengkhawatirkan hal serupa. ”Naluri dan prioritas Erdogan sekarang untuk menekan perbedaan pendapat dan mengkonsolidasikan kekuasaan,” ujarnya.
 
Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, serta para pemimpin Jerman dan Prancis, mendesak Ankara untuk menangani pihak yang terlibat kudeta sesuai aturan hukum. Uni Eropa khawatir tindakan represi Turki dapat membahayakan hubungan yang sudah tegang antara Uni Eropa dan Turki.
 
”Pertanyaan kunci akan seperti apa Turki keluar dari krisis ini. Itu akan menjadi penting tidak hanya bagi Turki, tetapi seluruh wilayah dan tentu saja hubungan Uni Eropa-Turki," kata Tusk kepada wartawan dalam KTT Asia-Eropa di Mongolia.
 
”Ketegangan dan tantangan bagi Turki tidak bisa diselesaikan dengan senjata," katanya lagi.
 
Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan bahwa penanganan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas upaya kudeta di Turki seharusnya ditangani sesuai dengan aturan hukum.
 
”Demokrasi, yang  menghormati hak-hak semua orang dan melindungi minoritas, adalah dasar terbaik (untuk aturan hukum)," kata Merkel kepada stasiun televisi France 24.
 
Presiden Prancis, Francois Hollande, khawatir akan terjadi penindasan di Turki. ”Sekarang kita akan melihat situasi apa di Turki. Jika presiden telah sepenuhnya mengambil alih kontrol kembali, yang saya pikir adalah kasus, kita akan memiliki periode tenang yang cukup besar, tapi mungkin akan ada penindasan,” ujar Hollande.
 
”Saya bisa membayangkan bahwa sejumlah militer harus menjawab atas apa yang mereka lakukan atau apa yang mereka tidak lakukan,” imbuh dia. [yy/sindonews]

Heboh Foto Pro-Erdogan Penggal Tentara Turki saat Kudeta

Heboh Foto Pro-Erdogan Penggal Tentara Turki saat Kudeta

Publik Turki dihebohkan dengan beredarnya foto tentara yang dipenggal oleh massa pro-Presiden Tayyip Erdogan yang diklaim terjadi saat upaya kudeta berlangsung. Namun, foto horor itu diduga palsu.
 
Foto seorang tentara Turki yang tewas dieksekusi di jalanan itu jadi pemberitaan media-media Inggris. Foto tersebut salah satunya diunggah oleh pengguna akun @BabakTaghvaee.
 
Sindonews.com menelusuri akun penyebar foto horor itu. Dari biografi pemilik akun tersebut diketahui bahwa pemiliknya seorang penulis buku, sejarawan di bidang militer, jurnalis dan seorang fotografer. Tidak ada nomor telepon pemilik yang bisa dihubungi untuk mengkonfirmasi keaslian foto yang diunggah oleh pemilik akun yang terdaftar sejak Oktober 2015 dengan jumlah follower 1.396.    
 
Pengguna akun itu mengklaim pemenggalan oleh massa pro-Erdogan terhadap tentara Turki yang terlibat kudeta terjadi di salah satu jembatan yang melintasi sungai Bosphorus di Istanbul.
 
Kendati demikian, sejumlah pengguna di Twitter menduga foto-foto itu palsu dan kemungkinan merupakan gambar dari insiden tahun 2006.
 
Perdana Menteri Turki Benali Yildirim ribuan orang yang terlibat upaya kudeta telah ditahan. Dia menggambarkan upaya kudeta pada Jumat malam lalu sebagai “tanda hitam di demokrasi Turki”. ”Para pelaku akan menerima hukuman yang layak,” kata Yildirim, seperti dikutip Independent, semalam (16/7/2016).
 
Upaya kudeta di Turki telah menewaskan 265 orang dan lebih dari 2 ribu orang lainnya terluka. Rezim Presiden Tayyip Erdogan telah merespons upaya kudeta itu dengan menindak dengan memenjarakan 2.745 hakim oposisi dan menangkap lebih dari 2.800 tentara yang dituduh bersimpati terhadap kudeta.

Presiden Erdogan menuduh musuh politiknya, Fethullah Gulen yang berada di Amerika Serikat (AS) sebagai dalang dari kudeta gagal tersebut. Namun, Gulen membantah dan menuduh balik Erdogan sebagai perekayasa kudeta gagal tersebut.

Erdogan telah meminta Presiden Barack Obama untuk menangkap dan memulangkan Gulen ke Turki. ”Negara ini banyak menderita di tangan gerakan Gulen,” kata Erdogan.

”Saya menyerukan kepada Amerika Serikat dan Presiden Barack Obama (untuk) menangkap Fethullah Gulen atau memulangkannya ke Turki,” imbuh Erdogan. ”Jika kita adalah mitra strategis atau mitra model, lakukan apa yang diperlukan,” lanjut seruan Erdogan. [yy/sindonews]

Militer Turki Blokir Pangkalan yang Jadi Rumah Nuklir AS

Militer Turki Blokir Pangkalan yang Jadi Rumah Nuklir AS

Penguasa militer Turki memblokir akses masuk dan keluar dari Pangkalan Udara Incirlik, Turki selatan yang menjadi rumah senjata nuklir Amerika Serikat (AS) pada hari Sabtu.
 
Pemblokiran terjadi setelah upaya kudeta militer gagal dan Turki menuduh AS ikut mendalangi kudeta.
Tindakan penguasa Turki dalam memblokir Pangkalan Udara Incirlik diungkap oleh pihak Konsulat AS di Adana, Turki.
 
”Pemerintah setempat memblokir akses dari dan ke Pangkalan Udara Incirlik. Listrik juga telah diputus,” demikian pesan tertulis dari Konsulat AS di Adana, seperti dikutip Russia Today.

”Silakan menghindari pangkalan udara sampai operasi normal dipulihkan,” lanjut pihak konsulat.

Menurut laporan CNN, listrik untuk fasilitas juga diputus. Penutupan wilayah udara itu dilaporkan telah menyebabkan berhentinya operasi serangan udara AS terhadap kelompok ISIS.
 
Meski demikian, Sabah Daily mengutip Konsulat AS di Turki pada hari Minggu (17/7/2016) melaporkan bahwa akses ke Pangkalan Udara Incirlik telah dipulihkan. 
 
Penerbangan di wilayah udara Turki juga telah diizinkan kembali. [yy/sindonews]