22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Sosok Otak Pelaku Penembakan di Dallas yang Tewaskan 5 Orang Polisi

Sosok Otak Pelaku Penembakan di Dallas yang Tewaskan 5 Orang Polisi

Fiqhislam.com - Sniper yang menembak mati 5 orang polisi dan melukai 7 orang polisi lainnya, serta 2 warga sipil, di Dallas, Amerika Serikat, akhirnya tewas di tangan polisi. Identitasnya sudah teridentifikasi.

Dilansir AFP, Sabtu (9/7/2016), otak pelaku penyerangan terhadap polisi ini diketahui bernama Micah Xavier Johnson (25). Dia adalah seorang pria asal Mesquite, Texas.

Polisi juga disebut telah menahan tiga orang lain yang diduga terlibat dalam penembakan polisi pada Kamis (7/7) malam itu. Peristiwa ini sendiri terjadi di tengah aksi unjuk rasa massal akibat pembunuhan dua pria kulit hitam di Minnesota dan Louisiana oleh polisi.

"Mereka bekerja sama dengan senjata, membentuk formasi segitiga di posisi tinggi dari titik berbeda di kawasan pusat kota, tempat di mana unjuk rasa akan berakhir," ujar Kepala Kepolisian Dallas David Brown.

Amukan Johnson terhenti setelah polisi menewaskannya melalui bahan peledak yang dikirimkan polisi lewat sebuah robot di tengah-tengah upaya negosiasi. Robot digunakan untuk menghindari korban jiwa karena tersangka bersenjata.

CNN mengutip seorang pejabat penegak hukum yang tak mau disebut namanya mengatakan, Johnson tidak memiliki catatan kriminal atau keterkaitan dengan kelompok ekstrimis.

Dari sebuah foto yang dimunculkan CNN, Johnson adalah seorang pria kulit hitam berjanggut pendek. Dia yang mengenakan baju etnik Afrika tampak mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya di foto itu.

Militer AS menyebut, Johnson bertugas di Angkatan Darat Cadangan AS hingga April 2015. Dia pernah ditugaskan ke Afghanistan dari November 2013 hingga Juli 2014.

Sebelumnya, saat bicara dengan tim perunding polisi, Johnson menyebut dirinya tak berafiliasi dengan kelompok ekstrimis manapun. Tindakannya menembaki polisi dipicu kemarahannya terhadap kasus tewasnya dua pria kulit hitam di Minnesota dan Louisiana akibat ditembak polisi.

"Dia mengatakan marah terhadap kasus penembakan oleh polisi baru-baru ini. Dia mengatakan dirinya marah pada orang kulit putih. Dia mengatakan ingin membunuh orang kulit putih, terutama polisi berkulit putih," ucap Brown.

Protes terhadap polisi AS mengemuka sehari hari setelah kematian dua warga kulit hitam, Philando Castile di Minnesota dan Alton Sterling di Louisiana.

Pada Rabu (06/07), Philando Castile, tampak ditembak polisi dan kemudian darah keluar dari tubuhnya. Kekasih Castile merekam kejadian ketika polisi tetap mengarahkan senjata dan menyiarkannya langsung di internet. Di dalam mobil juga terdapat seorang anak yang menyaksikan peristiwa itu.

Sedangkan sehari sebelumnya, Alton Sterling, ditembak mati oleh polisi di Baton Rouge, Negara Bagian Louisiana. [yy/news.detik]