20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Tony Blair Sudah Menyesal, George W Bush Belum

Tony Blair Sudah Menyesal, George W Bush BelumFiqhislam.com - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie meminta pemimpin dunia untuk tidak membuat keputusan yang memicu terjadinya kekerasan. Sebab, hal itu diyakini akan memunculkan kekerasan-kekerasan baru.

“Semua pemimpin dunia kita imbau jangan melakukan kekerasan kepada orang lain yang akan menciptakan kekerasan lagi,” kata Jimly di kediaman pribadinya di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (7/7).

Dia berharap, pemimpin-pemimpin negara tak mengulangnya lagi sehingga bisa memicu konflik-konflik horizontal bertambah luas. Menurut mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini, keputusan yang memicu terjadinya perlawanan dan berujung pada kekerasan sudah terbukti dan terjadi.

“Toni Blair sudah menyesal tapi sudah telat. Kita tunggu George W Bush, dia belum merasa menyesal. Mudah-mudahan diberi petunjuk Tuhan untuk segera menyesal, untuk memberi inspirasi kepada seluruh pemimpin dunia agar jangan membuat keputusan yang menciptakan kekerasan yang tidak perlu,” ujar dia.

Mencuatnya ISIS, menurut Jimly, salah satunya terpicu lantaran pengambilan keputusan-keputusan yang melahirkan kekerasan baru. “Itu kan karena diadu oleh kesalahpahaman orang barat,” ujar dia. [yy/republika]

Tony Blair Sudah Menyesal, George W Bush BelumFiqhislam.com - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie meminta pemimpin dunia untuk tidak membuat keputusan yang memicu terjadinya kekerasan. Sebab, hal itu diyakini akan memunculkan kekerasan-kekerasan baru.

“Semua pemimpin dunia kita imbau jangan melakukan kekerasan kepada orang lain yang akan menciptakan kekerasan lagi,” kata Jimly di kediaman pribadinya di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (7/7).

Dia berharap, pemimpin-pemimpin negara tak mengulangnya lagi sehingga bisa memicu konflik-konflik horizontal bertambah luas. Menurut mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini, keputusan yang memicu terjadinya perlawanan dan berujung pada kekerasan sudah terbukti dan terjadi.

“Toni Blair sudah menyesal tapi sudah telat. Kita tunggu George W Bush, dia belum merasa menyesal. Mudah-mudahan diberi petunjuk Tuhan untuk segera menyesal, untuk memberi inspirasi kepada seluruh pemimpin dunia agar jangan membuat keputusan yang menciptakan kekerasan yang tidak perlu,” ujar dia.

Mencuatnya ISIS, menurut Jimly, salah satunya terpicu lantaran pengambilan keputusan-keputusan yang melahirkan kekerasan baru. “Itu kan karena diadu oleh kesalahpahaman orang barat,” ujar dia. [yy/republika]

Tony Blair Teroris Terburuk di Dunia

Tony Blair Teroris Terburuk di Dunia

Para anggota keluarga tentara Inggris yang tewas dan menjadi korban dalam Perang Irak, memberikan tanggapan mereka atas keluarnya laporan Chilcot. Salah satu di antaranya menggambarkan Tony Blair sebagai teroris terburuk di dunia.

Dilansir The Guardian Rabu (6/7), Sarah O'Connor yang kakaknya tewas dalam Perang Irak, tak bisa menahan kesedihannya saat konferensi pers sesaat setelah laporan Sir John Chilcot dirilis.

Dengan penuh emosional, ia pun mengecam mantan Perdana Menteri Britania Raya itu yang dianggap bertanggung jawab atas keterlibatan Inggris dalam Perang Irak tahun 2003.

"Ada satu teroris di dunia ini yang dunia perlu sadari, dan namanya Tony Blair, teroris terburuk di dunia," katanya disambut sorak sorai sejumlah kerabat tentara lainnya.

Kakak O'Connor, Sersan Bob O'Connor, tewas bersama sembilan penerbang lain saat pesawat mereka ditembak jatuh di dekat Baghdad pada 2005. O'connor berbicara dengan penuh emosi setelah membaca laporan Chilcot tersebut.

"Butuh 11 setengah tahun untuk saya menyembuhkan luka ini, dan saya kembali pada waktu itu dan menyadari saudara saya telah dibunuh," ujarnya.

 

 

Ada sekitar 25 anggota keluarga yang berduka hadir di gedung konferensi Ratu Elizabeth II di pusat kota London. Mereka diberi waktu beberapa jam untuk membaca laporan sebelum diterbitkan. Beberapa datang dengan membawa foto, mengenakan kaos atau pin bergambar para korban.

Banyak dari menyambut laporan itu, dengan banyak keluarga berdiri dan bertepuk tangah saat Sir John Chilcot meninggalkan panggung setelah memberikan pernyataan. Ada kemarahan luas, sementara beberapa lainnya menangis.

Hasil penyelidikan terkait keterlibatan Inggris dalam perang Irak berujung pada kecaman terhadap mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Pasalnya, keikutsertaan Inggris dalam perang tersebut tanpa dasar hukum atau perencanaan yang tepat.

Penyelidikan yang dipimpin oleh John Chilcot mengatakan aksi militer tersebut ilegal. "Kami telah, bagaimanapun, menyimpulkan bahwa keadaan dimana dasar hukum untuk aksi militer tersebut jauh dari kata memuaskan," kata Chilcot seperti dikutip dari Reuters, Rabu (6/7/2016).

Laporan Chilcot mengatakan, tidak ada ancaman dari Saddam Hussein pada Maret 2003, serta kekacauan di Irak dan diikuti kekacauan di wilayah telah diramalkan. Invasi dan ketidakstabilan berikutnya yaitu pada tahun 2009 telah mengakibatkan kematian sedikitnya 150.000 warga Irak. Dari jumlah itu sebagian besar warga sipil, dan membuat lebih dari satu juta jiwa.

Laporan itu mengatakan Inggris telah bergabung invasi tanpa mengedepankan pilihan damai, telah meremehkan konsekuensi dari invasi, dan perencanaan itu sepenuhnya tidak memadai.

"Sudah jelas sekarang bahwa kebijakan terhadap Irak dibuat atas dasar kecerdasan dan penilaian yang cacat. Mereka tidak menantang dan mereka tidak melakukannya," kata Chilcot.

Dia juga mengatakan bahwa penilaian pemerintah Blair tentang ancaman yang ditimbulkan oleh senjata pemusnah massal Irak pemusnah massal disajikan dengan tidak tepat.

Untuk diketahui, tujuan dilakukannya penyelidikan adalah agar pemerintah Inggris belajar dari invasi dan pendudukan di Irak di mana 179 tentara Inggris tewas. [yy/atjehcyber]

Tony Blair Minta Maaf Terkait Perang Irak 2003

Tony Blair Minta Maaf Terkait Perang Irak 2003

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair mengatakan bahwa intervensi militer merupakan pemicu konfik sekarang ini di kawasan, termasuk bangkitnya kekuatan militan Islamic State (ISIS) di Irak dan Suriah.

Seperti dikutip BBC, Kamis (7/7/2016), Blair telah meminta maaf atas apa yang ia sebut “kekeliruan” yang dibuat selama invasi pimpinan Amerika Serikat (AS) terhadap Irak.

“Tentu saja kita tidak bisa mengatakan bahwa siapa yang menyingkirkan Saddam pada tahun 2003 tidak bertanggungjawab atas situasi tahun 2015,” ujarnya.

Meskipun bersikap kritis terhadap informasi yang cacat mengenai senjata penghancur massal yang menyebabkan invasi, serta atas sebagian kesalahan dalam perencanaan dan kesalahan dalam memahami apa yang akan terjadi begitu rezim pemimpin Irak Saddam Hussein disingkirkan, Blair tidak sepenuhnya meminta maaf atas perang tersebut.

“Saya rasa sulit minta maaf karena menyingkirkan Saddam. Saya pikir, bahkan sekarang pada tahun 2015, lebih baik apabila ia tidak berkuasa di sana,” lanjut Blair.

Inggris menyumbangkan tentara terbanyak ke-dua, 45 ribu orang, dalam invasi itu.

Mereka bergabung bersama hampir 150 ribu tentara AS dan ribuan lainnya dari Australia, Spanyol dan Polandia. Dari seluruh tentara Inggris itu, 179 di antaranya tewas dalam konflik di sana.

Sebelumnya, kepala tim penyelidik peranan Inggris dalam Perang Irak mengatakan, konflik di Irak adalah intervensi yang berlangsung sangat buruk yang akibatnya dirasakan sampai sekarang.

Mantan pegawai negeri sipil atau PNS John Chilcot, berbicara ketika panelnya merilis sebuah laporan yang sudah lama ditunggu-tunggu hasil dengar keterangan publik selama beberapa tahun dan menganalisa 150.000 dokumen.

Blair membantah tuduhan bahwa ia bertindak tidak jujur dalam mengemukakan alasan bagi perang yang menewaskan 179 tentara Inggris tersebut.

Blair mengatakan bahwa ia telah bertindak dengan itikad baik dalam apa yang dia yakini merupakan kepentingan terbaik bagi negara. [yy/atjehcyber]

 

Tags: blair | bush