30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Rusia-Turki Capai Kesepahaman Soal Krisis di Suriah

Rusia-Turki Capai Kesepahaman Soal Krisis di Suriah

Fiqhislam.com - Rusia dan Turki dilaporkan telah mencapai kesepahaman mengenai krisis yang terjadi di Suriah. Kedua negara juga disebut telah sepakat mengenai pentingnya memberangus al-Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah.

Kesepahaman itu dicapai kala terjadi pertemuan antara Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Turki,  Mevlut Cavusoglu. Dalam pernyataan bersama, kedua pihak menekankan, bahwa Rusia dan Turki tidak hanya menanggap ISIS sebagai kelompok teroris di Suriah, tapi juga al-Nusra.

Selain itu, keduanya juga telah sepakat bahwa kelompok oposisi harus menarik diri dari wilayah yang dikuasai oleh teroris. Menurut Lavrov, Turki telah menerima aturan baru upaya anti-terorisme di Suriah. 

Dimana, papar Lavrov Turki telah setuju dengan pendapat jika pasukan yang disebut dengan oposisi moderat tidak meninggalkan kawasan yang dikendalikan oleh teroris, mereka akan dianggap sebagai kaki tangan teroris. Dengan kata lain, mereka akan menjadi target serangan.

"Mereka yang tidak ingin terkena serangan perlu meninggalkan posisi yang dikuasi oleh oleh Jabhat al-Nusra dan ISIS. Jika oposisi patriotik, oposisi konstruktif tetap di wilayah yang dikuasai oleh teroris, akan dianggap kaki tangan terois," kata Lavrov, seperti dilansir Sputnik pada Sabtu (2/7). [yy/sindonews]

Rusia-Turki Capai Kesepahaman Soal Krisis di Suriah

Fiqhislam.com - Rusia dan Turki dilaporkan telah mencapai kesepahaman mengenai krisis yang terjadi di Suriah. Kedua negara juga disebut telah sepakat mengenai pentingnya memberangus al-Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah.

Kesepahaman itu dicapai kala terjadi pertemuan antara Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Turki,  Mevlut Cavusoglu. Dalam pernyataan bersama, kedua pihak menekankan, bahwa Rusia dan Turki tidak hanya menanggap ISIS sebagai kelompok teroris di Suriah, tapi juga al-Nusra.

Selain itu, keduanya juga telah sepakat bahwa kelompok oposisi harus menarik diri dari wilayah yang dikuasai oleh teroris. Menurut Lavrov, Turki telah menerima aturan baru upaya anti-terorisme di Suriah. 

Dimana, papar Lavrov Turki telah setuju dengan pendapat jika pasukan yang disebut dengan oposisi moderat tidak meninggalkan kawasan yang dikendalikan oleh teroris, mereka akan dianggap sebagai kaki tangan teroris. Dengan kata lain, mereka akan menjadi target serangan.

"Mereka yang tidak ingin terkena serangan perlu meninggalkan posisi yang dikuasi oleh oleh Jabhat al-Nusra dan ISIS. Jika oposisi patriotik, oposisi konstruktif tetap di wilayah yang dikuasai oleh teroris, akan dianggap kaki tangan terois," kata Lavrov, seperti dilansir Sputnik pada Sabtu (2/7). [yy/sindonews]

Disebut Lakukan Kesalahan di Suriah oleh AS, Rusia Murka

Disebut Lakukan Kesalahan di Suriah oleh AS, Rusia Murka

Pemerintah Rusia angkat bicara mengenai pernyataan yang dibuat oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ashton Carter. Dalam sebuah pernyataan, Carter menyebut Rusia telah melakukan kesalahan di Suriah, dan itulah mengapa AS enggan melakukan kerjasama dengan Rusia di Suriah.
 
Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengaku sangat terkejut sekaligus marah dengan apa yang diutarakan Carter. Kemhan Rusia menyebut Carter telah kehilangan kendali atas dirinya.
 
"Kami terkejut mendengar sesuatu seperti interpretasi lepas dari tujuan dan sifat perjanjian Rusia-AS pada gencatan senjata dan proses perdamaian di Suriah," kata juru bicara Kemhan Risia Mayjen. Igor Konashenkov dalam sebuah pernyataan.
 
"Sejak awal operasi Rusia di Suriah, militer Rusia telah berjuang melawan kelompok teroris internasional yang telah menelan anggota-negara PBB di depan seluruh dunia, termasuk AS," Konashenkov menekankan, seperti dilansir Sputnik pada Sabtu (2/7).
 
Menurut Konashenkov, upaya serupa untuk menghentikan penyebaran terorisme di Suriah oleh koalisi pimpinan AS, yang memiliki lebih banyak sumber daya, peserta, dan waktu, tidak membawa hasil yang signifikan.
 
"Sementara itu, pelanggaran terhadap rezim gencatan senjata di Suriah terus terjadi di daerah di mana kelompok oposisi bersenjata yang didukung oleh AS beroperasi," Konashenkov menambahkan. [yy/sindonews]

 

 

Tags: turki | rusia | suriah