30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Ayah Omar Mateen: Tuhan Menghukum Homoseksual

Fiqhislam.com - Seddique Mateen, ayah dari Omar Mateen, 29, pelaku pembantaian di kelab gay Pulse di Orlando, Amerika Serikat (AS),  mengaku sedih dengan tindakan putranya. Namun, menurutnya, Tuhan menghukum kaum homoseksual.

Melalui video yang diunggah di Facebook pada hari Senin, Seddique menyebut Omar Mateen adalah anak baik dan berpendidikan.

”Saya sangat sedih dan telah mengumumkan ini kepada orang-orang Amerika,” kata Seddique dalam video berdurasi tiga menit berbahasa Dari. Dia terkejut, putranya melakukan penembakan massal saat bulan suci Ramadhan.

”Terserah Tuhan untuk menghukum homoseksual,” ujarnya.

Omar Mateen merupakan pria AS keturunan Afghanistan. Bahkan, ayahnya dalam sebuah tayangan televisi mengaku sebagai pendukung Taliban dan ingin menjadi Presiden Afghanistan.

”Taliban adalah 100 persen Afghanistan,” kata Seddique dalam rekaman tayangan televisi, di mana dia tampil dengan seragam militer.

Namun, para pejabat di Afghanistan berusaha untuk menjauhkan diri dari keluarga Omar Mateen, dengan menyatakan bahwa mereka tidak tahu kapan Seddique meninggalkan Afghanistan dan menetap di AS.

”Semua dapat kita katakan adalah bahwa dia (Mateen) adalah warga negara AS asal Afghanistan. Dia telah tinggal di AS selama beberapa dekade, dan itu semua kita tahu dari media,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Afghanistan kepada AFP, Selasa (14/6/2016) yang berbicara dalam kondisi anonim.

Sementara itu, seorang sumber senior Taliban di perbatasan Afghanistan-Pakistan tidak setuju jika penembakan massal oleh Omar Mateen sebagai perjuangan.

”Saya bahkan tidak menganggap dia berjihad,” kata sumber Taliban tersebut.

Dalam penembakan massal di kelab malam Pulse, sebanyak 49 orang tewas termasuk Omar Mateen. Sebelumnya, kepolisian Orlando menyebut korban tewas mencapai 50 orang namun jumlah korban tewas itu sudah direvisi. [yy/sindonews]

Fiqhislam.com - Seddique Mateen, ayah dari Omar Mateen, 29, pelaku pembantaian di kelab gay Pulse di Orlando, Amerika Serikat (AS),  mengaku sedih dengan tindakan putranya. Namun, menurutnya, Tuhan menghukum kaum homoseksual.

Melalui video yang diunggah di Facebook pada hari Senin, Seddique menyebut Omar Mateen adalah anak baik dan berpendidikan.

”Saya sangat sedih dan telah mengumumkan ini kepada orang-orang Amerika,” kata Seddique dalam video berdurasi tiga menit berbahasa Dari. Dia terkejut, putranya melakukan penembakan massal saat bulan suci Ramadhan.

”Terserah Tuhan untuk menghukum homoseksual,” ujarnya.

Omar Mateen merupakan pria AS keturunan Afghanistan. Bahkan, ayahnya dalam sebuah tayangan televisi mengaku sebagai pendukung Taliban dan ingin menjadi Presiden Afghanistan.

”Taliban adalah 100 persen Afghanistan,” kata Seddique dalam rekaman tayangan televisi, di mana dia tampil dengan seragam militer.

Namun, para pejabat di Afghanistan berusaha untuk menjauhkan diri dari keluarga Omar Mateen, dengan menyatakan bahwa mereka tidak tahu kapan Seddique meninggalkan Afghanistan dan menetap di AS.

”Semua dapat kita katakan adalah bahwa dia (Mateen) adalah warga negara AS asal Afghanistan. Dia telah tinggal di AS selama beberapa dekade, dan itu semua kita tahu dari media,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Afghanistan kepada AFP, Selasa (14/6/2016) yang berbicara dalam kondisi anonim.

Sementara itu, seorang sumber senior Taliban di perbatasan Afghanistan-Pakistan tidak setuju jika penembakan massal oleh Omar Mateen sebagai perjuangan.

”Saya bahkan tidak menganggap dia berjihad,” kata sumber Taliban tersebut.

Dalam penembakan massal di kelab malam Pulse, sebanyak 49 orang tewas termasuk Omar Mateen. Sebelumnya, kepolisian Orlando menyebut korban tewas mencapai 50 orang namun jumlah korban tewas itu sudah direvisi. [yy/sindonews]

Omar Mateen Kunjungi Kelab Gay Belasan Kali sebelum Beraksi

Omar Mateen Kunjungi Kelab Gay Belasan Kali sebelum Beraksi

Seorang saksi mata bernama Ty Smith, mengatakan bahwa Omar Mateen, 29, telah mengunjungi kelab malam gay di Orlando, Amerika Serikat (AS), belasan kali sebelum dia melakukan penembakan massal.

Penembakan di klub malam Pulse itu menewaskan 49 orang, termasuk Omar Mateen, pria AS keturunan Afghanistan. 

Smith memberikan kesaksian itu kepada Orlando Sentinel.  ”Kadang-kadang dia pergi di pojok, duduk dan minum sendiri, dan lain-lain, sesekali dia mabuk yang membuat dia jadi keras dan garang,” katanya.

"Kami tidak benar-benar berbicara banyak dengan dia, tapi saya ingat dia mengatakan hal-hal tentang ayahnya,” ujar Smith. ”Dia bilang dia punya istri dan anak,” lanjut Smith, yang dikutip IB Times, Selasa (14/6/2016).

Laman Mail Online melaporkan bahwa dua hari sebelum pembantaian, Omar Mateen melanjutkan latihan menembak di alam liar.

Sebelumnya, korban selamat dalam aksi penembakan massal di kelab malam Pulse, Norman, mengatakan bahwa Omar Mateen mengumbar tembakan di kamar mandi di kelab tersebut sambil tertawa.

Norman selamat dengan empat luka tembak di punggungnya. Dia meloloskan diri dengan merangkak di atas tubuh teman-temannya yang sudah tewas.

Menurut Norman, ada sekitar 30 orang yang ditembak mati di kamar mandi. Kesaksian Norman ini diceritakan kepada Deyni Ventura, seorang pendeta lokal.
 
”Dia (Omar Mateen) tertawa fanatik karena dia memberondong orang dengan pistol,” kata Ventura menirukan kesaksian Norman. ”Dia (tertawa) 'ha, ha, ha' saat ia menembaki mereka,” lanjut cerita Norman.

“Dia (Norman) selamat. Dia berada di bilik kamar mandi dengan 30 orang lain. Mereka, 30 orang lainnya sudah meninggal,” kata pendeta perempuan ini. [yy/sindonews]

FBI: Omar Mateen Adalah Simpatisan ISIS dan Al-Qaeda

FBI: Omar Mateen Adalah Simpatisan ISIS dan Al-Qaeda

Direktur FBI James Comey menuturkan, pelaku pembantaian Orlando, Omar Mateen merupakan simpatisan sejumlah kelompok teror internasional. Mateen sejauh ini diketahui telah menyatakan dukungannya pada ISIS dan juga al-Qaeda.

"Tersangka, yang diidentifikasi sebagai Omar Mateen, tidak hanya menyatakan janji setia kepada ISIS, tetapi juga menyatakan solidaritas dengan saudara-saudara Tsarnaev yang melakukan pengeboman marathon di Boston dan seorang pembom bunuh diri yang meninggal atas nama al-Nusra, kelompok yang bertentangan dengan ISIS," kata Comey.

"Mateen memiliki tanda-tanda yang kuat dari radikalisasi dalam beberapa tahun terakhir juga menyatakan dukungan untuk al-Qaeda dan Hizbullah," sambungnya, seperti dilansir Al Jazeera pada Selasa (14/6).

Namun, Comey menuturkan sikap Mateen ini sejatinya sedikit membingungkan. Pasalnya, kelompok-kelompok yang dia dukung saling bersitegang, al-Nusra dan ISIS saling bertarung di Suriah, begitu pula dengan Hizbullah.

Sebelumnya, Kepala FBI Orlando, Ron Hopper mengatakan sejak 2013 Mateen kerap diperiksa oleh FBI karena beberapa alasan. Hopper mengatakan, pihaknya pertama kali memeriksa Mateen pada pertengahan 2013 lalu. Kala itu Mateen diperiksa karena membuat sebuah komentar inflamasi kepada teman kerjanya, yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok teror

Pada tahun 2014, lanjut Hooer, pihak berwenang kembali menginterogasi Mateen karena diduga memiliki hubungan dengan seorang bomber asal Amerika, Moner Mohammad Abusalha, yang muncul dalam sebuah video yang dirilis oleh al-Nusra.

"FBI kemudian melihat bahwa kontak Mateen dengan Abusalha sangat minim dan bukan merupakan hubungan substantif atau ancaman pada waktu itu. Karena temuan-temuan tidak meyakinkan, penyelidikan atas Mateen akhirnya ditutup," kata Hopper. [yy/sindonews]

Rusia Sebut Pembantaian Orlando sebagai Kegagalan Intelijen AS

Rusia Sebut Pembantaian Orlando sebagai Kegagalan Intelijen AS

Parlemen Rendah Rusia menyebut pembantaian yang terjadi di Orlando adalah bukti kegagalan dari sistem intelijen Amerika Serikat (AS). Setidaknya 50 orang tewas dalam pembantaian yang terjadi kemarin lusa tersebut.

Juru bicara Parlemen Rendah Rusia, Sergei Naryshkin mengatakan, intelijen AS telah benar-benar gagal mengambil tindakan pencegahan. Naryshkin menyatakan, yang kian membuat miris adalah ketika diketahui bahwa FBI sudah beberapa kali memeriksa pelaku penembakan.

"Tentu saja, ini adalah kesalahan besar dari badan-badan intelijen AS. Mereka mengakui bahwa pelaku telah diperiksa pada tiga kesempatan yang berbeda," ucap Naryshkin pada Selasa (14/5).

Pernyataan Naryshkin ini merujuk pada pengakuan Kepala FBI Orlando, Ron Hopper. Dimana Hopper mengatakan sejak 2013 pelaku penemnakan, yakni Omar Mateen kerap diperiksa oleh FBI karena beberapa alasan. 

Hopper menuturkan, pihaknya pertama kali memeriksa Mateen pada pertengahan 2013 lalu. Kala itu Mateen diperiksa karena membuat sebuah komentar inflamasi kepada teman kerjanya, yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok teror

Pada tahun 2014, lanjut Hooer, pihak berwenang kembali menginterogasi Mateen karena diduga memiliki hubungan dengan seorang bomber asal Amerika, Moner Mohammad Abusalha, yang muncul dalam sebuah video yang dirilis oleh al-Nusra. Namun, karena kurang bukti, semua penyelidikan yang terkait dengan Mateen akhirnya ditutup. [yy/sindonews]

 

Tags: mateen | orlando | gay