30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Aksi Teroris Rusia dan Inggris di Prancis

Aksi Teroris Rusia dan Inggris di PrancisFiqhislam.com - Sesuatu yang dikhawatirkan akhirnya terjadi di Piala Eropa 2016. Kekerasan berdarah pecah di Kota Marseille sebelum dan setelah laga yang mempertemukan Inggris melawan Rusia, Ahad (12/6).

Suasana kota pelabuhan itu pun berubah bak medan perang. Bunyi sirine tak henti menggema di segala penjuru kota. Di wilayah Kota Tua Marseille, tampak sejumlah bar luluh lantak. Kursi berserakan ke tengah jalan. Sedangkan dua kelompok besar pendukung saling baku hantam.

Situasi mencekam terjadi hingga ke dalam stadion di Stade Velodrome. Usai laga yang berakhir 1-1 itu, pendukung Rusia menyerang sektor stadion yang dipenuhi fan Inggris.

Akibatnya, pendukung Inggris yang panik berlarian masuk ke sisi lapangan. Hingga nyaris 24 jam, Kota Marseille dilanda teror yang disebar oleh oknum suporter.

Pihak kepolisian Prancis mencatat 10 suporter jadi korban luka akibat bentrok berdarah di Marseille. Satu suporter Inggris dalam keadaan kritis.

Apa yang terjadi di Marseille sekaligus membuktikan kekhawatiran soal isu keamanan pada Piala Eropa 2016 ini benar adanya. Sejak awal ternamen ini dipersiapkan, kekhawatiran terbesar adalah aksi dari kelompok teroris.

Namun, apa yang dilakukan kelompok suporter itu pun juga bentuk teror. Sebab, aksi suporter itu telah menimbulkan ketakutan maupun jatuhnya korban.

Sejatinya, bentrok antara pendukung Inggris dan Rusia sudah bisa diprediksi akan terjadi sejak awal. Hal ini tak terlepas dari riwayat buruk kedua belah pihak fan.

Rasanya, keributan sudah bukan barang langka bagi fan Inggris. Setiap ada hajatan besar sepak bola, fan Inggris yang dikenal dengan sebutan Hooligan memang kerap membuat ulah.

Mari kita membuka lembaran sejarah untuk membedah kultur kekerasan suporter Inggris ini. Sejak 1970, sejumlah kelompok suporter klub-klub Inggris sudah membentuk faksi garis keras.

Suporter Arsenal misalnya, yang membentuk kelompok The Herd, Chelsea punya kelompok 'Pemburu Kepala', sedangkan fan MU punya Red Army.

Terbentuknya faksi garis geras suporter ini meningkatkan eskalasi kekerasan di kompetisi sepak bola Inggris pada tahun 1980-an. Kala itu, perkelahian yang menimbulkan korban jiwa jamak terjadi.

Puncaknya adalah, kala Liverpool tampil di final Piala Champions 29 Mei 1985 melawan Juventus. Aksi suporter Liverpool menyerang pendukung Juventus di Stadion Heysel Belgia, menyebabkan jatuhnya 39 korban jiwa.

Akibat aksi Hooligan di Heysel itu, sepak bola Inggris diasingkan dari pentas Eropa selama lima tahun lamanya. Hukuman lima tahun dari UEFA nyatanya tak membuat prilaku hooligan mereda.

Sejak 1990-an, perilaku kekerasan pendukung Inggris selalu mewarnai kejuaraan seperti Piala Dunia atau Piala Eropa. Sebab, setiap hajatan antarnegara itu, setiap faksi garis keras di level klub beraliansi jadi satu. Tak ada lagi istilah Red Army atau The Herd saat the Three Lions tampil. Yang ada hanya satu istilah, yakni Hooligan.

Hooligan punya doktrin kekerasan. Setiap ada fan lawan maka hukumnya adalah perkelahian. Sejatinya, Kota Marseille sudah punya pengalaman dengan Hooligan Inggris pada Piala Dunia 1998.

Saat itu, Hooligan Inggris membuat kota pelabuhan itu dilanda kerusuhan menjelang laga pembuka Inggris melawan Tunisia. Kini, 18 tahun berlalu, kerusuhan yang sama terjadi di kota yang sama dengan aktor yang sama pula.

Namun kini, yang Inggris lawan di Marseille sudah bukan lagi Tunisia, melainkan Rusia. Negara yang juga punya riwayat kekerasan pada kelompok suporter sepak bolanya.

Jika Inggris memiliki Hooligan, maka Rusia punya Ultras. Yang melatarbelakangi terbentuknya Ultras Rusia ini pun sama dengan Inggris. Akarnya dengan pembentukan faksi suporter garis keras di tataran klub Liga Rusia.

Ada dua Ultras terbesar Rusia yang selama ini berseteru. Mereka adalah Ultras dua klub asal Kota Moskow, CSKA dan Spartak. Terbentuknya kelompok Ultras pun tak sekadar urusan sepak bola, melainkan ada faktor ideologi yang melatarbelakangi.

Sebab, Ultras ini punya semangat ideologi politik sayap kanan yang memuja fasisme. Bagi mereka, yang terbesar hanyalah Rusia dengan ras Slavianya. Selain dari Rusia dengan ras Slavia, para kelompok Ultras ini tak segan untuk menyerang secara verbal maupun fisik.

Hal ini sempat terjadi pada Liga Champions 2013 saat CSKA Moskow menjamu Manchester City. Saat itu, fan CSKA menyerang gelandang City, Yaya Toure, dengan kata-kata bernada rasisme. Akibatnya, CSKA sempat disanksi larangan bermain tanpa penonton di Liga Champions.

Segala sanksi nyatanya juga tak membatasi perilaku banal Ultras Rusia. Ini sama halnya ulah Hooligan yang tak jera meski disanksi UEFA pada 1990.

Akhirnya, dua kutub suporter ini pun saling bergesekan di Marseille pada Ahad (12/6). Pecahnya kekerasan ini menjadi cela bagi Prancis maupun UEFA.

Saat penyelenggara Piala Eropa ini mengkhawatirkan aksi kelompok Islam atau imigran, nyatanya yang membuat teror malah kelompok dari negara peserta. Memang, semut di seberang lautan kadang lebih terlihat dibanding dua gajah di Kota Marseille. [yy/Abdullah Sammy/republika]

 

Tags: inggris | rusia | teror