23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Obama Khawatir pada Trump

Obama Khawatir pada TrumpFiqhislam.com - Presiden Amerika Serikat Barack Obama meminta media massa AS, untuk mulai serius memberitakan pebisnis New York itu, ketimbang menganggapnya sebagai hiburan semata.

Menurutnya, sebagai pengawas, pers AS memiliki peran penting dalam menggali semua keburukan Trump.

Pernyataan Obama ini, secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa Trump tidak layak berada di Gedung Putih pada tahun depan.

“Saya hanya ingin menekankan bahwa kita sudah sampai pada titik, di mana kita harus serius, utamanya dalam melakukan pekerjaan. Ini (pemilu presiden) bukan acara hiburan dan bukan juga ajang reality show. Ini adalah kontes politik penentuan nasib Amerika Serikat di masa depan,” kata Obama, seperti dikutip dari situs Independent, Sabtu 7 Mei 2016.

Ia juga meminta awak media untuk menganalisa dan memuat ulang pernyataan-pernyataan Trump pada kampanye sebelumnya.

Tujuannya untuk mengolaborasi pendapat yang dilontarkannya dahulu, apakah relevan dengan jargon kampanyenya akhir-akhir ini.

Pada kesempatan yang sama, pria berdarah Kenya itu mengkritisi kebijakan luar negeri Trump sebagai ungkapan yang dapat memicu perang dan berpotensi merusak hubungan AS dengan negara-negara di dunia, serta mengganggu sistem keuangan negeri adidaya.

“Sangat penting bagi kita untuk menganggap serius semua ucapan dia (Trump) di masa lalu. Setiap kandidat wajib dituntut pandang-pandangannya dan diperiksa secara seksama. Termasuk, soal keuangannya. Jika mereka menolak, hal itu harus diberitakan dan rakyat AS wajib mengetahuinya,” tutur Obama.

Maksud Hati Tarik Simpati, Trump Justru Dicemooh

Bakal kandidat kuat calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, tengah menikmati semangkuk taco saat perayaan Hari Kemerdekaan Meksiko, Cinco de Mayo, untuk menarik pemilih Hispanik (warga keturunan Latin).

Menurut situs Independent, Sabtu 7 Mei 2016, miliarder New York itu memutuskan "merayakan" kemerdekaan Meksiko, dengan caranya sendiri yang dianggap aneh oleh kalangan Hispanik.

Berpose senyum dengan mangkuk taco yang dipesan dari sebuah kafe di dalam Menara Trump di New York, Trump menulis dalam twitter-nya, "Saya suka Hispanik"!

Terlihat, taco yang disajikan berbentuk seperti mangkuk ini bernama "Taco Fiesta". Isinya berupa daging sapi, jalapeños, tomat, dan rempah-rempah seperti cabai.

Trump menuliskan juga harga taco ini senilai US$13,50 (sekitar Rp179 ribu), atau sedikit lebih tinggi dari upah minimum kerja pekerja New York tahun ini.

Sontak, netizen mencemooh Trump di Twitter, yang berujung rentetan lelucon terhadap dirinya.

Melihat "kelakuan" Trump ini, hasil jajak pendapat Gallup baru-baru ini menyebutkan mayoritas pemilih Latin, atau sebesar 77 persen menilai Trump tetap tidak memiliki niat baik terhadap mereka.

Sementara itu, jajak pendapat dari Washington Post, mengatakan bahwa 80 persen warga Latin AS memiliki pandangan yang sama soal pandangannya terhadap taipan New York itu.

Sebelumnya, Trump meluncurkan kampanye dengan menjuluki warga Meksiko sebagai pelaku krimininal, seperti pemerkosa dan perampok.

Ia pun berjanji akan membangun dinding pemisah di perbatasan selatan AS untuk menghadang warga Meksiko.

"Saya akan deportasi mereka (warga Meksiko) jika masuk AS, tetapi tidak membayar. Tidak diragukan lagi," ungkap Trump.

Cinco de Mayo merupakan hari peringatan Pertempuran Puebla pada 1862 antara pasukan Meksiko dengan pasukan Prancis.

Kemenangan Meksiko atas Puebla ini dianggap sebagai kemenangan melawan intervensi asing.

Hillary Imbau Pemilih Tak Biarkan Trump Menang

Bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, mengimbau pemilih keturunan Amerika-Afrika tidak memilih Donald Trump sebagai Presiden AS berikutnya karena dinilai akan merusak hubungan AS dengan negara-negara Afrika yang terjalin baik di era Presiden Barack Obama.

Berbicara di hadapan ribuan orang di Detroit, Hillary menunjukkan peran dan sikap Trump yang berbahaya seperti mempertanyakan status kewarganegaraan Obama dan penolakannya terhadap supremasi kulit hitam.

"Kita tidak bisa membiarkan warisan Barack Obama jatuh ke tangan Donald Trump," kata Clinton, menegaskan, seperti dilansir dari situs Alarabiya, Selasa, 3 Mei 2016.

Mantan ibu negara (first lady), senator dan menteri luar negeri ini juga mengungkapkan kepada masyarakat untuk tidak membahayakan diri dan mempertaruhakan suaranya dengan janji, potensi, dan impian negara AS dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang memiliki suara-suara kebencian.

"Menyatukan negara lebih penting dari berakhirnya kepemimpinan Obama tahun depan," ungkap Clinton.

Sebelumnya, Trump menyatakan Hillary tidak akan berhasil dalam pemilu nanti. "Dia kandidat yang cacat. Dia tidak akan berhasil di pemilu dan tak sabar menunggu untuk pertunjukan itu," ujar Trump.

Ia mengungkapkan, istri Bill Clinton tersebut memiliki pertimbangan yang buruk. Dia juga menyebut Clinton memainkan kartu 'wanita" untuk bisa terpilih sebagai Presiden.

"Ini sungguh tidak seksi. Hanya pernyataan yang sungguh-sungguh. Jika dia pria, dia hanya akan mendapat lima persen. Wanita tidak menyukai Hillary dan saya sangat tahu wanita," ungkapnya percaya diri.

6 Alasan Pipres AS Tahun Ini Cetak Sejarah

Donald Trump semakin dekat dengan nominasi Partai Republik dalam pemilihan calon Presiden Amerika Serikat. Sementara itu, Hillary Clinton dan Bernie Sanders masih harus berjuang hingga akhir, setelah Sanders memenangkan suara di Negara Bagian Indiana.

Menurut situs BBC, Kamis 5 Mei 2016, ada hal menarik dari pemilihan presiden (pilpres) AS pada tahun ini. Apa pun yang terjadi, hasilnya akan mencetak bersejarah bagi negeri Paman Sam. Apa saja?

*) Presiden berusia senja

Ketika Barack Obama untuk pertama kali terpilih menjadi Presiden AS pada 20 Januari 2009, saat itu dirinya berusia 47 tahun. Ia adalah Presiden AS kelima termuda dalam sejarah. Theodore Roosevelt adalah presiden termuda dengan usia 42 tahun 322 hari.

Tahun ini, ketiga bakal calon Presiden AS rata-rata usianya di atas 65 tahun. Artinya, mereka telah memasuki usia senja. Bernie Sanders akan berusia 75 tahun, jika ia terpilih menjadi Presiden AS pada 20 Januari 2017.

Lebih tua enam tahun dari Presiden AS sebelumnya, yang mencetak rekor menjadi presiden tertua, Ronald Reagan. Lalu,

Donald Trump. Jika terpilih, ia akan berusia 71 tahun yang ulang tahunnya jatuh pada 14 Juni.

Sementara itu, satu-satunya kandidat Presiden AS wanita, Hillary Clinton, akan berusia 70 tahun jika terpilih menjadi "penghuni" berikutnya Gedung Putih.

*) "Orang" New York diunggulkan

Trump bakal berhadapan dengan Hillary. Jika benar skenario ini terjadi, akan menjadi "pertarungan" calon presiden pertama sesama warga New York, sejak 1944, di mana saat itu Gubernur New York, Thomas E. Dewey melawan presiden petahana, Franklin Delano Roosevelt.

Seperti diketahui, Trump memang asli New York. Tak heran, jika ia menang besar dalam pemilihan pendahuluan (primary) beberapa waktu lalu. Sedangkan Hillary, meski lahir di Chicago, Illinois, namun ia menjadi senator dari daerah pemilihan New York.

Jadi, siapa pun yang menang kali ini, maka menjadi kemenangan warga New York, atau sebutannya New Yorker, setelah 72 tahun silam.

*) Uang berbicara

Jika Trump berhasil menang, ia salah satu tokoh yang sedikit mengeluarkan uang untuk kampanye pilpres AS.

Berdasarkan laporan Komisi Pemilihan Umum Federal AS, Trump menghabiskan US$49 juta, sampai dengan akhir Maret 2016, di mana sebesar US$36 juta berasal dari kocek pribadinya.

Tentu saja, Trump harus mengeluarkan buku cek, mengingat ia memiliki jadwal kampanye lebih banyak hingga November 2016.

Meski begitu, tampaknya uang yang dikeluarkan Trump tidak akan sebesar Obama yang telah menghabiskan dana kampanyenya pada putaran terakhir sebesar US$556 juta.

Sementara itu, pada 2000, Albert Arnold Gore Junior, atau biasa disapa Al Gore, telah membuang uangnya sebesar US$126 juta, kala melamar menjadi calon Presiden AS, namun kalah dari George Walker Bush.

Sedangkan, Hillary Clinton hingga saat ini sudah menggelontorkan dananya hingga US$187 juta.

*) Pengalaman nonpolitik

Trump bukanlah politikus murni. Ia adalah seorang pebisnis.

Kalau terplilih, maka Trump akan menjadi orang ketiga setelah Herbert Hoover dan Dwight D. Eisenhower, yang tidak memiliki pengalaman politik, baik sebagai gubernur negara bagian atau senator.

Eisenhower adalah Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu di Perang Dunia II, sebelum ia terpilih menjadi Presiden AS pada 1953.

Sementara itu, Herbert Hoover, Presiden AS Periode 1929-1933, sebelumnya adalah seorang insinyur dan aktivis kemanusiaan.

*) Wanita pertama yang memimpin AS

Hillary Clinton memiliki pengalaman yang panjang berada di lingkaran Washington DC. Tahun ini, mungkin saja, tahun keberuntungannya jika terpilih menjadi Presiden AS, ia adalah wanita pertama yang memimpin negara berpenduduk terbesar keempat dunia.

Sebelumnya, sosok wanita yang mencoba berjuang menuju Gedung Putih adalah Sarah Palin, calon Wakil Presiden AS dari Partai Republik yang juga Gubernur Alaska, tandem Senator John McCain, pada 2008.

Lalu, dari Partai Demokrat calon Presiden Walter Mondale menggaet Geraldine Ferraro sebagai Wakil Presiden AS pada 1984, namun kalah dari Ronald Reagan.

*) Tongkat estafet Partai Demokrat?

Jika Hillary, atau Sanders terpilih, akan menjadi sejarah bagi Partai Demokrat. Sebab, Obama akan "memberikan estafet" kepemimpinannya ke kadernya sendiri.

Dengan demikian, kebijakan pemerintah sebelumnya kemungkinan besar tidak akan berubah. Sebelumnya, Harry S. Truman dan Lyndon B. Johnson, berhasil menjadi presiden setelah presiden sebelumnya meninggal dunia. Keduanya merupakan wakil presiden yang berasal dari Partai Demokrat.

Namun, keinginan agar Clinton menang sepertinya akan dipilih Partai Demokrat. [yy/viva]