2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Hamas, Mesir, Israel Sepakat Halau Laju Tentara ISIS

Hamas, Mesir, Israel Sepakat Halau Laju Tentara ISISFiqhislam.com - Mesir, Israel dan Hamas tampaknya sepakat untuk mencegah gerak laju militan Islamic State (IS) menjarah lebih jauh.

Seperti dikutip The Washington Post edisi Senin (2/5/2016) mengungkapkan Hamas mengirim ratusan pejuangnya untuk berperang di sepanjang perbatasan Gaza. Langkah ini dilakukan sebagai bagian kesepakatan Hamas dengan Mesir untuk mencegah ISIS memasuki wilayah Mesir dan Gaza.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik keputusan membangun beton-beton pemisah sepanjang perbatasan Israel dan Mesir.

"Beton pemisah itu untuk mencegah gelombang ribuan gerilyawan ISIS dari Sinai," bunyi laporan The Washington Post.

Afiliasi kelompok bersenjata ISIS/IS yang dikenal dengan Wilayat Sinai berkembang sangat cepat.

Kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pengeboman pesawat charter Rusia dan menewaskan 224 penumpangnya itu, dikabarkan siap melakukan berbagai serangan.

Termasuk serangan terhadap tentara Mesir, dengan mengambil alih pos-pos militer dan melakukan serangan bom bunuh diri.

"Hari ini, tentara thagut Mesir akan diserang oleh pejuang khalifah di seluruh Sinai," bunyi deklarasi IS.

Kelompok militan ini juga akan melakukan serangan terhadap enam sasaran berbeda selama beberapa hari ke depan. Termasuk di antaranya ibukota provinsi al-Arish, utara Cairo, Mesir.

Menurut pejabat militer Israel dan aktivis Mesir, Badan intelijen Mesir susah payah menembus jantung kelompok militan IS itu.

"Mereka memiliki strategi jenius," tutur Mohammad Sabry, wartawan Mesir.

Menurutnya, jika dipelajari peta serangan mereka, "Jelas bisa dilihat bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan, dan mereka memiliki mobilitas tinggi," tutur Sabry wartawan Mesir dan penulis buku pemberontakan Islam di Sinai.

Serangan ISIS Meningkat 44% di seluruh Irak-Suriah

Serangan bersenjata Islamic State atau ISIS meningkat tahun ini, terutama di Irak dan Suriah saat kelompok itu bereaksi atas lepasnya wilayah kekuasaan mereka yang substansial, menurut perusahaan analisis yang bermarkas di Amerika Serikat, IHS, Minggu.

IHS melaporkan, terdapat sekitar 891 serangan yang dilakukan pada kuartal awal 2016 di sejumlah wilayah Irak dan Suriah, naik dari periode tiga bulan lainnya sejak kelompok militan itu mulai bergerak pada pertengahan 2014.

Serangan itu menewaskan 2.150 orang, naik 44 persen dari tiga bulan sebelumnya dan menjadi jumlah korban tewas terbesar dalam kuartal satu tahun terakhir.

"Kelompok itu mengambil jalan kekerasan yang semakin mengarah ke kekacauan massal saat mereka mendapatkan tekanan berat dari segala sisi," ujar Matthew Henman, kepala Pusat Terorisme dan Pemberontakan IHS Jane's, seperti dikutip Reuters.

Militer Amerika Serikat memperkirakan wilayah kekuasaan kelompok bersenjata ISIS di Irak menurun sekitar 40 persen dari jumlah puncak mereka 2014 lalu dan kehilangan 20 persen kekuasaan mereka di Suriah.

Militer Irak menyingkirkan para militan dari kota Ramadi yang terletak di bagian barat empat bulan lalu dan kemudian terus bergerak ke barat mencapai perbatasan Suriah. Pergerakan mereka di bagian utara lebih lambat, dengan pihak militer dan pasukan Sunni Arab hanya berhasil merebut empat desa bulan lalu di bagian selatan Mosul.

Di Suriah, pasukan yang mendukung pemerintah yang didukung oleh serangan udara Rusia telah berhasil merebut kembali wilayah dari ISIS, termasuk kota kuno Palmyra. Kelompok itu juga mendapatkan tekanan dari serangan udara pimpinan Amerika Serikat terpisah di bagian utara dan timur laut, di mana pasukan Kurdi bergerak maju.

Laporan IHS itu juga mencantumkan adanya peningkatan serangan kelompok bersenjata ISIS di Libya, di mana kekuatan para militan meningkat, merebut kota Sirte dan menyerang sejumlah lokasi pengeboran minyak. Analisis menunjukkan adanya serangan dengan jumlah yang hampir sama dengan yang dilakukan dalam tiga bulan awal tahun ini dan enam bulan sebelumnya.

IHS juga mengatakan, ISIS telah meningkat di sekitar kota Sabratha yang terletak di bagian barat laut, yang mereka sebut sebagai wilayah kunci untuk melakukan serangan ke Tunisia yang terletak di dekatnya.

"Serangan terang-terangan yang menyebabkan kekacauan massal merupakan sebuah metode yang telah teruji untuk mengubah cerita dan membelokkan perhatian dari masalah yang mereka hadapi," Ujar Henman. "Ini dilakukan untuk konsumsi internal begitu pula dengan eksternal". [yy/atjehcyber]

 

Tags: Hamas | Mesir | Israel | isis