5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Makedonia Seperti Mesin Kematian

Makedonia Seperti Mesin Kematian

Fiqhislam.com - Hassan Omar membutuhkan waktu empat jam untuk menyeberang ke Makedonia. Kursi rodanya didorong oleh orang asing di seberang jalan berlumpur dari perbatasan Yunani. Tapi, sehari kemudian ia menemukan dirinya kembali di kamp migran kumuh yang telah ia tinggalkan.

Kebanyakan orang berasal dari zona perang di Suriah dan Irak mengalir keluar dari kamp dekat kota Yunani, Idomeni pada Senin (14/3) dan menyeberang ke Makedonia. Namun mereka ditangkap dan dikirim kembali ke kamp.

"Kami terkejut melihat tentara di sana," kata Omar yang melarikan diri dari pertempuran di Irak. Ia menceritakan bagaimana seorang pria membawanya selama berjam-jam dalam perjalanan delapan kilometer menempuh gunung dan melalui lembah.

"Mereka sangat kasar pada kami. Rasanya seperti mesin kematian. Tidak manusiawi berurusan dengan kami," katanya.

Diperkirakan, 1.500 orang meninggalkan kamp pada Senin berusaha untuk menemukan cara melewati pagar berduri kawat yang dibuat Makedonia. Mereka berharap rute tersebut akan membawa mereka ke Jerman dan negara-negara Uni Eropa lainnya.

Seorang pejabat polisi Makedonia mengatakan, sebagian dijemput oleh pasukan keamanan Makedonia, dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali melintasi perbatasan.

Tindakan Makedonia adalah bagian dari kampanye Balkan Barat yang menyatakan menutup sebuah rute migrasi dari Yunani ke Jerman. Rute tersebut digunakan oleh hampir satu juta orang yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Timur Tengah dan Asia selama setahun terakhir.

Otoritas Yunani tidak bisa mengonfirmasi karena tidak adanya kontak resmi dari sisi Makedonis, tetapi mereka yang kembali tiba di kamp menceritakan pengalaman mereka.

Satu orang dari provinsi Suriah utara Raqqa yang bernama Abdo mengatakan, pihak berwenang Makedonia membagi tahanan ke dalam kelompok berisi 25 sampai 50 orang, menempatkannya ke mobil dan menurunkannya di perbatasan.

"Mereka meminta kepada kami untuk berlari, jadi kami mulai berlari," ujarnya.

Pihak berwenang memperkirakan setidaknya 12 ribu orang, termasuk ribuan anak-anak telah terdampar di kamp Idomeni. Kondisi sanitasi di kamp wilayah tersebut memburuk setelah beberapa hari diguyur hujan lebat. Kekhawatiran penyebaran infeksi tumbuh setelah satu orang didiagnosis terkena Hepatitis A.

Tidak jelas mengapa ada begitu banyak pengungsi di perbatasan, Senin (14/3). Namun para pejabat Yunani mengatakan, selebaran yang beredar di kamp Idomeni menunjukkan itu adalah tindakan yang direncanakan.

Warga Suriah Mohammad Kattan (40 tahun) yang berharap bertemu kembali dengan keluarganya di Serbia mengatakan telah menempuh enam jam untuk berangkat ke perbatasan.

"Di usia saya, itu sangat sulit. Harapan saya adalah bisa ke Makedonia sehingga saya bisa melanjutkan ke negara lain," katanya.

Tertunduk dan kelelahan, ia kembali bersama dengan kelompok kedua migran yang berjumlah sekitar 600. Mereka dicegah melintasi perbatasan oleh pasukan keamanan Makedonia.

Mereka mengarungi kembali sungai es setinggi lutut di dekat perbatasan pada Selasa. Beberapa bertelanjang kaki, orang tua membawa anak-anak dan barang-barang di pundak mereka.

Di tepi sungai, pria dan perempuan berdiri di sekitar api untuk mengeringkan kaki dan pakaian mereka. Seorang perempuan menangis, wajahnya dibingkai jilbab merah muda. Sementara yang lainnya menyeret barang-barang mereka di tanah dan menarik anak-anak mereka dalam keranjang buah.

Seorang perempuan Suriah bernama Nasreem menggambarkan bagaimana ia melindungi anak-anaknya semalam dengan kantong plastik dari hujan dan dingin hingga akhirnya tiba di perbatasan.

"Tapi mereka tidak membiarkan kami melintas," katanya. [yy/republika]