30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Uni Eropa dan Amerika Tak Siap Dipimpin Donald Trump

Uni Eropa dan Amerika Tak Siap Dipimpin Donald TrumpFiqhislam.com - Presiden Parlemen Eropa, Martin Schulz, menegaskan Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) keduanya tidak siap menerima kepemimpinan Donald Trump karena kandidat dari Partai Republik itu tidak memiliki pengalaman internasional.

"Trump cocok dengan sebagian orang di sini. Dia selalu memiliki kambing hitam untuk semua isu, tapi tidak pernah memiliki solusi konkret," kata Schulz kepada televisi Perancis, i-Tele, Sabtu waktu setempat atau Minggu (13/3/2016) WIB.

Ia menimpali, "Jujur saja, saya lebih memilih kandidat yang satunya lagi (calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton)."

Schulz yang juga tokoh dari partai Sosial Demokrat Jerman, adalah presiden parlemen yang dipilih langsung Parlemen Eropa. 751 anggotanya memiliki kekuatan untuk menyetujui, mengubah, atau menolak undang-undang yang menentukan nasib 28 negara anggota UE.

Adapun bilioner Donald Trump  adalah kandidat presiden dari Partai Republik AS yang dipersiapkan bertanding di pemilu November 2016. Pernyataan Trump kerap memancing kritik keras, seperti usulannya soal membangun tembok di perbatasan AS dan Meksiko serta larangan Muslim masuk ke AS. [yy/rimanews]

Kampanye Trump Makin Sering Diganggu Demonstran

Seorang juru bicara calon presiden Amerika Serikat (AS) Partai Republik, Donald Trump pada Sabtu waktu setempat (Minggu WIB) membantah laporan media bahwa Trump telah membatalkan reli kampanye di Ohio karena alasan keamanan. 

Situs berita cincinnati.com telah mengutip Eric Deters, juru bicara lokal untuk kampanye Trump, bahwa pihak pengamanan tidak bisa membuat persiapan lengkap dalam waktu singkat untuk mengadakan acara pada hari Minggu di Cincinnati Duke Energy Convention Center. 

Tapi, Hope Hicks selaku juru bicara Trump melalui surat elektronik mengumumkan: "Kami tidak tahu Eric Deters. Belum ada pembatalan," katanya. 

Ohio adalah daerah di antara lima negara menyelenggarakan pemilu pendahuluan pada Selasa pekan depan. 

Sementara itu, kegiatan reli Trump di Chicago dibatalkan pada hari Jumat setelah bentrokan antara pendukung Trump dan pengunjuk rasa. [yy/rimanews]

Aksi Protes yang Membuat Kesal Trump

Wajahnya terlihat menahan amarah. Namun, akhirnya kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump, mengungkap kekesalannya itu. Dia meminta agar pelaku aksi protes ditangkap, Sabtu (12/3). "Saya minta agar mereka ditangkap," ujar Trump kepada pihak kepolisian. "Saya akan mengajukan tuntutan apa pun yang diinginkan. Jika mereka ingin melakukan ini, kami akan dengan tegas menyerukan penangkapan mereka," katanya dengan nada tinggi seperti dilansir CNN.

Trump menyebutkan, penangkapan pelaku aksi protes akan "menghancurkan hidup mereka dengan menorehkan satu penanda yang kuat." "Jika ini terjadi, tidak akan ada lagi aksi protes, teman-teman," ujar Trump.

Kekesalan Trump itu dipicu oleh beragam aksi protes yang belakangan marak mewarnai ajang kampanyenya. Seperti ajang kampanye Trump di Kansas City, Missouri, yang terus diganggu aksi protes. Di awal pidatonya, dia berulang kali diganggu oleh kehadiran puluhan pendemo yang berkumpul di luar areal kampanye. Mereka menyuarakan penolakan terhadap kebijakan dan retorika Trump yang dinilai kerap mengangkat isu rasial serta menyulut ketakutan.

Untuk membubarkan aksi protes, polisi sempat menyemprotkan cairan merica sebanyak dua kali. "Kami harus menggunakan cairan merica dua kali di luar areal kampanye Trump dan menangkap dua orang yang menolak mematuhi hukum," demikian kicauan pihak kepolisian Kansas City.

Belakangan, sempat pula terjadi bentrokan antara kelompok pendukung dan penentang Trump. Ketika para pendukung Trump meninggalkan arena kampanye, para pendemo berteriak, seraya memaki dan menyebutkan mereka sebagai "pendukung rasialis."

Alicia Valeanzela, yang turut meneriaki para pendukung Trump, mengungkapkan keyakinannya bahwa siapa pun yang mendukung Trump berarti mendukung pula kebijakan rasialis dan ideologi xenofobia atau ketakutan terhadap dunia asing di luar mereka. "Dia (Trump) benar-benar berengsek. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan negara kami dengan cara seperti itu," ujar perempuan asli Venezuela itu. "Masyarakat harus tahu bahwa mereka tidak bisa memberikan suara untuk Trump dan Trump tidak bisa menjadi presiden kita."

Aksi protes juga membuat kampanye Trump di Chicago gagal total. Kehadiran ratusan pendemo di University of Illinois, Chicago, membuat rencana kampanye Trump di kawasan tersebut ditunda. Empat orang ditangkap menyusul insiden di Chicago, demikian pernyataan Kepolisian Chicago.

Selain melontarkan kekesalan pada pendemo, Trump juga menuding pendukung Bernie Sanders, senator Vermont yang juga berusaha memperoleh nominasi presiden dari Demokrat, yang menggagalkan kampanye di Chicago.

Tudingan itu terlontar karena banyak audiens yang meneriakkan nama sang senator ketika rencana kampanye itu dibatalkan. "Beberapa (pendemo) mewakili Bernie, teman komunis kami," ujar Trump saat berada di Dayton, Ohio, pada kampanye pertamanya setelah ajang di Chicago ditunda.

Setelah itu Trump juga menyebut pendemo di ajang kampanye di Cleveland adalah "orang-orang Bernie." Tudingan itu juga mencuat ketika ada seorang pendemo yang sempat mengganggu kampanyenya di atas panggung. "Cobalah atur orang-orangmu, Bernie," kata Trump.

Tudingan itu langsung dijawab oleh Sanders. Dia menilai, tidak selayaknya pendukungnya disalahkan atas kegaduhan tersebut. "Saya kira pendukung kami tidak menghasut. Pendukung kami hanya merespons kandidat yang sesungguhnya, dengan berbagai cara, mendukung kekerasan," kata Sanders dalam sebuah konferensi pers di Chicago, Sabtu (12/3). Dia juga menambahkan, "Donald Trump juga menunjukkan pada rakyat Amerika bahwa dia adalah pembohong patologis." [yy/republika]