25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Konflik Suriah Dinilai Sudah Mendekati Akhir

Konflik Suriah Dinilai Sudah Mendekati Akhir

Fiqhislam.com - Konflik yang sudah berlangsung selama lima tahun di Suriah diprediksi sudah mendekati akhir. Prediksi itu disampaikan oleh mantan Wakil Ketua Badan HAM PBB sekaligus Direktur Global Policy Forum, James Paul.

Paul menuturkan, deklarasi bersama Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk mendorong terjadinya gencatan senjata di Suriah, merupakan salah satu pendorong penyelesaikan konflik di negara tersebut, yang selama ini selalu menemui jalan buntu.

"Perang Suriah yang sangat mengerikan mungkin, pada kenyataannya akan memasuki akhir dari permainan. Gencatan senjata yang ditengahi oleh Washington dan Moskow tampaknya akan menjadi salah satu faktor utama," ucap Paul, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (23/2).

Selain peran AS dan Rusia, Paul menyebut peran Kurdi Suriah, yang turut memerangi ISIS dan kelompok lainnya di Suriah juga tidak kalah penting dalam proses perdamaian di negara tersebut.

Namun, menurutnya masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi bila konflik di Suriah ingin benar-benar selesai. Salah satunya adalah meredakan ketegangan di perbatasan Suriah dan Turki, dimana terjadi pertempuran antara Kudi Suriah dan pemerintah Turki.

"Melalui komitmen untuk masa depan yang demokratis dan non-sektarian, Kurdi telah memperkuat kekuatan politik yang bertanggung jawab di negeri tersebut. Mereka yang ingin melihat pemerinatahan otoriter dari rezim Bashar al-Assad dan ingin juga untuk membersihkan negara dari para jihadis sektarian," sambungnya.

"Tapi, serangan artileri Turki baru-baru ini ke pasukan Kurdi di utara Suriah menambah kompleksitas lebih lanjut untuk perang sipil yang sangat kompleks ini, yang melibatkan banyak kekuatan asing dengan kepentingan yang berbeda dan saling bertentangan, menyebabkan begitu banyak kematian dan kehancuran di Suriah," imbuhnya.

Iran: Jangan Sampai Teroris Manfaatkan Gencatan Senjata Suriah

Iran meminta semua pihak untuk mewaspadai gencatan senjata di Suriah, agar jangan sampai dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk memperkuat posisi mereka. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

Zarif mengkhwatirkan, ketika pihak oposisi dan pemerintah Suriah berhenti melakukan kontak senjata, sejumlah kelompok teroris di Suriah akan menggunakan kesempatan itu untuk memperkuat posisi mereka. Kekhawatiran ini muncul karena gencatan senjata itu hanya berlaku untuk oposisi dan pemerintah Suriah, dan tidak pada kelompok teror.

"Gencatan senjata di Suriah tidak berarti memungkinkan Daesh (ISIS), al-Nusra, dan kelompok lainnya yang berafiliasi dengan al-Qaeda untuk melaksanakan kegiatan mereka," kata Zarif dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Iran Front Page pada Senin (22/2).

Zarif juga mengatakan, Iran selalu mendukung upaya gencatan senjata di Suriah. Dirinya menambahkan, bagaimanapun, bahwa rincian dari rencana tersebut harus didiskusikan.

"Iran selalu percaya bahwa krisis di Suriah tidak bisa diselesaikan secara militer. Rencana yang disajikan sejauh, soal isu gencatan senjata, sudah ditekankan Iran, selain pengiriman bantuan kemanusiaan sejak pertemuan negosiasi pertama di Wina," imbuhnya.

Putin: Gencatan Senjata Mampu Balikan Situasi di Suriah

Presiden Rusia Vladimir Putin menyakini gencatan senjata di Suriah akan mampu membalikan situasi di negara tersebut. Gencatan senjata di Suriah rencananya akan dimulai pada tanggal 27 Februari mendatang.

"Saya yakin, aksi bersama yang telah disepakati dengan pihak Amerika akan cukup untuk secara radikal membalikkan keadaan krisis di Suriah," kata Putin dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (23/2).

"Kami akhirnya melihat kesempatan nyata untuk mengakhiri pertumpahan darah dan kekerasan yang sudah lama berlangsung. Sebagai hasil dari gencatan senajata ini, bantuan kemanusiaan untuk semua warga Suriah harus dipermudah," sambungnya.

Pemimpin Negeri Beruang Merah itu berharap gencatan senjata ini akan menciptakan kondisi yang baik, yang bisa digunakan untuk memulai kembali proses perdamaian di Suriah, yang selama ini terus menemui kegagalan.

"Satu hal paling penting adalah penciptaan kondisi untuk meluncurkan proses politik jangka panjang melalui dialog intra-Suriah yang luas di Jenewa, di bawah naungan PBB," imbuhnya.

Seperti diketahui, Rusia dan AS  telah menyepakati pelaksanaan gencatan senjata di Suriah mulai berlaku pada tengah malam 27 Februari 2016. Namun, gencatan senjata tak berlaku bagi ISIS, Al-Nusra dan kelompok teror lain. Artinya, kelompok-kelompok teror itu tetap akan diperangi, meski gencatan senjata dilaksanakan di Suriah. [yy/sindonews]

Bashar al-Assad Umumkan Pemilu Parlemen 13 April

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengumumkan Senin waktu setempat lalu bahwa Pemilu legislatif akan digelar pada 13 April, lapor kantor berita SANA, beberapa saat setelah Washington dan Moscow mengumumkan rencana gencatan senjata di Suriah.

Assad mengeluarkan dekrit yang memasukkan alokasi kursi parlemen untuk setiap provinsi di Suriah yang terakhir menggelar Pemilu parlementer pada Mei 2012.

Itulah pertama kalinya partai-partai berbeda, tidak hanya Partai Baath yang tengah berkuasa-- diperbolehkan ikut Pemilu.

Namun tetap kebanyakan dari total 250 anggota parlemen yang terpilih setiap empat tahun itu berasal dari Partai Baath.

Pada saat bersamaan, Assad menunjuk menteri pertanian Riad Hijab sebagai perdana menteri baru Suriah.

Namun Hijab menyempal dan kini memimpin kelompok oposisi melawan rezim Suriah dari ibu kota Arab Saudi, Riyadh, demikian AFP. [yy/antaranews]