16 Rabiul-Awal 1443  |  Sabtu 23 Oktober 2021

basmalah.png

Valentine Day Picu Seks Bebas

Valentine Day Picu Seks Bebas

Fiqhislam.com - Peringatan Valentine Day, bagi muslim dinilai lebih banyak negatifnya dari pada positifnya.

Artinya, Valentine Day tidak seharusnya dirayakan umat muslim. Sebab, tradisi dari Barat ini dinilai sebagai momen maksiat.

"Valentine day biasanya dirayakan remaja untuk memberikan kasih sayang, padahal belum terjadi ikatan

(nikah). Itu bisa terjadi maksiat hingga seks bebas," kata Ketua Forum Silaturahmi Lembaga Dawah Kampus (FSLDK) Bandung Raya, Agus Mulyana saat berorasi di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Kamis (14/2) sekira pukul 10.00 WIB.

Ratusan mahasiswa menggelar aksi damai menyerukan semua muslimah menutup aurat. Aksi ini

digelar terkait seruan Hari Tutup Aurat Internasional. Selain itu, penutupan aurat untuk meredam hari kasih sayang atau valentine Day yang jatuh setiap 14 Februari.

Agus berpendapat, meskipun Valentine Day hanya dirayakan dengan memberi coklat atau bunga, tetap saja tidak boleh. Karena, dengan begitu justru sudah mendekati hal yang dibenci oleh Allah, mendekati zina dan menghamburkan uang.

Aksi ratusan mahasiswa tersebut, dilanjutkan dengan 'long march' menuju Balai Kota Bandung. Di sepanjang jalan, mahasiswa terus membagikan selebaran Hari Tutup Aurat Internasional dan pin. [yy/republika]

 

Islam dan "Bencana" Valentine’s Day