fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

WALUBI: Indonesia Jadi Pusat Pembelajaran Toleransi

WALUBI: Indonesia Jadi Pusat Pembelajaran Toleransi

Fiqhislam.com - Indonesia bisa menjadi objek untuk pembelajaran toleransi bagi banyak bangsa demikian disampaikan Wakil Sekjen Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Prof. Dr. Philip K. Widjaja.

"Saat ini, terutama negara-negara Barat, banyak sekali yang ingin mempelajari bagaimana Indonesia bisa menjaga toleransi antar umat beragama," kata Philip K. Widjaja, ditemui hidayatullah.com di sela-sela acara Seminar Internasional Dialog Antar Agama yang digagas Kerajaan Arab Saudi di Hotel Ritzi-Carlton, Jakarta, belum lama ini.

Salah satu indikator Indonesia telah menjadi tujuan untuk pembelajaran toleransi, kata Philip, terbukti dari kegiatan interfaith dialogue yang Indonesia gulirkan dapat sambutan di mana mana. Menurut Philip, interfaith dialogue saat ini telah menjadi trend di Eropa dan sebagainya.

Sebelumnya, dalam sambutan perayaan nasional Waisak 2557 BE/ 2013 di Jakarta International Expo Plt Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia Arief Harsono mengatakan, sebagai umat Buddha dirinya merasakan bahwa pemerintah telah memberikan kebebasan dalam menjalankan ajaran agamanya.

"Kami umat Buddha merasakan ketentraman dan kedamaian serta kebebasan menjalankan ajaran agama Buddha," katanya. [yy/
hidayatullah.com]

Budha Indonesia Akui Telah Berkali-kali Surati Yangon

Wakil Sekjen Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Prof. Dr. Philip K. Widjaja, kembali menegaskan umat Budha sangat menolak serta mengutuk kekerasan dominasi Budha di Rohingya, Myanmar, terhadap minoritas Muslim di wilayah tersebut.

"Umat Budha di Indonesia tidak setuju dengan segala macam bentuk kekerasan. Kita sama sekali menyatakan sikap tidak setuju terhadap apa yang terjadi di Rohingya," kata Profesor Philip, ditemui hidayatullah.com di sela-sela acara “Seminar Internasional Dialog Antar Agama yang  digagas Universitas Islam Madinah (UIM) dan Universitas Islam Indonesia (UII) di Hotel Ritz - Carlton Jakarta, (04/06/2013).

Philip mengutarakan, pihaknya tidak menyatakan sikap semata. Umat Budha Indonesia bahkan sudah menyurati para petinggi agama di Myanmar melalui kedutaan besar Indonesia di Yangon. Termasuk pernyataan penolakan juga disampaikan pihaknya ke kantor kedutaan Myanmar di Jakarta.

"Sudah kita sampaikan, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali," tegas Philip.

Selain itu, pihaknya juga berusaha menjelaskan kepada "saudara saudara kami" dari agama lainnya, hingga ke Kementerian Agama RI, bahwa "Apa yang terjadi di Rohingnya bukanlah sesuatu (keyakinan, red) yang kami anut".

"Kami justru sangat keberatan dan mengecam apa yang terjadi di sana," tegasnya lagi.
Sejak awal konflik di wilayah minoritas Muslim tersebut, jelas Philip, pihaknya telah menyatakan kecaman atas kekerasan yang berlangsung di sana.

Kata Philip, sikap umat Budha Indonesia tersebut kembali ditegaskan saat perayaan Hari Raya Waisak di hadapan Persiden SBY sebelum melawat ke Eropa.

Selain itu, menanggapi gelaran dialog peradaban untuk kemanusian dan perdamaian yang digagas Kerajaan Saudi Arabia, Philip mengatakan di masa mendatang diperlukan langkah langkah dialog yang riil yang juga menyentuh sampai ke level grassroots.

"Di situ perlu, kita sebagai tokoh agama, untuk melakukan sesuatu yang riil. Bukan hanya dialog saja, diperlukan untuk melakukan ajakan kepada level level yang lebih bawah yang kita pimpin," ujar Philip.

Misalnya, kata dia, kepedulian secara riil terhadap bencana kemanusiaan yang terjadi. Itu bentuk komunikasi antar society, tandasnya.

Seperti diketahui, Universitas Islam Madinah (UIM) Saudi Arabia bekerjasama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggelar seminar ilmiah internasional di Jakarta yang dinisiatori "Khadimul Haramain" (Pelayan Dua Tanah Suci), Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Selasa, 4 Juni lalu.

Acara ini dihadiri ratusan undangan dari unsur akademisi dan toko agama-agama dari dalam dan luar negeri. [yy/
hidayatullah.com]