fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Pengadilan di India Sebut Hubungan Seksual Sama Dengan Pernikahan

Pengadilan di India Sebut Hubungan Seksual Sama Dengan Pernikahan

Fiqhislam.com - Dalam putusan yang mengubah dasar pernikahan yang sah, sebuah pengadilan India memutuskan bahwa hubungan seksual antara seorang pria dan wanita dapat diasumsikan sebagai pernikahan,  ritual keagamaan dan penyelenggaraan upacara pernikahan dianggap hanya sebagai adat.

"Jika seorang wanita berusia 18 tahun atau lebih memiliki hubungan seksual dengan seorang pria berusia 21 atau lebih, dan selama hubungan tersebut mengakibatkan kehamilan, dia selanjutnya akan diperlakukan sebagai istri," ungkap Hakim CS Karnan dari Pengadilan Tinggi Madras seperti dikutip oleh The New Indian Express pada Selasa, Juni 18., demikian lansir onislam.net.

"Bahkan jika seorang wanita tidak hamil setelah hubungan seksual tersebut, tetapi jika ada bukti yang kuat untuk menunjukkan adanya hubungan tersebut, maka pasangan yang terlibat dalam tindakan tersebut juga akan disebut sebagai istri dan suami."   

Vonis datang sebagai tanggapan atas penuntut yang diajukan oleh seorang wanita Muslim, yang menuntut biaya hidup untuk dirinya sendiri dan dua anak dari suaminya yang pergi.

Menurut penuntut, ia menikah pada tahun 1994 secara Islam dan melahirkan dua anak perempuan pada tahun 1996 dan 1999. Setelah melahirkan anak kedua, dia ditinggalkan oleh suami, yang menolak untuk membiayai kehidupannya.  

Mengajukan tuntutan ke Pengadilan Keluarga di Coimbatore untuk mencari pengharapan, pengadilan memutuskan bahwa dua anak yang sah dan perempuan itu berhak untuk 500 rupee per bulan masing-masing sebagai pemeliharaan.

Namun, pengadilan tingkat kota mengatakan bahwa penuntut, yang tidak bisa menghasilkan dokumen yang sah secara hukum dari pernikahannya, dianggap bukan istri sah karena pernikahan itu tidak terdaftar.

Karnan mengatakan bahwa pernikahan itu tetap berlaku karena keduanya hidup seperti suami dan istri di bawah satu atap, serta menghasilkan dua anak.

"Hubungan tidak sah tidak muncul dalam kasus ini," katanya.

Penyelenggaraan upacara Pernikahan hanya hak sebagai adat dan kewajiban, tetapi bukan perintah, kata hakim.

"Oleh karena itu, formalitas pernikahan biasa seperti ikatan bunga (dalam tradisi India), pertukaran karangan bunga, bertukar cincin dan berputar-putar di sekitar  api pernikahan atau mendaftar di kantor pendaftaran, harus mematuhi kebiasaan agama tertentu dan untuk kepuasan masyarakat."

Hakim berpendapat bahwa karena hubungan seksual mereka, mereka mencapai tingkat suami dan istri.

"Oleh karena itu, anak yang lahir dari mereka adalah anak-anak yang sah." [yy/
muslimdaily.net]