13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Di Negara Ini, Gay Adalah Kejahatan

Di Negara Ini, Gay Adalah Kejahatan

Fiqhislam.com - India kini tengah diguncang oleh aksi massa yang menuntut perlindungan hukum bagi kaum homoseks. Massa turun ke jalan menuntut persamaan hak mereka di mata hukum.

Kondisi serupa juga terjadi di banyak negara yang menerapkan undang-undang anti-gay. Dengan undang-undang itu, praktik homoseksual dikategorikan sebagai pelanggaran hukum. Setiap pelanggaran terhadap ketentuan itu bisa dikenai berbagai macam hukuman. Termasuk penjara hingga seumur hidup.

Tercatat 82 negara di dunia yang menganggap homoseksual merupakan tindakan ilegal. Jika Indonesia dimasukkan, maka jumlanya mencapai 83. Menurut situs Erasing 76 Crimes, Indonesia dikecualikan, karena hanya melarang praktik itu di dua provinsi, yakni Naggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Selatan. Dari 83 negara itu, sebanyak 76 di antaranya menggolongkan homoseksual sebagai tindakan kriminal.

Saat ini setidaknya, terdapat tiga negara yang tengah memanas akibat undang-undang anti-gay.

India

Pada 11 Desember 2013, Mahkamah Agung India menguatkan undang-undang yang dibuat pada masa kolonial Inggris, yakni undang-undang yang menghukum praktik homoseksual. Praktik gay, lesbian, dan sejenisnya bisa dikenai hukuman penjara hingga 10 tahun.

Undang-undang era kolonial yang telah berusia 153 tahun itu sempat dibekukan oleh Pengadilan Tinggi Delhi pada 2009 sekaligus membebaskan perbuatan homoseksual. Pengadilan tinggi ini menyatakan perbuatan homoseksual antarorang dewasa seharusnya tidak dianggap sebagai kejahatan.

Namun, Mahkamah Agung menggugurkan keputusan Pengadilan Tinggi itu dan tetap melarang perbuatan homoseksual. Keputusan Mahkamah Agung ini ditentang oleh pemerintah yang memintanya untuk mengkaji ulang keputusan itu dengan alasan melanggar prinsip-prinsip persamaan hak.

Rusia

Pada Juni, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani undang-undang anti-gay, termasuk di antaranya melarang “propaganda” gay. Keputusan pemerintah ini dinilai terlalu berat karena menggolongkan bentuk aksi dukungan terhadap gay sebagai tindakan yang melanggar hukum. Putin juga melarang pasangan sesama jenis untuk mengadopsi anak-anak Rusia.

Undang-undang ini menegaskan Rusia sebagai negara yang kokoh mempertahankan budaya lama yang melarang homoseksualitas. Pemerintah Rusia akan menindak tegas penyebaran informasi dan tindakan apapun yang berkaitan dengan gay, mengkriminalisasikannya.

Pelanggar undang-undang ini bisa dikenai denda US$ 168.87 atau sekitar Rp 1,7 juta, jika mereka merupakan warga negara biasa. Sedangkan untuk pejabat negara yang melanggarnya, mereka akan dikenai denda US$ 6.250 atau sekitar Rp 62 juta.

Sanksi juga berlaku bagi warga negara asing yang mempraktikan homoseksualitas. Namun, mereka tidak dikenai denda, melainkan penjara 15 hari dan kemudian dideportasi. Organisasi yang melanggar aturan itu juga dikenai sanksi denda, sebesar 1 juta rubel atau sekitar Rp 303 juta dan dilarang beraktivitas selama 90 hari.

Uganda

Setelah setahun berlarut dalam kontroversi, parlemen Uganda, Jumat (20/12/2013), akhirnya mengesahkan rancangan undang-undang yang menghukum praktik homeseksual. Yakni, dengan hukuman kurungan penjara, bahkan hingga penjara seumur hidup.

Rancangan undang-undang ini lebih lunak dibandingkan yang diusulkan pada 2009, yang mengusulkan hukuman mati untuk pelaku homoseksual. Saat ini, Uganda menerapkan hukuman penjara hingga 14 tahun bagi pelaku homoseksual.

Penerapan undang-undang yang dianggap melanggar hak asasi manusia ini mengundang kecaman dari berbagai negara, terutama dari negara donor. Beberapa negara di Eropa mengancam akan menghentikan bantuan untuk negara ini yang nilainya mencapai jutaan dolar.

yy/inilah.com