fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Ritual, Politik dan Kekuasaan

Ritual, Politik dan Kekuasaan

Fiqhislam.com - Menurut Ritual, Politics and Power (Kertzer, 1988), ritual memiliki peran yang sangat penting dalama kehidupan sosial dan politik semua bangsa. Kertzer mendefinisikan ritual dengan sangat sederhana: sebuah perilaku simbolis yang memiliki standar baku dan dilaksanakan berulang oleh masyarakat. 

Ritual dapat bersifat keagamaan maupun sekuler. Terlepas dari sifatnya ini, ritual memiliki peran untuk menunjukkan kebenaran sebuah tata masyarakat. Masyarakat ini ada bukan karena kebetulan sejarah, namun karena ada makna kosmologis yang melahirkannya. Ini penting, karena hakikatnya, setiap manusia membutuhkan sebuah misi suci dalam kehidupan, dan manusia berharap masyarakat tempat ia berada akan menjadi wadah perwujudan misi suci tersebut. Melalui ritual lah manusia "diingatkan" akan misi suci masyarakat mereka dan digelorakan kembali semangatnya untuk berkontribusi dalam masyarakat.

Ritual menanamkan pada manusia suatu cara pandang terhadap dunia (worldview) dan melalui worldview ini, seseorang mendapatkan perannya dalam masyarakat. Aktor politik pun mendapatkan peran sebagai "penguasa" dengan berpartisipasi ritual yang ada di suatu masyarakat. Keengganan aktor politik berpartisipasi dalam ritual akan menyebabkan munculnya penolakan dari masyarakat, yang pada akhirnya melunturkan wibawa dan legitimasi sang aktor.

Tapi, aktor politik juga dapat memanipulasi ritual, sehingga ritual tersebut menyampaikan pesan yang selaras dengan kepentingan sang aktor. Kertzer mencontohkan bagaimana Uni Sovyet mengubah perayaan Tahun Baru agar sesuai dengan kepentingan ideologi komunis mereka. Perayaan Tahun Baru di Rusia sebenarnya merupakan perayaan pagan. Namun ketika Kristen masuk dan menjadi agama populer di Rusia, masyarakat Rusia pun merayakan Tahun Baru seiring dengan semangat Natal. Ketika rezim komunis menguasai Rusia, pemerintah menghapuskan perayaan Natal dan Tahun Baru karena semangat Kristiani yang dibawa perayaan (ritual) ini betentangan dengan komunisme. Ternyata ini menimbulkan resistensi dari masyarakat Rusia. Karena itu, rezim komunis memanipulasi ritual ini: Tahun Baru diceraikan dari semangat Natal. Agar manipulasi ini berjalan mulus, maka pemerintah Uni Sovyet mengenalkan sosok Father Frost dan Snow Maiden sebagai sosok mitologi "khas Uni Sovyet" untuk menggusur sosok Kristus (sebagai produk budaya asing yang "menginvasi" Uni Sovyet). Ritual Tahun Baru pun berjalan dengan pesan yang "disesuaikan" dengan ideologi komunisme. Masyarakat senang, rezim pun mendapatkan legitimasinya.

Bagaimana dengan ritual di Indonesia? Apa pesan yang disampaikan, dan siapa aktor politik yang mendapatkan legitimasi dari pesan tersebut?

Ataukah ada beberapa ritual yang membawa pesan berbeda, atau bahkan bertabrakan, sehingga terjadi "perang ritual" di Indonesia?

Ganjar Widhiyoga
Penulis adalah Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Slamet Riyadi Surakarta, kandidat PhD di Newcastle University, UK.
yy/nabawia.com