30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Indonesia Darurat Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender

Indonesia Darurat Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender

Fiqhislam.com - Lesbian, gay, biseks dan transgender atau biasa disingkat LGBT mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat umum. Agar eksistensi kelompok ini bisa diterima publik, mereka menggunakan istilah yang umum sebagai identitas, yaitu pelangi.

“Di Barat, kata pelangi atau rainbow menjadi identik dengan gerakan LGBT ini, sementara di Indonesia kita bisa jumpai Arus Pelangi yang mengusung LGBT,” papar Rita Soebagio M.Si, Sekjen dari Aliansi Cinta Keluarga (AILA) dalam acara training for trainers “Feminisme dan Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam” di AQL Islamic Center, Tebet Jakarta (27/01/2014)

Masih menurut Rita, umat Islam di Indonesia perlu waspada terhadap perkembangan LGBT. Bahkan menurutnya Indonesia berstatus darurat LGBT. Perkembangan pelaku LGBT di Indonesia begitu pesat, bahkan dari data yang diperoleh, di Cirebon terdapat sekitar 500 orang remaja homoseksual. Bisa dibayangkan kota kecil seperti Cirebon saja sudah sebanyak itu.

“Selain meningkatnya pelaku, beberapa survey juga menunjukkan bahwa perlahan-lahan masyarakat kita semakin toleran terhadap pelaku LGBT ini,” jelasnya.

Fakta menarik lainnya adalah bahwa pengguna jejaring sosial yang khusus dipakai untuk kaum homoseks kebanyakan berasal dari Indonesia.

“81 ribu orang dari Indonesia tercatat dalam situs jejaring sosial khusus homoseks, dan itu adalah jumlah terbesar jika dibandingkan dengan negara-negara lain,” ungkap Rita.

Walau arus gerakan LGBT ini begitu massif, Magister Kajian Islam dan Psikologi UI itu juga memaparkan data bahwa masyarakat Indonesia sendiri masih memberi resistensi yang cukup kuat terhadap gerakan ini.

“Menurut PEW research, 93% penduduk Indonesia tidak setuju dengan LGBT, sementara 40 negara dengan mayoritas muslim juga menolak LGBT,” pungkasnya. [yy/islampos.com]

 

Perjuangan LGBT Selalu Menunggangi Gerakan Feminisme

Perjuangan LGBT Selalu Menunggangi Gerakan Feminisme

Kelompok pembela lesbian dan gay paling getol memasukan perjuangan legalisasi penyimpangan seksual.  Umumnya, mereka memasukkan ide-idenya melalui lembaga-lembaga feminis.

Demikian disampaikan Rita Hendrawaty Soebagio, Sekjend Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILIA) dalam seminar “Feminis dan Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam”,  yang diadakan di Islamic Center AQL Jakarta, Senin (27/01/2014) kemarin.

“Feminis adalah kendaraan kelompok lesbian untuk memperjuangkan eksistensi mereka,” jelas  Rita.

Wanita yang juga peneliti pada Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini mengakui saat ini, tren penyakit menyimpang seperti lesbian, gay (homoseksual) hingga biseks dan transgender (waria) bisa ditemukan dalam berbagai model dan kedok. Hal ini dibuktikan dari fakta-fakta yang didapati dari penelitiannya.

Ia mengambil sebuah bukti dari sebuah kota di Jawa Barat. Kisah seorang lesbian yang membuka kedok pengajian wanita. Dulu pengajian itu hanya ada satu lesbian kini semua mahasiswi dan perempuan muda yang ikut pengajian itu menjadi lesbian.

“Hebatkan, mereka bahkan bisa menipu dengan tampilan pengajian yang sebenarnya isinya mengajarkan liberalisme apalagi membenarkan penyimpangan seksual seperti lesbian,” jelasnya.

Hal yang sama juga terjadi pada kelompok homoseksual (gay) di Indonesia yang banyak difasilitasi di media sosial.

Dengan data yang ia miliki, Rita rita berkeyakinan, banyak anggota gay di media sosial khusus gay international itu adalah laki-laki dari Indonesia.

“Nah permasalahan di luar negeri, keberadaan kelompok LGBT ini adalah setelah mereka berhasil menularkan gaya hidup dan mindset seksual mereka yang salah, maka secara kuantitas mereka akan memperjuangkan hak legalisasi mereka di masyarakat,” tegasnya.

Dari sinilah muncul isu perdebatan menikah sesama jenis yang diinjeksi (disusupkan,red) pada isu kesetaraan gender dan feminisme, jelas Rita.

Dengan tampilan menggunakan jilbab berwarna biru muda, Rita mengingatkan para ibu dan ayah untuk sudah mulai memahami ancaman kehadiran isu-isu feminisme.

Di mana dibelakang gerakan tersebut adalah usaha untuk mensosialisasi pemikiran LGBT untuk dihalalkan dalam masyarakat Indonesia. [yy/hidayatullah.com]

 

Perlu Edukasi Agar Masyarakat Paham Sesatnya Argumentasi Kelompok LGBT

Perlu Edukasi Agar Masyarakat Paham Sesatnya Argumentasi Kelompok LGBT

Masyarakat perlu diedukasi mengenai bagaimana cara melawan argumentasi kelompok Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT). Pasalnya, kelompok LGBT bisa gencar mensosialisasi gaya hidup mereka yang rusak pada masyarakat.

“Yang pertama, kelompok ini (LGBT,red) selalu berkolaborasi di balik isu feminisme,” jelas Rita Hendrawaty Soebagio, Sekjend Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILIA) dalam seminar “Feminis dan Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam”,  yang diadakan di Islamic Center AQL Jakarta, Senin (27/01/2014) kemarin.

Rita juga menjelaskan, pendekatan psikologis kelompok LGBT ini beraneka ragam untuk menyebarkan dan memberikan pembenaran penyakit penyimpangan seksualnya pada masyarakat.

Biasanya, kelompok lesbian selalu menjelaskan ke sesama perempuan bahwa yang paling mengerti bagaimana perempuan adalah perempuan itu sendiri.

“Jika lelaki berusaha mengelabui perempuan demi hasrat seksualnya, maka lesbian mengelabui perempuan terobsesi oleh masalah cinta dan perasaan sesama perempuan,” tegasnya lagi.

Baik kelompok lesbian dan gay selalu mempunyai argumentasi yang sama. Menurut peneliti masalah gender dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini, kedua kalangan tersebut akan menjelaskan ke masyarakat bahwa penyimpangan seks mereka adalah turunan biologis yang tidak bisa dirubah, ujungnya harus diterima.

“Mereka terus menyakini masyarakat bahwa penyimpangan seksual mereka adalah suatu hal yang normal yang harus diterima, padahal mereka tidak normal,” tambah Rita lagi.

Kenyataannya menurut Rita, selain menjadi penyebab lahirnya penyimpangan seksual yang lebih parah yaitu biseksual dan transgender. Perilaku lesbian, terutama homoseksual (gay) juga jadi penyebab menyebarnya virus HIV/Aids.

“AIDS itu muncul dari perilaku gaya hidup gay (homoseksual), dan mereka (kelompok LGBT,red) menutupi ini selama bertahun-tahun,” jelas Rita lagi.

Di akhir pembicaraannya ia menjelaskan bahwa perjuangan LGBT di balik kedok feminisme tidak akan pernah selesai karena mereka selalu menjauhkan argumentasi mereka dari akar masalahnya.

Dan kelompok LGBT,  selalu takut ketika dibenturkan dengan sudut pandang agama.

“Makanya kebanyakan aktivis feminis radikal adalah orang-orang yang anti agama,” jelas aktivis The Center for Gender Studies (CGS) ini. [yy/hidayatullah.com]