2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Nazisme Israel

Nazisme Israel

Fiqhislam.com - Supremasi Zionis dari Kalifornia ke Yerusalem dan Sidney begitu goyah sekarang ini seiiring begitu banyaknya orang di seluruh dunia yang mengingnkan bebas dari cengkeraman propaganda Zionis, walau pelan namun pasti.

Selama 60 tahun, Zionis telah berbohong perkara kejahatan kemanusiaan. Israel membalikkan hitam menjadi putih dan putih jadi hitam: kebohongan disulap menjadi “kebenaran” yang agung. Palestina yang dianiaya dan dijajah dilabeli sebagai teroris dan pembunuh, bahkan anti-Semit yang ingin menyempurnakan kerja Hitler zaman dulu.

Sebagai Nazi yang sesungguhnya, Yahudi Zionis yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan terbesar dalam sejarah, sebut saja penghancuran Palestina, mereka sering digambarkan sebagai para pionir yang mengubah padang pasir menjadi taman bunga, menyinari negara-negara, dan pelopor demokrasi di Timur Tengah.

Sekarang, tampaknya tuah itu mulai surut. Dunia telah melihat wajah Yahudi sesunggunya yang menipu, dan curang sepanjang beberapa tahun ini. Inilah waktunya masyarakat dunia bangun untuk melihat wajah Yahudi tersebut.

Konferensi Durban, yang sedang dilaksanakan di Jenewa, adalah untuk menjaga perdamaian, kesamaan, dan keadilan di seluruh dunia. Dengan melakukan hal itu, rakyat dan pemerintahan dunia tengah memerangi opresi, rasisme, dan agresi. Inilah yang membuat para pemimpin Yahudi murka, sama sekali tanpa justifikasi yang jelas. Kita semua tahu melawan rasisme berarti menentang Israel, sebuah negara yang dibentuk dari pembersihan etnik, pencurian tanah dan kebohongan.

Israel meletakan semua itu untuk mengeruk dunia. Sejujurnya, Anda bukan benar-benar manusia, jika belum pernah menentang Yahudi. Inilah yang sedang dirasakan dan ditemukan oleh orang di seluruh dunia. Inilah yang membuat Israel ngeri dan ketakutan seiring dengan lunturnya Zionisme.

Sekarang, New Republic, New York Post, Jerusalem Post, Dershowitz, Wiesel, Netanyahu, Lieberman, dan Peres begitu panik. Lihat saja wajah mereka dan kita akan segera tahu bahwa mereka merasakan ketidakamanan di sisi mereka. Reaksi mereka persis para pencoleng dan penjahat yang kelakuan busuknya mulai terendus dan dimengeri oleh masyarakat banyak.

Tapi seperti kebanyakan penjahat, Israel dan pendukung tribalnya, seperti AS, tidak akan pernah menurunkan bendera putih. Mereka selalu mengklaim bahwa mereka orang-orang yang mempunyai IQ tertinggi di antara orang-orang lain di dunia. Tapi apakah mereka memang benar-benar pintar? Jika memang benar, maka tidak mungkin mereka menempatkan kejahatan sebagai salah satu kelakuan mereka yang paling atas. Itulah yang terjadi pada Yahudi. Elie Wiesel misalnya, seorang yang masih hidup dalam tragedi Holocaust. Ia bersaksi tentang berbagai penderitaan Yahudi waktu itu, dan sering mengatakan berbagai kemunafikan. Ia juga mengatakan bahwa Israel mempunyai hak untuk melakukan kekejaman pada orang Palestina dan dunia tidak punya wewenang sama sekali untuk mengatakan Israel seperti Nazi.

Jika kita melihat apa yang telah dilakukan oleh Israel selama ini, terutama yang terbaru di Gaza, sesungguhnya Israel telah bertransformasi seperti Nazi sendiri. Hanya mereka tidak mempunyai batasan. Mereka menentukan sendiri apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, mereka berpikir, berkata dan bertindak tidak beda dengan Nazi.

Sekarang, orang mengkritik mereka telah membunuh generasi di Gaza dengan Posfor putih, dan meminggirkan orang-orang Palestina pada sebuah kamp konsentrasi. Mereka segera berteriak: Auschwitz! Gestapo! Kristallnacht! Hamas! Bom bunuh diri!, dan mengabaikan kejahatan mereka sendiri. Mereka seperti pelacur yang tengah berkhotbah tentang moralitas dan kesucian.

Gideon Levi, seorang Yahudi yang mempunyai keberanian dan moral, mengatakan bahwa salah besar menyamakan Palestina dengan Holocaust. Yang paling benar adalah Israel hari ini adalah Jerman di tahun 1933. Konferensi Durban tengah menuju tanda bahwa orang-orang di dunia sudah melihat wajah kedua Israel yang sebenarnya. Sebenarnya siapa yang rasis, jahat, dan iblis. Dan itu sudah sangat menakutkan bagi Yahudi. Tidak heran jika mereka tiba-tiba saja pekan ini mengadakan peringatan Holocaust, padahal mereka sendiri telah meminta PBB jauh-jauh hari untuk menetapkan Januari sebagai hari berkabung mengenang Holocaust.

Seperti rakyatnya, pemerintahan Eropa dan AS akan tiba pada waktunya bahwa mereka harus melepaskan diri dari cengkeraman dan lobi Yahudi. Hari itu pasti akan datang.

Saad Saefullah
yy/eramuslim.com