19 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 29 Juli 2021

basmalah.png

Homophobia dan Pedophilia: Pengulangan Sejarah Gelap Barat

Homophobia dan Pedophilia: Pengulangan Sejarah Gelap Barat

Fiqhislam.com - Dalam sebulan terakhir ini, kita disibukkan dengan berbagai kejadian baik dari dalam dan luar negeri. Sultan Brunie dikecam dunia internasional sebagai homophobic karena menerapkan hukum syari’at yang tegas menindak penyimpangan seksual. Sementara di Indonesia kita dikagetkan dengan kasus pelecehan seksual terorganisir di JIS dan puluhan korban anak-anak akibat perilaku menyimpang seorang Andri Sobari alias Emon.

Ketiga fenomena ini memiliki benang merah karena terhubung dengan satu isu yaitu penyimpangan seksual. Ketika Sultan Brunei di bully karena berani menghukum tegas pelaku penyimpangan seksual, Indonesia sudah lebih dulu merasakan pahitnya menjadi korban penyimpangan tersebut.

Uniknya, walau ancaman dan kerusakan yang ditimbulkan akibat penyimpangan ini sudah terlihat jelas. Aktivis liberal lewat berbagai jaringannya disaat yang sama justru makin gencar mengampanyekan isu-isu kebebasan lesbian, gay, bisesksual, dan transgender (LGBT). Di Universitas Indonesia sempat akan diadakan seminar bertajuk “Homopedia”. Sementara di Universitas Negeri Jakarta, seminar tentang LGBT dalam prespektif sosiologi digelar dengan hanya melibatkan pembicara liberal dan pro LGBT.

Manuver aktivis liberal dan LGBT ini dapat diduga merupakan trik “cuci tangan” dan pengelabuan publik agar masyarakat memisahkan antara perkara kriminal dan perkara penyimpangan seksua;. Padahal sudah jelas fakta lapangan menunjukkan keterkaitan erat antara perilaku penyimpangan dengan aktivitas kriminalnya.

Walau sama-sama bentuk penyimpangan seksual, para aktivis liberal dan LGBT berusaha memutus keterkaitan antara pelaku homoseksual, lesbian dan transgender dengan pelaku pedophilia. Padahal dalam sejarahnya, terutama di barat, penyimpangan-penyimpangan ini memiliki keterkaitan yang erat satu sama lainnya.

Penyimpangan Seksual di Barat: Sejak Yunani Kuno hingga Renaissance

Barat modern saat ini mengakui dengan terbuka bahwa peradaban mereka berakar dari Yunani kuno. Walau tumbuh sebagai peradaban yang cukup mapan di zamannya, kehidupan Yunani kuno penuh dengan skandal. Skandal ini tidak hanya terjadi di kalangan manusia, tapi juga pada dewa-dewa sesembahan mereka.

Dalam kisah mythology yang diabadikan hingga kini, disebut bahwa Zeus, patron dewa-dewa Yunani, sampai rela menjelma menjadi elang untuk menculik Ganymede, bocah pengembala domba dari kota Troy yang terkenal dengan ketampanannya. Sebuah perilaku yang untuk ukuran zaman sekarang, dapat disamakan dengan tindakan homoseksual dan pedophilia.

Mythology Zeus dan Ganymede hanyalah fragment kecil dari kebiasaan tercela Yunani. Para Tutor (guru) di zaman tersebut, lazim melakukan pelecehan terhadap murid laki-laki dengan dalih “menyiapkan mereka menjadi dewasa”. Gymnasium Yunani, tempat umum untuk berolahraga, adalah tempat yang marak dimana pria-pria dewasa melecehkah pemuda dan anak-anak.

Romawi sebagai penerus peradaban Yunani memiliki track record yang tidak kalah bejat. Festival Lupercalian adalah contoh yang membuktikan bahwa dalam urusan seks, Romawi hampir tidak memiliki batas. Maka tidak heran jika homoseksual merupakan hal umum di Romawi, baik di kalangan masyarakat biasa maupun para pejabat.

Saking maraknya praktek homoseksual di Romawi, sejarawan Roberto de Mattei menyimpulkan bahwa homoseks adalah salah satu penyebab runtuhnya kekaisaran Romawi. Homoseksual dalam penilaiannya, adalah kebiasaan bururk menular yang menjangkiti orang-orang “baik” di Roma.

Tidak hanya itu, maraknya perbudakan hasil penaklukan Romawi membuat anak-anak yang memiliki paras menawan sebagai komoditi utama. Bahkan kebanyakan kaisar Romawi dicatat sebagai konsumen utama dari komoditas ini. Divus Julius, Divus Augustus, Tiberius, Caligula, dan Nero adalah pelaku pedophilia terbuka dengan melibatkan anak-anak dalam pesta nista mereka.

Saat Kristen mulai berkuasa di Eropa, praktek-praktek penyimpangan mulai banyak tereduksi. Terutama dengan dukungan kekuatan hukum dari negara. Corpus Juris Civilis of Justinian I (Hukum Jusatinian) pada tahun 529 memberi sanksi hukuman mati bagi pelaku homoseksual di Romawi. Sementara di Inggris, Raja Henry VIII menerapkan Buggery Act (1533) yang menghukum mati pelaku homoseksual.

Surutnya kekuasaan Gereja menjelang era Renaissance membuat praktik-praktik penyimpangan seksual kembali marak. Walau belum terbuka, perilaku homoseksual cukup berkembang dikalangan bohemian dan seniman zaman itu. Leonardo da Vinci adalah salah satunya.

Era Modern dan Potensi Pengulangan Sejarah Kelam Barat

Para pengusung ide-ide liberal dan LGBT lewat berbagai alat propagandanya menyatakan bahwa toleransi terhadap penyimpangan seksual seperti homoseksual dan lesbian adalah tanda kemajuan. Tidak jelas kemajuan macam apa yang dimaksud. Padahal jika kembali menilik sejarah, LGBT hanyalah bentuk pengulangan sejarah kelam.

Sadar bahwa mereka tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Para pengusung LGBT memainkan strategi propaganda. Stigma homophobia adalah salah satu senjata mereka.

Mengikuti logika manta Presiden AS, George Bush “you are either with us or against us”, pejuang liberal dan LGBT tidak segan menempelkan predikat homophobia atau homophobic kepada siapa saja yang menentang atau hanya sekedar mengkritisi gerakan mereka.

Padahal, secara bahasa, kata homophobia ini bermasalah. Jika phobia adalah permasalahan psikologis yang terkait dengan rasa takut dan dapat dibuktikan secara empiris, homophobia tidak pernah dapat dijelaskan secara empiris. Rata-rata mereka yang mendapat stigma homophobic adalah mereka yang anti terhadap homoseksual tanpa memiliki rasa takut yang spesifik dengan kaum homoseks.

Alih-alih bermakna takut, kata phobia dalam homophobia dirusak maknanya menjadi benci atau anti.Bukan cuma kata phobia yang mereka rusak. Terminologi seperti cinta, hak asasi, pernikahan, dan etika mereka buat ulang maknanya untuk mendukung klaim mereka.

Ketika aktivis liberal dan LGBT sibuk merusak konsep-konsep makna yang mempengaruhi cara berfikir kita, di sisi lain budaya permisif yang berkembang massif memberi dampak negative lainnya.

Penulis dan editor Newsweek.com, Abigail Jones dalam sebuah artikel memaparkan bahwa remaja Amerika dengan kisaran umur 10 sampai 12 tahun makin akrab dengan bahasan seksual yang vulgar .Menurut Abigail, kecenderungan ini sebagain besar disebabkan oleh efek media yang terus mengeksploitasi seksualitas demi keuntungan mereka.

Jika di Barat, icon remaja wanita seperti Miley Cyrus sudah berani tampil tanpa busana di depan publik, region asia, diwakili Jepang tampaknya tidak mau kalah.

Dengan dalih fans service, banyak sekali artis artis belasan tahun di Jepang menjalani sesi pemotretan dengan pakaian serba minim. Contoh paling nyata adalah idol grup AKB 48 yang sampai resmi meliris video klip para anggotanya hanya dengan mengenakan lingerie.

Kalau konsep-konsep pemikiran sudah rusak, perilaku anak-anak makin liar akibat media massa, dan kita yang memberi nasehat dan meluruskan dapat stigma macam homophobia karena dianggap anti kemajuan, bukan mustahil, perilaku macam menyimpang macam Emon dan petugas kebersihan di JIS akan dianggap normal 10 tahun kemudian.

Dari sejarah kita belajar, bahwa budaya hedonisme a la orang-orang Yunani dan kaisar-kaisar Romawi kini marak dipraktekan kembali. Walau terkesan wah dan mempesona, baik peradaban Yunani dan Romawi menyimpan kebobrokan moral yang luar biasa.

Akankah kita membiarkan anak-anak kita menjadi korban sekaligus pelaku penyimpangan seksual yang marak saat ini? Pertanyaan ini tentutnya tidak memerlukan jawaban lisan, sebab kenyataan lapangan membuktikan bahwa kita sebagai orang tua sering terlambat menyadari kerusakan zaman.

Mari kita tanamkan konsep-konsep akhlak dengan baik dan benar pada anak-anak kita, bentengi mereka dengan nasihat dan kasih sayang dari pengaruh buruk lingkungan dan media. Semoga kelak di akhirat, kita tidak termasuk sebagai orang tua yang lalai mengemban amanat bernama “anak”. [yy/islampos.com]