13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Peradaban Kuno Memandang Homoseksual

Peradaban Kuno Memandang HomoseksualFiqhislam.com - Meski istilah homoseksual merupakan konsep penemuan modern oleh dokter Hungaria Karoly Maria Benkert pada 1869, perilaku tersebut pernah eksis melintasi peradaban kuno dengan beragam reaksi dan penerimaan. Tak sedikit dari peradaban itu bahkan bersikap permisif terhadap aktivitas itu.

Dalam peradaban Yunani kuno, ketertarikan seksual kepada sesama jenis merupakan hal yang normal. Homoseksual pada masa Yunani kuno terjadi antara laki-laki dewasa dan laki-laki remaja (12- 18 tahun). Perilaku seperti ini dikenal dengan istilah paiderastia (kasih sayang, emosional, dan sensual). Homoseksual tidak terjadi antara dua lelaki dewasa.

Dilansir dari gay-art-history.org, laki-laki dewasa yang menjadi pelaku homoseksual disebut erastes (kekasih) di dan seorang pemuda remaja disebut eromenos (tercinta). Laki-laki dewasa Yunani juga memiliki istri dan keluarga. Menurut filsuf Michel Foucault (1926-1984), bagi warga Yunani, bukanlah hal yang tercela ketika pria yang sudah menikah memiliki hubungan dengan anak laki-laki remaja. Laki-laki dewasa Yunani juga diharapkan memiliki keturunan dari istri sahnya.

Semua orang Yunani akrab dengan kisah cinta laki- laki. Seperti kisah Zeus turun sebagai elang untuk membawa Ganymede yang merupakan anak yang paling indah di Bumi untuk menjadi kekasihnya di Gunung Olympus.

Akan tetapi, Goode dalam bukunya, Deviant Behavior, menegaskan, hubungan percintaan dan seks antara sesama lelaki dewasa Yunani merupakan hal yang dianggap konyol. Norma yang berlaku, yaitu laki-laki dewasa memiliki hubungan dengan laki-laki remaja. Jika remaja tersebut sudah beranjak dewasa maka hubungan harus selesai dan pelaku homoseksual harus mencari remaja lainnya.

Jika pada masa Yunani perilaku homseksual merupakan hal yang normal dan wajar. Namun, di Romawi perilaku homoseksual tidak ditampilkan secara umum.
Sehingga, pelakunya tidak mendapat dukungan baik secara sosial maupun hukum.

Angelo di Berardino dalam jurnal Homosexuality In Classical Antiquity menjelaskan, jika dilihat dari budaya, lingkungan politik, dan keluarga warga Romawi memiliki sikap yang berbeda terhadap homoseksual.

Homoseksual dilakukan antara budak dan majikan (Dominus) sebagai kekuasaan mutlak dengan otoritas terbatas di keluarga besar sendiri. Majikan mengambil keuntungan dari budak perempuannya serta anak budaknya. Praktiknya itu dilakukan sangat terbatas.

Selain itu, pada zaman Romawi, anak laki-laki dan perempuan dilindung dari laki-laki dewasa yang ingin merayu. Perilaku seksual antara laki-laki dewasa dan laki-laki remaja juga dilarang. Ini artinya secara hukum, Romawi tidak menyetujui perilaku homoseksual.

Sikap Cina
Perilaku homoseksual di Cina sudah ada pada abad ke-11 sebelum Masehi, yakni pada masa Dinasti Shang. Li Yinhe dalam bukunya yang berjudul Cina Homoseksualitas menyebutkan istilah "Luan Feng" digunakan untuk menggambarkan homoseksualitas pada Dinasti Shang. Tidak ada catatan lesbianisme dalam sejarah Cina. Jejak sejarah homoseksualitas bertahan melalui dinasti kedinasti dari zaman kuno dan tidak pernah hilang.

Selama Dinasti Han berkuasa (206 SM - 220 M), kegiatan homoseksual dari kaisar dan menteri sering disimpan dalam catatan sejarah. Menurut Catatan Sejarah dan Dinasti Han, hampir semua kaisar dari Dinasti Han Barat memiliki pecinta sesama jenis.

Kendati demikian, pada masa kini, Cina menjadi salah satu negara yang sangat menentang homoseksualitas. Dilansir dari traditions.cultural-china.com, pada 1740, untuk pertama kalinya, keputusan antihomoseksual diundang-undangkan. Pemerintah Cina menyebutkan hubungan homoseksual merupakan ilegal.

Selama Revolusi Budaya (1966-1976), homoseksual menghadapi periode terburuk dalam sejarah Cina. Pemerintah menganggap, homoseksualitas menjadi aib sosial atau bentuk penyakit mental. Polisi secara rutin menangkap gay dan lesbian. Karena tidak ada hukum yang menentang homoseksualitas, kaum gay dan lesbian didakwa dengan hooliganism atau mengganggu ketertiban umum.

Islam Menentang Homoseksualitas

Islam secara eksplisit mengutuk perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dalam sejarah Islam, homoseksual telah ada pada masa kaum Nabi Luth. Kisah penyimpangan seksual kaum Nabi Luth ini tertulis dalam Alquran surah al-A'raaf: 80-84, Huud: 81-83, al-Ankabuut: 28-35, al-Hijr: 61-77, dan asy-Syu'araa: 160-175.

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya, `Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seseorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?' Sesuangguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, kalian ini adalah kaum yang melampaui batas."

Kaum Nabi Luth menjawab, "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri. Kemudian, Kami selamatkan dia dan pengikut- pengikutnya, kecuali istrinya. Karena, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu, maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdoa itu." (QS al-A'raaf 80-84).

Kaum Nabi Luth diberi peringatan oleh Allah pada waktu Subuh. Penulis Syauqi Abu Khalil dalam bukunya yang berjudul Atlas Alquran menjelaskan, Luth datang bersama Ibrahim dan orang-orang yang beriman kepadanya. Sekembalinya mereka berdua dari Mesir, Luth dan Ibrahim sepakat berpisah karena satu tanah terbatas tidak cukup untuk hewan ternak mereka.

Kemudian, Luth singgah di ujung selatan Laut Mati (Buhairatu Luth), tempat di mana Desa Sodom dan Amurah dibinasakan oleh guncangan, yang membuat bagian atas negeri itu berbalik menjadi di bagian bawah. Sementara Desa Shaughir, tempat di mana kaum Luth berlindung, tidak tersentuh bencana sama sekali.

Dalam Islam, hingga kini, praktik homoseksual tetap di pandang sebagai tindakan bejat. Di dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan bahwa praktik homoseks merupakan satu dosa besar dan sanksinya sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut. (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an- Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki).

Praktik homoseksual dalam Islam dikenal dengan nama liwath. Baik gay maupun lesbian masuk dalam kategori liwath. Tidak ada pembedaan di antara keduanya. Namun, Imam Mawardi dalam Al Hawi Al Kabir membedakan jika liwath hanya untuk gay sementara lesbian disebut sihaq.

Praktik liwath jelas dilarang dalam Islam. Hal ini berdasarkan nas Alquran surah al-A'raf ayat 80-80, "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.'"

Alquran secara tegas menyebut jika homoseksual adalah perbuatan faahisyah (keji). Bukan hanya keji, namun perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Orang yang melakukan perbuatan ini juga disebut melampaui batas.

Dari hadis pun sangat jelas terlihat haramnya perbuatan homoseksual. Orang yang melakukan hubungan seperti ini digambarkan oleh Rasulullah SAW bahwa Allah SWT enggan melihat kepada mereka. (HR Tirmizi dan Nasai).

Perbuatan homoseksual juga akan mendapat murka dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth (liwath), dan beliau mengulangi ucapan tersebut sebanyak tiga kali. (HR Nasai).

Alquran dan hadis secara jelas dan gamblang melarang perbuatan homoseksual. Maka, dasar yang kuat itu juga menjadi ijmak para ulama untuk menyepakati keharaman perbuatan liwath.

Imam Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menjelaskan, "Penetapan hukum haramnya praktik homoseksual adalah ijmak ulama, berdasarkan nas-nas Alquran dan hadis." Pendapat Ibnu Qudamah diperkuat oleh Imam Al Mawardi dengan pendapat yang hampir serupa.

Saat ketiga dasar hukum utama dalam Islam secara bulat mengharamkan perbuatan homoseksual maka tidak ada celah hukum bagi perbuatan liwath. [yy/republika]