30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Masa Depan Israel ada pada Pelacuran?

Masa Depan Israel ada pada Pelacuran?

Fiqhislam.com - Berhubungan intim dengan lelaki non Yahudi untuk mendapatkan uang adalah upaya wanita merekrut mereka untuk masuk Yahudi.

Bahkan mereka bisa menjadi penganut Yahudi ortodoks yang lebih baik, hingga pemimpin yang menjanjikan.

Sebuah lingkaran prostitusi di Israel selama bertahun – tahun meyakinkan perempuan bahwa masa depan Negara Israel tertumpu pada mereka yang berhubungan seks dengan lelaki non Yahudi, ungkap seorang polisi setempat.

Penyidikan polisi menemukan delapan pimpinannya disebut messianik yang dikultuskan.

Mereka dikecam masyarakat setempat karena mengajarkan wanita untuk melacurkan diri kepada lelaki non Yahudi dengan alasan, untuk menyelamatkan masyarakat Yahudi dan menebus dosa, sebagaimana dilaporkan Haaretz pekan lalu.

Sejumlah wanita yang direkrut dalam kondisi mabuk alkohol dan obat – obatan diberitahukan bahwa kondisi spiritual mereka bergantung pada usaha mereka menjual seks (layaknya pelacur, - red) kepada klien.

Polisi sudah menutup lingkaran prostitusi ini. Delapan tersangka ditahan, termasuk seorang penduduk Tepi Barat Israel yang dikategorikan penganut garis keras di Kompleks Bat Ayin, David Dvash (60).

Dia menyebut dirinya David yang terbaik, memiliki 15 anak dan beristri dua. Salah satunya adalah tersangka dalam kasus ini.

Pada mulanya polisi menyelidiki kasus ini sejak empat bulan lalu setelah kelompok ekstrimis bernama Lehava, menolak untuk menikah dengan lelaki dan wanita non Yahudi.

Kelompok tersebut sangat keras mengecam kelompok prostitusi tersebut, karena tidak setuju dengan pernikahan berbeda agama.

Lingkaran prostitusi ini sudah aktif sejak enam hingga tujuh tahun lalu. Lima wanita berhasil direkrut. Mereka berhasil merekrut klien warga Palestina di Tepi Barat dan juga klien lain dari Tel Aviv.

Polisi yang memimpin penyidikan kasus ini, Superintenden Arik Mordechai, memaparkan kepada Haaretz bahwa 15 wanita sudah direkrut. Beberapa diantara mereka berumur dibawah 18 tahun.

Mereka melayani kebutuhan seks klien dari Palestina di Tepi Barat dan pekerja asing di Tel Aviv. Pemimpin kelompok ini terbukti melakukan eksploitasi terhadap wanita. [yy/republika.co.id]