25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Ketakutan Hancurnya Negara Israel

Ketakutan Hancurnya Negara Israel

Fiqhislam.com - Tidak ada yang menyadari secara diam-diam Israel aktif bergerak di wilayah Muslim Rusia di Kaukasus Utara. Isu ini cukup rumit namun senyap sehingga tidak diangkat media Rusia dan analis.

Anggota Uni Ulama Muslim Internasional (IUMS), Ruslan Kurbanov mengatakan kehadiran Israel di Kaukasus menjadi perhatian umat Islam. Ada beberapa poin yang kemudian bahasan utama.

Pertama, Yahudi mulai muncul di Kaukasus setelah penaklukan Yerusalem oleh Nebukanedzar tahun 586 SM. Pergerakan ini diikuti komunitas Yahudi lain di Iran, saat dihancurkannya gerakan Mazdaki tahun 529 AD. Yahudi Iran yang terlibat dalam gerakan itu melarikan diri ke Kaukasus. Hingga abad ke-19, banyak orang Yahudi menetap di Georgia, Azerbaijan dan Dagestan/

"Pemukiman Yahudi itu disebut Yerusalem Kaukasus. Istilah ini muncul karena dibarengi hidupnya aktivitas spiritual dan budaya Yahudi di wilayah tersebut. Melalui mereka pula, komunitas Yahudi menyebar ke seluruh Kaukasus, Rusia dan Eropa," ucap dia.

Yang menarik, dari komunitas itu, lahir nama-nama berpengaruhi seperti Zarah Iloev, God Nisanov, Telan Ismailov dan David Yakobashvili. Mereka adalah simbol dari kekuatan Yahudi di Rusia. Mereka juga dekat dengan politisi dan oligharki berpengaruhi di Eropa, Rusia, Amerika Serikat, dan Israel.

"Ada sejumlah bukti yang menunjukan orang Yahudi di Rusia merupakan agen kepentingan Israel di Rusia," ucap dia.

Pada akhirnya, kata dia, muncul keterikatan emosional terutama pada negara yang merdeka dari Rusia, seperti Georgia dan Azerbaijan.  Secara khusus, kedua negara ini lebih mengakui persaudaraan dengan Israel. "Dalam sebuah kesempatan mantan Presiden Gergia, Mikhail Saakashvili mengatakan menyakiti Israel sama saja menyakiti Georgia. Satu-satunya tempat dimana saya merasa di rumah adalah Israel," kata Ruslan.

Sikap ini, lanjut dia, juga diikuti Presiden Azerbaijan, Haidar Aliyev yang mengatakan menyinggung komunitas Yahudi merupakan kejahatan keji.

Kedua, ada kepentingan Israel di Kaukasus. Analis Rusia, Maxim Shevchenko mengakui ada ketakutan yang berkembang di Israel tentang ancaman kehancuran negara Israel dalam waktu dekat.

"Banyak pemikir di Israel tengah mencari cara bagaimana mereka bisa menghadapi kondisi demikian. Apakah di Kaukasus, bersama warga Krimea atau bergabung degan Jerman," demikian pendapat analis dan wartawan Dagestan, Ahmadnabi Ahmadnabiev.

Menurut Ruslan, kehadiran Yahudi di Kaukasus tidak hanya terbatas pada sifat religius. Lebih dari itu, mereka sempat menjadi penguasa kawasan ini. Sebuah negeri bernama Khazar. Wilayahnya terbentang dari wilayah pesisir dan perbukitan Dagestan dan Checnya, bagian Timur Laut Kaspia.

Ruslan menjelaskan Khazar ini merupakan keturunan Turki yang mendirikan negara di Kaukasus Timur sebelum kedatangan Islam. Ketika Islam datang, kaum Muslim segera berhadapan dengan negara Khazar selama hampir 150 tahun. Pada akhirnya, umat Islam dapat mengalahkan Khazar di Kaukasus dan mendorong mereka mengungsi ke Volga.

Pada akhir abad ke-8 dan awal abad ke -9, kelompok Yahudi Obaja merebut kekuasaan di Khazar. Lalu menjadikan agama Yahudi sebagai agama negara. Pada era kekaisaran Rusia, tepatnya tahun 969, negara Khazar dihancurkan. Yang tersisa dari Khazar, menetap di seluruh wilayah Eropa.

Analis Kanada, Lev Gunin menyebut Kaukasus adalah tanah air bagi Yahudi Ashkenazi (Eropa) bukan Palestina. "Jadi, apa yang terjadi saat ini, peningkatan pergerakan Yahudi di Kaukasus merupakan bentuk keinginan menuju tanah airnya," kata dia.

Ketiga, Israel memiliki strategi untuk memperkuat Kaukasus guna menghadapi Iran. Ruslan menjelaskan Israel sangat ngotot agar Georgia dan Azerbaijan memiliki militer yang kuat.

"Majalan Iran Al-Hayat beberapa waktu lalu menyatakan kehadiran Israel di Kaukasus secara tidak langung merupakan bentuk kolonisasi. Mengutip dari sumber parlemen Iran, Kaukasus kini dipenuhi agen Mossad yang bekerja menghadapi Iran," ucap dia.

Yang menjadi masalah, Lanjut Ruslan, Israel tidak bisa secara terbuka menanamkan pengaruhnya di Kaukasus. Dalam situasi ini, mereka melakukan ekspansi ekonomi, budaya, dan kemanusiaan. "Kedoknya beragam. Yang intinya, menggerakan komunitas Yahudi Kaukasus," ucapnya.

Wartawan Rusia, Nadezhda Kevorkova melaporkan banyak jendral, politikus dan pembuat kebijakan di Kaukasus Utara secara teratur mengunjungi Israel. Mereka di sana bertukar keahlian. Laman berpengaruhm Caucasian Policy menuliskan banyak petugas kepolisian Kaukasus Utara menerima kewarganegaraan Israel dan menjalin hubungan informal dengan rekan-rekan di Tel Aviv.

"Bisa dikatakan, Dagestan dan Kaukasia lainnya telah mempraktikan metode tekanan, pengangkapan, interograsi, dan pembunuhan yang telah lama didesain di Israel," tulis laman tersebut.

Keempat, dalih Israel melalui kerjasama ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, dan keamanan. Ruslan menyebutkan ada beberapa kebijakan Rusia yang meniru model Israel. Misalnya, kepolisian wisatawan Rusia dilatih Israel guna melindungi tujuh wilayah Rusia, seperti Dagestan, Cechnya, Ingushetiya, Karachay-Cherkessia dan lain-lain, yang merupakan kantong Yahudi. Konsep perlindungan ini dikembangkan ahli Irael.

"Ahli Kaukasia dan Muslim melihat dalam proyek ini menjadi penetrasi agen intelijen Israel di seluruh wilayah Kaukasus Utara," kata Ruslan.

Menurut ahli Kanada Lev Gunin, beberapa laporan menunjukkan ribuan pekerja tengah mengerjakan proyek di Kaukasus untuk Israel . Ribuan intelijen Israel dan agen militer terlibat. General Levy membenarkan itu dengan menyebut akan dibangun dinding antara Palestina dan Yerusalem. Di Kaukasus, pihaknya mengunakan teknologi yang meliputi 500 kamera, drone, balon, dan sensor.

"Jadi tidak ada tempat yang tidak bisa kami lihat," kata dia.

Ahmadnabiev mengatakan dinding itu merupakan kamp konsentrasi bagi Palestina."Itu sangat jelas," kata dia. [yy/republika]