14 Jumadil-Akhir 1443  |  Senin 17 Januari 2022

basmalah.png

ARTIKEL UMUM

Bosan di Israel, 9 Ribu Orang Ingin Eksodus ke Berlin

Bosan di Israel, 9 Ribu Orang Ingin Eksodus ke Berlin

Fiqhislam.com - Jaringan televisi Israel hari Kamis (09/10/2014) melansir pernyataan seorang pengurus kampanye “Berangkat ke Berlin” mengatakan, dirinya telah menerima banyak permintaan dari warga Israel yang menyatakan keinginanya untuk pindah ke Berlin Jerman.

Jumlah warga Israel yang mengajukan diri untuk pindah ke ibu kota Jerman, Berlin mencapai 9 ribu orang.
Mereka tergabung dalam kampanye “Berangkat ke Berlin”.

Di antara mereka terdapat sejumlah perwira tinggi militer.

Mereka menyatakan, telah bosan hidup di Israel. Mereka sedang mencari tempat untuk bisa membeli rumah dan bisa hidup dengan layak.

Dikutip Spiegel Online, penggagas gerakan ini yang masih berusia 25 tahun mengatakan sulitnya hidup di negeri penjajah tersebut.
Israel adalah salah satu negara terkaya di dunia, tetapi juga merupakan outlier dengan tingkat kemiskinan tertinggi di antara anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), klub demokrasi kaya. Pada tahun 2011, biaya hidup yang tinggi mengendarai kelas menengah putus asa ke jalan-jalan selama berbulan-bulan.

“Politisi kami berbicara tentang Iran dan roket, bukan biaya hidup,” ujarnya.

“Kami telah menunggu tiga tahun untuk politisi kita untuk melakukan sesuatu,” kata pemain berusia 25 tahun. “Tapi tidak ada yang berubah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kami selalu berbicara tentang ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan roket, tapi dia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang biaya hidup yang tinggi.”

Penggagas organsisasi ini telah mengajukan permohonan kepada deputi Jerman, Angela Merkel untuk menyetujui pemberian izin kepada 25 ribu visa pekerja Yahudi yang telah bosan tinggal di Israel. Saat ini mereka sedang menunggu balasan dari pemerintah Jerman setelah dimuatnya tulisan ini di koran Der Spiegel berbahasa Jerman.

Penggagas juga sedang melebarkan jangkauan “Berangkat ke Berlin” tidak hanya ke kota tersebut tetapi juga bisa mencapai kota-kota lain di dunia. Di antaranya Washington, New York, London, Miami, Los Angles, Paraguay, Costarica dan Roma.

“Apa yang memisahkan antara kebanyakan imigran Yahudi dan lainya, tidak lebih dari selembar kertas kecil yang terdapat di Visa mereka atau paspor mereka,” ungkapnya.

Ia juga menyerukan orang-orang yang telah mendaftarkan dirinya di kampanye ini untuk melakukan aksi demo di lapangan Rabin, Tel Aviv pekan ini dalam rangka menuntut pemerintahnya mengizinkan mereka pergi ke kota-kota lain di dunia.

Sekitar 1000 an peserta kampanye ini sudah meyatakan kesediaanya untuk bergabung dalam demo besar-besaran yang diadakan di lapangan Rabin. Mereka beralasan, ikut dalam kampanye gerakan berangkat ke Berlin ini dalam rangka meningkatkan pendapatan mereka serta menghindari tingginya biaya hidup di Israel. Seseorang harus nabung selama 35 tahun agar bisa memiliki sebuah apartemen di israel. Mereka berharap dapat masuk ke supermarket tanpa harus dibunuh dengan tingginya harga-harga yang fantastis.

Di sisi lain, menteri keuangan Zionis, Yair Lafid mengkritik gerakan berangkat ke Berlin ini.

“Tidak mungkin kita mentolerir klaim ini dengan alasan mahalnya biaya hidup di Israel,” ujar Yair . Ia menuding penggerak kampanye ini telah menipu publik.

Berlin adalah sebuah kota yang telah menjadi tempat tinggal Zionis selama berabad-abad untuk kemudian ditinggalkanya pada perang dunia ke 2. Mereka beralasan, perginya Yahudi dari Eropa bukan karena dorongan Zionis akan tetapi untuk menghindari peperangan dan pembunuhan.

Saat ini, sekitar 25.000 warga Israel diperkirakan akan tinggal di Berlin dengan semakin banyak kedatangan. Bahkan beberapa perusahaan start-up yang terkenal Israel sekarang lebih suka Berlin lebih dari Tel Aviv. [yy/hidayatullah]