pustaka.png.orig
basmalah.png


11 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 21 Juni 2021

5 Ritual Kematian yang Tidak Lazim

5 Ritual Kematian yang Tidak Lazim

Fiqhislam.com - Kematian sudah menjadi bagian dari budaya manusia. Tak heran, setiap kebudayaan mempunyai tradisi masing-masing untuk memperingati kematian tersebut. Uniknya ada beberapa suku yang merayakan kematian dengan cara yang mengerikan. Apa saja?

1. Dani, Papua Nugini

Setiap daerah memiliki cara masing-masing untuk menunjukkan mereka dalam kondisi berkabung. Bagi suku Dani di Papua Nugini, caranya adalah dengan memotong salah satu jari mereka.

Saat salah seorang kerabat meninggal, kaum perempuan di keluarga tersebut akan memotong jari mereka sebagai hadiah bagi almarhum yang meninggal. Cara mereka memotong jari pun terbilang unik.

Jari yang akan dipotong diikat sampai mati rasa dan aliran darah terhenti. Selanjutnya barulah jari dipotong dengan pisau batu kecil. Untungnya saat ini praktek tersebut sudah mulai ditinggalkan. Namun Anda masih bisa menemukan wanita Dani yang jarinya terpotong.

2. Merina, Madagaskar

Masyarakat tradisional Merina di dataran tinggi Madagaskar mempunyai tradisi yang unik. Setiap tujuh tahun sekali, mereka akan mengadakan upacara Famadihana di sekitar makam. Famadihana merupakan tradisi menggali kembali mayat yang telah dikubur untuk mengganti pakaian mayat tersebut.

Mayat yang telah diganti pakaian kemudian diarak dan dibawa menari. Sisa pakaian yang lama diambil oleh beberapa orang dan dijadikan jimat. Puncak acara ini adalah saat salah seorang dituakan menari di sekitar kuburan si mayat.

Upacara ini adalah upacara yang riang gembira dan jauh dari kesedihana. Namun meski demikian, tetap mengerikan melihat mayat diarak dan dibawa menari.

3. Ifugao, Filipina

Biasanya saat seseorang meninggal, kerabatnya akan segera mengurusnya untuk kemudian dikubur atau dibakar, sesuai kepercayaan yang dianut. Namun berbeda dengan yang dilakukan masyarakat Ifugao di Benguet, Filipina.

Saat salah seorang kerabat mereka meninggal, mayat tersebut akan didudukkan di kursi depan rumah. Lengan dan kaki mereka diikat untuk menjaga posisi. Sedangkan matanya ditutup agar tak perlu lagi melihat penderitaan orang-orang yang masih hidup.

Selanjutnya, selama delapan hari orang-orang di desa akan berkabung dan melakukan ritual peralihan untuk membantu jiwa almarhum mencapai tempat terakhir. Uniknya masyarakat sama sekali tidak terganggu dengan bau busuk yang disebarkan mayat, bahkan kerap menjadikannya lelucon.

4. Taiwan

Di Taiwan ada tradisi unik lain terkait kematian. Saat seseorang meninggal, kerabatnya akan memanggil tukang ratap yang bekerja secara profesional. Tukang ratap tersebut kemudian akan menangis meraung-raung menangisi kepergian almarhum.

Uniknya, tukang ratap tersebut juga menyediakan paket premium bagi keluarga yang cukup kaya. Di paket premium, selain meratap, tukang ratap akan berpidato yang menyayat hati untuk menunjukkan keluarga benar-benar merasa sedih.

5. Yanomami, Venezuela

Yanomami merupakan suku asli yang tinggal di hutan-hutan Venezuela. Mereka juga melakukan ritual mengerikan untuk memperingati kematian seorang penduduk. Saat seorang penduduk meninggal, mayatnya akan dibawa jauh dari desa kemudian dibakar hingga hanya tersisa abu dan tulang.

Selanjutnya, tulang dan abu tersebut dibawa kembali ke desa. Tulang-tulang yang belum hancur akan ditumbuk hingga halus. Tumbukan tulang kemudian dicampur dengan abu lalu dimasukkan ke dalam sup pisang.

Sup pisang tersebut kemudian dibagikan ke seluruh penduduk desa untuk dimakan. Tujuan memakan kembali sisa-sisa mayat tersebut adalah agar kenangan akan si mayat abadi.

Bagaimanapun, kematian merupakan akhir yang akan dihadapi oleh seseorang. Jika tiap masyarakat mempunyai cara berbeda menganggapinya, tidak masalah bukan?

yy/liputan6