25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Fakta Buktikan Yahudi Tak Miliki Sejarah Tembok Al-Buraq

http://2.bp.blogspot.com/_33unyAemrZc/TCRggyQccrI/AAAAAAAAAXs/n18ZYo8Yq0Y/s400/Men_praying_at_Western_Wall_tb_n010200.jpgTembok Barat adalah milik Muslim dan merupakan bagian integral dari Masjid Al-Aqsa dan Haram al-Sharif,  menurut sebuah makalah resmi yang diterbitkan pada hari Senin oleh Menteri Otoritas Palestina Informasi di Ramallah.

Makalah itu  disiapkan oleh Al-Mutawakel Taha, seorang pejabat senior kementerian, untuk menyangkal klaim Yahudi atas Tembok Barat.

Di masa lalu, para pemimpin PA dan pejabat juga menolak klaim Yahudi atas Tembok Barat danyang masih bersikeras bahwa Temple Mount pernah berdiri di daerah tersebut.

Mengklaim dalam dokumen baru itu bahwa  Al-Buraq, seperti yang dikenal di kalangan Muslim, merupakan properti Waqaf yang dimiliki oleh sebuah keluarga Muslim Aljazair-Maroko.

Dokumen itu mengklaim bahwa tidak ada satu batu di dinding tersebut yang termasuk era Raja Solomon (Nabi Sulaiman).

Studi itu juga berpendapat bahwa jalan sebelah Tembok Al-Buraq tidak pernah menjadi sebuah jalan umum, tapi didirikan hanya untuk penggunaan bagi Muslim yang tinggal di daerah tersebut atau yang sedang menuju ke masjid di Haram Al-Sharif.

"Penjajah Zionis keliru dan tidak adil dengan mengklaim bahwa mereka memiliki dinding ini, yang mana mereka sebut sebagai Tembok Barat atau Kotel," Taha, yang juga seorang penyair dan penulis terkenal Palestina, menulis dalam proyeknya.

"Dinding Al-Buraq pada kenyataannya adalah dinding barat dari Masjid Al-Aqsa."

Dia menambahkan bahwa orang Yahudi tidak pernah menggunakan situs tersebut untuk beribadah sampai Deklarasi Balfour tahun 1917.

"Tembok ini tidak pernah menjadi bagian dari Kuil Solomon, sebagaimana itu disebut, tapi toleransi Muslim mengizinkan orang Yahudi untuk berdiri di depannya dan menangisi kehancurannya," tulisnya.

"Selama mandat Inggris di Palestina, jumlah orang Yahudi yang mengunjungi dinding meningkat ke titik di mana umat Islam merasa terancam, dan kemudian ada Revolusi Al-Buraq pada tanggal 23 Agustus, 1929 di mana puluhan kaum Muslimin menjadi martyr dan  orang Yahudi terbunuh. "

Taha merujuk pada perlawanan Arab di seluruh Palestina atas akses ke Kompleks al-Aqsa dimana 116 warga Arab tewas selama beberapa minggu.

Penulis, yang berafiliasi dengan faksi Fatah dan  Mahmoud Abbas, menekankan bahwa selama beberapa dekade terakhir, orang Yahudi telah gagal untuk membuktikan bahwa dinding tersebut memiliki hubungan dengan agama mereka.

"Banyak penelitian yang diterbitkan oleh para ahli Yahudi telah menegaskan bahwa tidak ada bukti arkeologis bahwa Temple Mount dibangun selama periode Raja Salomo," tambah koran itu. "Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa Al-Buraq adalah dinding Muslim dan merupakan bagian integral dari Masjid Al-Aqsa dan Haram al-Sharif. Tidak seorang pun memiliki hak untuk mengklaim kepemilikan atasnya atau mengubah fitur-fitur atau karakter aslinya. Juga, tidak ada yang memiliki hak untuk menyetujui  tindakan rasis negara pendudukan itu dan penindasan mereka terhadap sejarah dan tempat-tempat suci."

Penelitian Kementerian PA juga memperingatkan bahwa "tidak ada Muslim atau Arab atau warga Palestina memiliki hak untuk menyerahkan satu batu dari tembok Al-Buraq atau situs agama lainnya."

Tembok Al-Buraq adalah bagian dari dinding barat Masjid Al-Aqsa- dimana Nabi Muhammad SAW mengikat kuda bersayapnya, Al-Buraq, selama perjalanan malam ke Al-Aqsa. Ini terletak dekat Gerbang Magharba Al-Aqsa. Namun orang Yahudi, salah mengklaim bahwa itu adalah bagian dari apa yang  mereka sebut sebagai "Kuil", telah membuat ritual berdiri di depannya, dan meratap atas kekuasaan yang mereka katakan telah hilang karena umat Muslim.

Meskipun kekurangan bukti untuk mendukung klaim ini, mereka telah mengubahnya menjadi sebuah kuil Yahudi sejak pendudukan pada tahun 1967, dan telah melakukan penggalian arkeologi  di bawahnya serta dinding lain Masjid Al-Aqsa, dalam persiapan untuk menguasai keseluruhan Masjid.

iw/jp/suaramedia.com