11 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 17 Oktober 2021

basmalah.png

"Trinitas" AS, Landasan Munculnya Perang Tanpa Henti

http://suaramedia.com/images/resized/images/stories/4berita/1-8-opini/buku_washington_rules_200_200.jpg

Andrew Bacevich menulis sebuah buku yang ditulis dengan baik mengenai militer AS dan pengaruhnya di Amerika Serikat. Tulisannya provokatif, menantang, berlandaskan penelitian yang baik, informatif, dan dapat dipedebatkan. Hanya seseorang yang mengetahui retorika AS terhadap isu-isu global dan mengabaikan banyak peristiwa penting dalam urusan luar negeri AS baru-baru ini yang mungkin bisa mengetahui presentasi dan anggapan mengenai kebijakan luar negeri dan militer AS.

Karya terbaru bertajuk "Washington Rules" tersebut diberi judul yang tepat dan berfokus pada satu tema utama bahwa Washington – struktur politik dan militer pemerintahan AS – yang bertanggung jawab dan merupakan satu-satunya negara yang mampu mengendalikan perdamaian dunia melalui kekuatan militer.

Hal ini berujung pada "trinitas" Bacevich, yaitu: Kehadiran militer global, proyeksi kekuatan global, dan invervensi global. Tiga unsur tersebut telah diterapkan dalam berbagai pemerintahan AS, mulai dari Eisenhower, Kennedy, Johnson, Nixon, hingga Bush, Clinton, dan Bush junior.

Hal itu memperlihatkan bahwa yang diterapkan bukan gagasan Partai Demokrat atau Republik, melainkan sebuah institusi pemerintahan yang dijalankan semua presiden, termasuk Obama. Media AS mempresentasikan presiden sebagai pengambil keputusan.

Tentunya ada perbedaan dalam pendekatan, penggantian gagasan dan cara, perubahan struktur dan alat, namun "keyakinan Amerika terhadap kepemimpinan global dan trinitas suci praktik militer AS membuat AS berada dalam krisis keamanan nasional yang permanen."

Krisis permanen tersebut, awalnya dijalankan dengan antikomunisme, dan kini oleh antiterorisme. Strategi tersebut "mendorong Amerika Serikat ke dalam kondisi yang mendekati perang tanpa henti."

Ironisnya, meski amat terlibat, "Ketergantungan terhadap militer mungkin saja menciptakan alasan demi alasan bagi Amerika Serikat untuk menghindari pertempuran yang serius, sehingga tidak perlu menanggapi apa yang dipikirkan orang lain atau mempertimbangkan kemungkinan perbedaan aspirasi mereka dari kita," tulis Bacevich.

Hal itu juga mengarah pada alasan untuk menghindari pertempuran yang serius hingga "para warga negara AS tidak lagi mempertanyakan perintah pertama mengenai dasar-dasar kebijakan keamanan nasional."

Pernyataan-pernyataan tersebut, berasal dari seorang pensiunan kolonel Angkatan Darat AS yang mempelajari semuanya setelah runtuhnya Tembok Berlin, merupakan tuduhan yang kuat terhadap struktur militer, politik, dan ekonomi yang membiarkan sebuah negara berperang sembari mengabaikan masalah-masalah dalam negeri. Perang di Irak dan Afghanistan lebih diutamakan dibanding perbaikan di Cleveland dan Detroit.

Pendidikan menjadi bagian dari jawaban "saat warga negara Amerika memperlihatkan kesediaan untuk berperang dengan yang lain, digabungkan dengan keberanian untuk berkonflik dengan diri mereka sendiri, baru kemudian pendidikan yang sebenarnya mungkin telah dimulai."

Setelah kata pengantar, Bacevich membawa para pembacanya melalui berbagai peristiwa dalam kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan presiden yang berbeda-beda.

Mulai dari Eisenhower, garis dasarnya adalah paradigma dominasi global melalui berbagai aktivitas rahasia, mulai dari CIA di bawah kepemimpinan Allen Dulles hingga aktivitas tidak rahasia dengan pendirian Komando Udara Strategis di bawah arahan Jenderal Curtis LeMay. Berbagai "keberhasilan" CIA di antaranya adalah penggulingan demokrasi konstitusional Mossadegh di Iran pada 1953 dan kudeta yang dilakukan atas hasutan CIA yang menggulingkan pemerintahan demokratis Jacobo Arbenz Guaman di Guatemala. Keberhasilan LeMay adalah penciptaan kekuatan pesawat pengebom nuklir yang rencana perangnya ia rancang tanpa mengkhawatirkan biaya.

Dari situ, Bacevich kemudian mengajak pembaca ke depan. Masa pemerintahan Kennedy mengalami perang di Kuba dan Vietnam, dua peristiwa penting yang semakin memperkuat lekatnya AS terhadap "trinitas" urusan global.

Vietnam adalah sebuah perang yang dijalani untuk mempertahankan konsensus Washington. Perang tersebut timbul setelah semua telah dikatakan dan dilakukan untuk mengubah pasukan rakyat menjadi pasukan profesional. Para pengambil keputusan kemudian bebas menggunakan kekuatan militer karena rakyat Amerika sudah tidak lagi memiliki militer.

Mantan duta besar PBB dan menlu AS, Madeleine Albright dijadikan fokus Bacevich untuk mendemonstrasikan bagaimana kekuasaan Washington diperbarui secara penuh untuk menghadapi milenium baru.

Bacevich mengutip empat pernyataan penting Albright, dua di antaranya paling menonjol, yakni, "Apa gunanya memiliki kekuatan militer lebih yang selalu dibicarakan jika kita tidak bisa menggunakannya?" dan "Kita adalah Amerika, negara yang tidak bisa digantikan. Kita berdiri di atas, melihat lebih jauh ke masa depan."

Masa kepresidenan Jimmy Carter sering dianggap media sebagai masa yang "damai", namun Carter melakukan lebih banyak dari bagiannya untuk mendorong kekuatan militer AS. Ia mengingkari janjinya untuk menarik pasukan dari Korea. Di bawah pengawasannya, Pentagon "mulai mengembangkan pangkalan baru yang besar di Samudra Hindia di pulau Diego Garcia milik Inggris, sebuah proyek yang melibatkan pengusiran penduduk asli pulau."

Pembersihan etnis dari jajahan Inggris tersebut dilakukan untuk mendirikan pangkalan besar di Samudra Hindia yang kemudian diawasi AS dan menjadi basis operasi di seluruh kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Langkah yang besar diambil di Timur Tengah. Bukannya mengurangi kekuatan militer di luar negeri setelah Perang Dingin, Carter justru membawanya ke Timur Tengah dan menyebut upaya apa pun dari kekuatan luar untuk mengendalikan kawasan itu sebagai "sebuah ancaman bagi kepentingan vital Amerika Serikat dan akan dilawan dengan segala hal yang perlu, termasuk dengan menggunakan kekuatan militer."

Pangkalan operasi di luar negeri, pengembangan yang cepat, amunisi yang "tepat", dan pasukan menjadi norma baru setelah Perang Vietnam berakhir.

Setelah itu, muncul blokade Irak, serangan 9/11 yang "tidak diperkirakan" dan disusul oleh "pembebasan Irak".

Bagian terakhir buku tersebut menjabarkan mengenai dominasi kehadiran militer yang semakin memperpanjang peranan Washington dalam era perang tanpa akhir. "Perang panjang" dan "perang global melawan teror", dua istilah yang kini tengah berusaha dilupakan – berikut elemen-elemen "perang salib" Bush – mewakili sebuah era saat perang tanpa batasan menjadi kebijakan yang dapat diterima.

Kongres AS yang dikuasai Demokrat secara berkala mengambil suara untuk uang yang diperlukan guna memastikan kelanjutan perang, secara taktis menandakan kesetiaan mereka terhadap konsensus Washington. Meski kampanye kepresidenan Obama dibungkus slogan perubahan, tapi hanya menghasilkan hal-hal yang semakin memperkuat status quo.

Penambahan pasukan ke Afghanistan – yang dilakukan dengan mencontoh penambahan pasukan Irak – memperlihatkan bahwa dengan meningkatkan jumlah pasukan militer AS di sana, presiden ingin mengesahkan perang panjang. "Kampanye Kontra-pemberontakan" atau COIN, atau yang lebih akurat disebut "kampanye target pembunuhan" menjadi gagasan baru yang diperkenalkan dalam "perang Obama." (dn/mo/suaramedia.com)