14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Preman Berjasa Jadikan Hitler & Mussolini Penguasa

http://static.inilah.com/data/berita/foto/854451.jpg

Premanisme tidak berdiri sendiri, biasanya selalu ditopang oleh kekuatan politik. Di Eropa, premanisme bukan hanya sekumpulan orang melainkan cara untuk merebut kekuasaan.

Itulah yang dilakukan oleh Adolf Hitler di Jerman dan Bennito Mussolini di Italia. Keduanya menggapai puncak kekuasaan karena disokong oleh organisasi preman sebelum akhirnya didukung oleh kelompok militer.

Sejarah mencatat, salah satu organisasi sayap Partai NAZI adalah Sturm Abteilung (SA) alias Pasukan Badai. Organisasi ini berisi para preman dan tukang pukul yang bertugas sebagai satgas pengamananan kegiatan-kegiatan NAZI. Bahkan, SA menjadi makin populer di mata rakyat melebih tentara Jerman pada saat itu.

Pada 1934, Hitler menjadikan SA sebagai bahan bargaining kepada pemerintah untuk menjadikan dirinya sebagai Presiden Jerman. Hitler sepakat menumpas SA dengan syarat dirinya menjadi presiden. Setelah SA ditumpas, Angkatan Bersenjata Jerman (Reichweir) berterima kasih dan mendukung Hitler menjadi Presiden Jerman.

Adapun Mussolini, pada Maret 1919 membentuk kelompok baju hitam, yakni kumpulan penjahat, kriminal, dan preman yang bertindak sebagai tukang pukul. Penampilan mereka seram dan tiap hari terlibat perkelahian di jalan-jalan.

Setelah gagal pada Pemilu 1919, Mussolini dan kelompok baju hitam menolak parlemen dan mengedepankan kekerasan fisik. Anarki pecah di mana-mana. Pemerintah liberal tak berdaya menghadapinya. Ia membawa pasukan memasuki Kota Roma.

Melihat rombongan preman berwajah angker memasuki Roma, Raja Vittorio Emanuele III menciut jeri. Mussolini diundang ke istana lalu diberi posisi sang Pemimpin. Pada Oktober 1922, Raja memintanya membentuk pemerintahan baru. Jadilah Italia dikelola pemerintahan fasis Mussolini. [historyinink/wikipedia/mah/INILAH.com]