20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Sisa-sisa Kedahsyatan Alam di Pompeii

http://100falcons.files.wordpress.com/2008/10/pompeii-dead.jpg

Mereka yang tidak lari dari kota Pompeii pada Agustus 79 AD seperti dikutuk. Terkubur selama 1700 tahun di bawah lumpur dan abu setebal 30 kaki. Selama berberabad-abad kerangka mereka tetap dimakamkan sampai penggalian di awal 1800-an.

Kini, Anda bisa melihat sisa-sisa peradaban dari kota Pompeii yang menyisakan kengerian dari salah satu bencana alam terdahsyat akibat meletusnya gunung Vesuvius di Italia. Di kota ini, Anda juga akan melihat kerangka-kerangka manusia yang terpadatkan oleh abu seperti cetakan plester.

Sekitar tiga seperempat dari 165 hektare kota Pompeii yang telah digali dan sebanyak 1.150 jenazah telah ditemukan dari 2.000 yang diperkirakan tewas ketika kota ini hancur. Ini berarti sebagian besar dari 20.000 penduduk kota melarikan diri pada tanda-tanda pertama dari aktifitas gunung berapi.

Cetakan plester dari pria, wanita, anak-anak, dan hewan dari Pompeii terutama dibuat di pertengahan 1800-an. Bangunan mereka awalnya disimpan namun menderita kerusakan parah pada Perang Dunia II. Sekarang mereka terletak di beberapa tempat di sekitar kota.

Garden of the Fugitives memegang jumlah terbesar korban yang ditemukan di satu tempat, dimana tiga belas orang mencari perlindungan di sebuah kebun buah. Sembilan sisa perlengkapan juga ditemukan di Gedung Misteri, dimana atap ambruk menjebak mereka di dalamnya.

Anda juga bisa melihat cetakan plester pemandian air panas Stabian dan pasar ikan Macellum, Horrea (lumbung) dan Olitorium (pasar).

Banyak artefak dari Pompeii sekarang berada di Museum Nasional di Naples (Museo Nazionale Archeologico Di Napoli), termasuk yang terkenal Secret Cabinet dari seni erotis.

Bila melihat ke masa lalu, hari terakhir penduduk Pompeii dimulai pada tanggal 24 Agustus, 79 AD, setelah hari libur Romawi Volcanalia yang didedikasikan untuk dewa api.

Ketika itu, di siang hari Gunung Vesuvius menderu, memuntahkan abu dengan ketinggian ratusan kaki ke udara selama 18 jam nonstop. Abu-abu ini kemudian menghujani kota-kota dan daerah pedesaan disekitarnya, mengisi halaman, memblokir pintu, dan meruntuhkan atap.

Bila membayangkan pada saat itu, Anda bisa mendengar lengkingan perempuan, tangisan bayi, dan teriakan orang. Beberapa memanggil orangtua, anak-anak atau istri-istri mereka. Dalam pekatnya abu, mereka berusaha mengenali melalui suara.

Saat itu, orang-orang meratapi nasib mereka sendiri, keluarga dan kerabatnya. Beberapa orang juga berdoa memohon bantuan kepada para dewa namun juga membayangkan bahwa dewa tidak ada bersama mereka dan mendapati kenyataan bahwa alam semesta diliputi kegelapan kekal sampai selama-lamanya.

Keesokan harinya, kerucut gunung runtuh, memicu longsor dari ratusan mil lumpur dan abu yang membanjiri Pompeii dan menghancurkan segala sesuatunya di jalan.

Akibat kejadian ini, Pompeii dan desa Herculaneum menghilang. Sisa-sia ini baru ditemukan oleh ketidaksengajaan selama pembangunan Istana Bourbon Charles di 1738. Ajaibnya, kedua kota itu hampir sempurna terpelihara di bawah lapisan abu. (*/X-12)

MediaIndonesia.com