20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
ARTIKEL UMUM

Mengapa AS Menjadi Kawan Baik Israel?

http://gerontios48.files.wordpress.com/2009/09/israel-nuclear-arsenal.jpg

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Banyak warga AS yang bertanya-tanya mengapa negara tersebut terus saja memberikan uang pajak sebesar 3 miliar dolar setiap tahun untuk Israel dan tidak membelanjakannya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Banyak warga AS bertanya-tanya mengapa negara tersebut memberikan tambahan bermiliar-miliar lagi dalam bentuk bom penembus bunker. Banyak warga AS yang heran mengapa AS selalu memveto resolusi PBB yang menentang tindakan Israel, meski yang mereka lakukan jelas-jelas melanggar hukum internasional. Pendeknya, banyak yang bertanya-tanya mengapa AS dan Israel menjadi kawan baik yang tak terpisahkan.

Mengapa? Karena AS dan Israel punya begitu banyak kesamaan. Siapa yang tidak suka knish atau latke di AS? AS dan Israel amat mirip.

Keduanya sama-sama memuja AIPAC (Komite Urusan Publik Amerika Israel), yang berfungsi sebagai penyampai pesan antara AS dan Israel. Israel memberitahu AIPAC apa yang diinginkannya, sementara AIPAC meminta para anggota Kongres AS megabulkan permintaan itu tanpa banyak tanya (jika mereka masih suka pekerjaan mereka).

Keduanya jelas memiliki nilai moral yang sama. Misalnya, keduanya sepakat menghabisi seorang ulama yang duduk di atas kursi roda dengan meluncurkan peluru kendali TOW dari helikopter Apache. Padahal, mendekati lalu menembak kepala orang cacat pun tidak bisa dbenarkan.

AS dan Israel sama-sama menyetankan “teroris” yang menggunakan pengebom bunuh diri. AS dan Israel sering membantai orang-orang tak bersalah dengan membabi buta, memburu orang dengan menggunakan helikopter Apache atau drone Predator yang bisa meledakkan mereka kapan saja.

Tapi, kemiripan paling signifikan antara AS dan Israel adalah cara keduanya tercipta. AS dan Israel menjalani jalur yang serupa dalam mendirikan pemerintahan.

Masalah besar dalam proses berdirinya AS dan Israel ada hubungannya dengan para penduduk asli. Jadi, wajar saja bagi Israel bertanya kepada AS, “Bagaimana cara kalian mengatasi penduduk asli? Karena kita punya nilai moral yang sama, kami ingin memperlakukan penduduk asli dengan cara yang sama.” Karena menyadari ada begitu banyak kesamaan, keduanya cepat menjadi sahabat.

Hal pertama yang diperlukan untuk mendirikan sebuah negara adalah tanah. Sayangnya bagi AS dan Israel, tanah yang mereka butuhkan “diduduki” oleh orang-orang yang telah menetap dan bekerja di atas tanah itu selama berabad-abad. Tapi untungnya bagi AS dan Israel, baik suku Indian maupun orang-orang Palestina sama-sama tidak memiliki persenjataan memadai.

Awalnya, baik AS maupun Israel sama-sama mencoba berbicara dengan “sopan” kepada penduduk asli. Mereka mengatakan sesuatu seperti, “Ya, benar bahwa kalian telah bekerja di tanah ini untuk berabad-abad dan menganggapnya rumah kalian, tapi bisakah kalian berkemas dan enyah karena kami butuh tanah kalian.”

Dalam masing-masing kasus, penduduk asli sama-sama diberitahu bahwa “Tuhan memberikan tanah mereka kepada kami.” Apakah seorang penduduk Palestina yang waras akan mengatakan, “Oh, jadi Tuhan memberikan tanah ini pada kalian, kenapa tidak bilang, biarkan saya melihat ladang yang saya garap seumur hidup, tanaman zaitun yang ditanam buyut saya, untuk terakhir kalinya lalu saya pergi.”

Sama seperti warga asli benua Amerika, penduduk Palestina kesal dan marah karena Israel mencuri tanah mereka secara terang-terangan dengan menggunakan kekuatan militer. Mereka menolak ditendang keluar dari tanah mereka sendiri.

AS kemudian menyarankan Israel untuk “menyadarkan” penduduk Palestina dengan membantai beberapa desa (taktik yang terbukti menggoyahkan penduduk asli Amerika yang “menduduki” tanah AS dengan “keras kepala”). Sayangnya bagi Israel, banyak penduduk Palestina yang masih menolak meninggalkan tanah tumpah darah mereka.

AS dan Israel pada akhirnya sama-sama mampu memaksa ratusan ribu penduduk asli hengkang dari tanah yang mereka tinggali selama berabad-abad. Keduanya mengklaim “kedaulatan” atas tanah penduduk asli yang ditinggalkan, tapi nyaris saat itu juga mulai merampas tanah-tanah yang tersisa dengan kasar.

Keduanya menganjurkan pembangunan permukiman ilegal di tanah-tanah tersebut. Tak terelakkan lagi, banyak penduduk asli terpaksa berjuang di bagian tanah yang gersang. Yang berani-berani melawan dicap sebagai “orang barbar” oleh AS, dan dicap “teroris” oleh Israel. Tentu saja, memusnahkan “orang barbar” dan “teroris” amat legal bagi AS dan Israel. (dn/oj)