15 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 25 Juli 2021

basmalah.png

Semasa Hidup Paus Paulus II Sering Mencambuk Dirinya Sendiri

Sebuah buku yang menceritakan kehidupan Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan bahwa semasa hidup ia secara teratur memcambuk dirinya sendiri. Kebiasaan itu dilakukan untuk meniru penderitaan Yesus. Sebuah dokumen rahasia yang ditandantanganinya menyebutkan, Paus akan mengundurkan diri dan tidak ingin memimpin umat Katolik selamanya , jika ia menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan.

Buku itu berjudul Why He Is a Saint: the Real John Paul II, ditulis oleh Monsignor Slawomir Oder, pejabat Vatikan yang bertanggung jawab atas proses pengangkatan pemimpin Katolik yang telah wafat menjadi orang suci (saint).

Paus Paulus II pernah ditembak hingga nyaris tewas pada tahun 1981. Ia menjalani beberapa operasi, termasuk operasi kanker, dan menderita Parkinson selama lebih dari 10 tahun, sebelum akhirnya wafat tahun 2005.

Proses pengangkatannya sebagai orang suci semakin dekat, setelah akhir 2009 Paus Benediktus XVI menyetujui sebuah  keputusan yang mengakui  pendahulunya itu telah menjalani kehidupan dalam ajaran Katolik dengan heroik.

Mengutip cerita dari orang-orang di sekitarnya selama menjadi Uskup Polandia dan terpilih menjadi Paus tahun 1978, buku itu menulis bahwa Paus Paulus II sering menimbulkan sakit pada dirinya sendiri, agar merasa lebih dekat dengan tuhan.

"Dalam lemarinya, di antara jubah-jubah, tergantung semacam sabuk yang digunakan sebagai cambuk," tulis Oder.

Ketika masih menjadi Uskup, ia sering tidur di lantai, untuk melakoni ritual penyangkalan diri dan asketisme.

Banyak orang suci gereja, termasuk St. Francis of Assisi, St. Catherine of Siena, dan St. Ignatius of Loyola, mempraktikkan pencambukan diri dan asketisme sebagai bagian dari kehidupan spiritual mereka.

"Jelas sekali aspek penyesalan diri ada dalam kehidupan Paus Yohanes Paulus II," kata Oder dalam sebuah konferensi pers akhir Januari kemarin. "Hal itu harus dipandang sebagai bagian dari hubungan mendalam dengan tuhan."

Buku itu menegaskan, kondisi kesehatan Paus sesungguhnya memang tidaklah bagus. Yohanes Paulus II menyiapkan sebuah dokumen yang menyatakan dirinya akan mundur dari jabatannya, jika ia menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan sehingga menghalangi tugasnya sebagai Paus.

Paus menandatangani dokumen itu pada tahun 1989, delapan tahun setelah peristiwa penembakan atas dirinya. Keberadaan dokumen selama ini menjadi rumor, namun terbukti dengan diterbitkannya isi dokumen secara lengkap dalam buku tersebut.

Pada akhirnya Paus bertahan hingga akhir hayatnya, dengan alasan demi kebaikan gereja. Jika ia jadi memutuskan untuk turun tahta, maka ia akan menjadi Paus pertama yang melengserkan diri sejak 1294, ketika Selestinus V memutuskan untuk tidak melanjutkan tugasnya.

Langkah selanjutnya agar bisa diangkat menjadi orang suci, Paus Paulus II membutuhkan satu bukti "keajaiban" yang diakui orang-orang terdapat dalam dirinya. Dan itu pun sepertinya sudah tersedia. Seorang biarawati Prancis mengatakan, ia sembuh dari sakit Parkinson yang dideritanya, setelah berdoa dan memohon kepada Paus Yohanes Paulus II.

di/grd/www.hidayatullah.com