5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Menyusuri Cafe Naguib Mahfouz

Perjalanan ke Kairo pastilah tidak lengkap bila tidak mengenang kebesaran penerima nobel sastra 1988, pujangga Naguib Mahfouz. Selain membaca karya-karyanya yang agung, sebaiknya menyusuri aneka café tempat ia menggali inspirasi. Sungguh pengalaman sangat mengasyikkan.

Jangan pernah bertanya bagaimana sebuah karya sastra bisa terlahir, sebab ia muncul di mana saja. Sastrawan adalah orang bebas yang mampu menelorkan ide-idenya pada tempat-tempat yang unik untuk ukuran umum. Tidak perlu di tempat yang sunyi di tengah keheningan alam, bisa juga di tengah keramaian pasar yang penuh kegaduhan.

Salah satu novel terbaik Nagib Mahfouz yang berjudul Awlad Haratina (Anak-anak di kampung kita) justru lahir di tengah pasar tradisional yang bernama Khan Halili yang berdekatan dengan Masjid Al-Azhar lama. Membayangkan pasar ini tentu tidaklah sulit karena mirip dengan Pasar Bringharjo di Yogyakarta atau pasar Mayestik di Jakarta Selatan.

Di tengah-tengah pasar itu terdapat sebuah café yang kabarnya telah berdiri sejak tahun 1800-an. Inilah tempat nongkrong para pedagang kelontong, souvenir sampai sayur-mayur dan pengunjung pasar. Di situlah café El Fishawy (Qahwah Al Fishawy) sampai saat ini tetap eksis. Bahkan kini banyak sekali para turis yang ikut nongkrong untuk mengenang kebesaran sang sastrawan sambil menyeruput secangkir teh seharga kurang dari 1 dolar. Tempatnya khas, tiada duanya. Pikiran kita-pun menjadi berkelana membayangkan sang pujangga menulis novelnya.

Naguib Mahfouz sendiri telah menghembuskan napas terakhirnya pada saat matahari menyingsing, 30 Agustus 2006 pada usia 95 tahun. Pria jangkung kurus dengan muka lonjong ini kemudian didaulat sebagai penghulu novel modern dunia Arab. Dialah satu-satunya sastrawan dari Arab yang pernah meraih hadiah nobel pada tahun 1988 dengan lebih 50 karya novel dan kumpulan cerita yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Salah satu novelnya yang sangat dikenal, ya itu tadi: Awlad Haratina yang terbit awal tahun 2006 setelah dilarang terbit lebih dari 45 tahun karena dianggap bertentangan dengan doktrin Islam.

Menurut pengamat sastra MG Romli, keunggulan karya-karya Mahfouz terletak pada kepiawaiannya menyerap ide-ide peradaban manusia dan menuangkannya kembali dalam kisah sastra. Ia sangat beruntung lahir di Mesir sebagai tempat pertemuan peradaban-peradaban besar dunia. Sebuah negeri yang tercipta dari akumulasi serpihan peradaban dan Mahfouz mampu mengisahkan sejarah panjang itu dalam bentuk novel-novelnya sejak jaman Firaun hingga zaman modern.

Karya-karya Nagib Mahfouz adalah kisah tentang peradaban-peradaban itu sendiri. Peradaban yang senantiasa bergumul dan berdialog tanpa henti. Kadang harmonis, kadang pula diisi dengan kekerasan dan konflik. Karyanya semakin lengkap karena negeri para Farao tersebut sempat juga sempat dijajah negeri Barat; Perancis, Turki dan Inggris.

Untuk sedikit lebih mengenal karyanya yang fenomenal, seorang pembaca sastra bernama Akmal menuliskan kesannya tentang salah satu novel Nagib Mahfouz yang berjudul “The Harafish” yang terbit pada tahun 1977. Menurutnya, Nagib Mahfouz melakukan dobrakan telak atas pakem novel umum dalam karya ini. Jika novel biasanya hanya menceritakan kisah satu orang tokoh utamanya dalam menghadapi berbagai permasalahannya, maka Harafish adalah kisah hidup suatu garis keturunan. Dimulai dari tokoh Asyur al-Nagi, kemudian setiap babnya berlanjut menceritakan tokoh yang berbeda-beda, namun kesemuanya berasal dari garis keturunan al-Nagi.

Cafe Naguib Mahfouz

Harafish artinya adalah orang-orang biasa, namun kesan yang didapat dari buku ini sangat jauh dari biasa. Selain alur ceritanya yang tidak biasa, Mahfouz pun menawarkan perspektif yang sangat tidak biasa dengan bercerita tentang kehidupan sekelompok orang yang selalu berkaitan dengan leluhurnya, yaitu Asyur al-Nagi.

Asyur Al Nagi adalah pahlawan bangsanya. Meskipun ia hidup miskin hingga akhir hayatnya, namun ia adalah pemimpin de facto di kampungnya. Dengan kebijaksanaannya, orang-orang kaya tidak berani mempermainkan hidup orang miskin, sedangkan yang miskin selalu mendapatkan haknya. Asyur menghilang pada suatu malam, menjadikannya bak tokoh legenda yang terus menjadi bahan pembicaraan di kampung itu hingga puluhan tahun sesudahnya.

Keturunan pahlawan, pada kenyataannya, tidak selalu menjadi pahlawan. Perspektif yang jujur inilah yang menjadikan Harafish begitu memikat untuk dibaca. Adakalanya, kehormatan leluhur justru menjadi beban bagi para penerusnya, bahkan ada pula yang membencinya. Dari sisi ini, Harafish bisa menyentuh banyak orang. Banyak keluarga yang memiliki leluhur pahlawan, sekaligus juga yang bajingan. Pergulatan keturunan Asyur al-Nagi sebenarnya sangat dekat dengan realita sehari-hari, bahkan lebih dekat daripada yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Cafe Naguib Mahfouz
Café El-Fishawy

Tidak ada yang istimewa dari café el-Fishawy dari sisi tempat, lokasi maupun tata ruangnya. Di mata orang Indonesia, bisa dibilang kedai kopi yang berada di tengah pasar tradisional terbesar di kota Kairo, ibukota Mesir. Inilah pasar wajib kunjung bagi para wisatawan papan bawah. Di café ini tidak dijual makanan berat, melainkan hanya minuman tradisional seperti syai bi ni’na (teh dengan mint), helbah (minuman dengan biji-bijian warna kuning), salhab (campuran krem, serut kelapa dan kismis) serta jus lemon.  Minuman modern hanya ada Coca-Cola dan Pepsi.

Karena letaknya betul-betul di tengah pasar maka jangan harap disini ada keheningan.  Belum selesai menyeruput teh panas yang disajikan, seorang pedagang keliling sudah menjajakan aneka perhiasan dari manik-manik pada kisaran 5 pound, atau satu dolar AS. “La, la. Syukron,” kataku menolak sembari mengucap terima kasih.

Belum satu menit berlalu, seorang tukang semir sepatu lewat dan dengan suaranya yang keras meminta kita mencopot sepatu. Lagi-lagi harus bersyukron ria. Belum juga tiga seruputan teh, seorang wanita berkulit hitam menjajakan jasanya untuk melukis telapak tangan yang biasa disebut hena.

Café ini persis di lorong utama pasar. Bahkan sebagian bangku-bangkunya juga berjajar di lorong yang panjangnya sekitar 15 meter itu. Setiap meja, tersedia tiga sampai empat kursi. Pada meja-meja yang sudah dibooking, kursinya akan ditaruh diatas meja tersebut. Meja dan kursi semuanya berwarna coklat tua, dan meski tampak usang, tulisan El-Fishawy pada leher kursi masih tampak jelas. Jangan lupa, di lorong ini bila siang sudah tiba maka lalu lalang manusia pengunjung pasar menambah semarak suasana, sering menyenggol pelanggan café yang sedang menghisap pipa panjang atau menyeruput kopi.

Di bagian ujung dari café, tampak para pedagang menjual aneka souvenir dan garmen. Rupanya, pasar ini sudah sangat terkenal sebagai tempat jual beli cendera mata dari Kairo seperti patung para dewa yang disembah pada zaman Farao hingga kaos bergambarkan piramid. Tawar menawar harus dilakukan dan bagi yang sudah cas-cis-cus bahasa Arab, maka harga bisa melorot sampai separuh.

Selain itu, café ini juga menempati bagian dalam yang mampu menampung sekitar 50-an pengunjung. Di bawah lampu yang cukup temaram dan aneka suara bersisik dari pedagang keliling maupun tukang semir, para pengunjung tampak cuek bebek, tidak perduli, menikmati hidangan teh, kopi dengan gelas dan ceret yang sudah kelihatan berkarat. Tampak juga, beberapa orang asyik ngobrol dengan shisyanya yang terus mengepul. Para pelayan dengan sigap menarik gelas yang tidak terpakai atau menghidupkan shisya yang sudah setengah mati.

Di bagian dalam, terdapat satu ruangan kecil yang disekat dengan partisi ukiran Mesir berwarna coklat tua. Ruang ini hanya dua kali dua meter saja dan terdapat empat bangku satu meja di dalamnya. Terkesan sempit karena memang tidak ada jendela. Satu-satu penerangan hanya datang dari lampu di atasnya pada kisaran 25 watt. Sekilas tempat ini sumpek, apalagi ketika para penjaja barang dan tukang semir masuk ke dalamnya. Tapi, tempat inilah yang oleh banyak orang disebut Pojok Nagib Mahfouz.

Menurut para pelayan, sang pujangga yang tinggal tidak jauh dari pasar Khan Halily itu hampir setiap pagi dan sore datang dan mojok di “Pojok Nagib Mahfouz”. Selama berjam-jam Nagib Mahfouz menyeruput teh sambil menulis dan kadang menyedot shisya. Rupanya ia tidak terganggu oleh ramainya suasana. Ia menikmatinya dengan sangat.

Tidak mengherrankan kalo di tempat ini telah menginspirasi sebuah master piece yang sarat kritik sosial “Awlad Haratina” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Children of the Alley. Sebuah novel yang menceritakan bagaimana siklus kehidupan dalam sebuah kampung, khususnya keluarga Gabalawi.  Inilah novel awal Mahfouz yang bercerita tentang kemenangan, penderitaan, moral, keadilan dan harapan spiritual.

Bisa jadi, aneka keriuhan pasar justru merupakan gambaran masalah sosial yang kemudian dipotret dan dimanifestasikan dalam bentuk novel yang sangat terkenal itu. Bagi kita para pelancong, menikmati café ini akan menjadi kenangan hidup yang unik dan tidak mudah dilupakan.

Café Riche

Café ini terletak persis di jantung kota Kairo, atau persisnya di jalan Tala’at Harb. Tidak jauh dari museum Negara yang menyimpan aneka mumi dan peninggalan para Farao, juga perempatan dimana semua gedungnya bernuansa Eropa. Di tengah keramaian itu, berdiri kokoh seorang ekonom kenamaan, pendiri Bank of Egypt, Ustadz Tala’at Harb. Karena terletak di daerah yang sangat ramai, jangan harap Anda bisa dapat parkir di pinggir jalan. Sejak jam 09.00 pagi kendaraan sudah merayap, dan makin siang kemacetan menjadi pemandangan biasa.

Lain dengan café El-Fishawy, café Riche atau dalam huruf Arab dimanifestasikan dalam huruf ra, ya dan syin ini, merupakan café yang relatif elit. Disini selain kopi dan teh yang menjadi minuman wajib, para pengunjung dapat menikmati aneka makanan berbudaya Barat, seperti omelet, croissant, roti-roti berkeju & bersele, salad dan lainnya. Minuman asing beralkohol hampir semua ada disini, dipajang di bar dengan sorot lampu yang terang.  Adapun buku menunya dicetak dalam 3 bahasa: Arab, Inggris dan Perancis. Karenanya pula, perbadingan harga di Fishawy dan di Riche adalah bainas sama wal ard (antara langit dan bumi).

Café ini memiliki tiga ruang besar, bagian depan, dalam dan bawah tanah. Di bagian depan mampu menampung 75-an pengunjung, sedangkan ruang dalam lebih banyak lagi. Ruang bawah hanya digunakan apabila ruang lain sudah penuh dan seringkali untuk menyimpan berbagai persediaan café serta buku-buku. Jangan lupa, disini kita bisa menikmati aneka majalah berbagai bahasa baik itu berita harian, sastra maupun informasi menarik lainnya. Bangku-bangkunya cukup modern dengan kain taplak yang diatur secara rapih sesuai kaidah tata boga ala Barat.

Yang unik adalah ruang bagian dalam. Di temboknya, terpajang puluhan foto para sastrawan Mesir yang sering dan pernah bertandang ke café ini, seperti Abbas Al-Aqqas, Taha Hussein, Kmal Al-Malakh, Philip Al-Khatib dan Al-Khamisy. Tapi gambar yang terbesar dan dipajang paling tinggi posisinya adalah foto Naguib Mahfouz. Mungkin pemilik café hanya ingin menunjukkan bahwa sang pujangga inilah dewa para sastrawan Mesir. Maklum, di café inilah lahir beberapa novel Mohfouz lahir seperti Al-Karnak (1974) yang menceritakan masa sulit dalam sejarah modern Mesir dimana kekejaman sering terjadi tanpa sebab yang jelas. Novel ini menarik karena menjadikan café sebagai setting cerita.

Di ruang ini pula, sampai saat ini sering dilakukan pertemuan rutin para sastrawan dan jurnalis terkemuka Mesir untuk membicarakan aneka perkembangan politik Timur Tengah yang selalu panas serta soal budaya yang tidak pernah habis dikuliti.

Di depan kasir, terpampang foto besar hitam putih seorang wanita muda dengan gaun rok panjang dan rambut dibiarkan teruari. Wanita ini sebelum menanjak sebagai selebriti yang dikenal du dunia pada era 70-80an sering manggung di café Riche. Siapapun di Mesir mengenalnya dan bahkan sampai saat ini belum ada tandingannya. Dialah Ummi Kulsum, penjayi Arab yang dipuja-puja sepanjang masa.

Menurut seorang pelayan yang sering dipanggil Ammu Filfil (Si Lada Hitam), semasa hidupnya Mahfouz sangat sering berkunjung ke café Riche dan dilayani langsung olehnya. Sang pujangga yang baik hati itu sering hanya minum secangkir kopi sambil berlama-lama membaca dan menulis. Begitu habis kopinya, ia kembali memanggil Filfil untuk menambah secangkir lagi.

Hari itu, sengaja saya datang pagi-pagi, persis pada saat dahulu Nagib Mahfouz bertandang ke café Riche. Untuk sarapan, saya pesan omelet dengan keju, roti Arab plus teh panas. Suasana masih cukup sepi, tapi begitu menjelang jam 11.00 banyak turis dan pengunjung setempat datang. Mereka seperti saya, mencoba membaca buku dan mencari inspirasi, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sang pujangga.

Ah benar saja, tidak terasa hari mulai siang dan suara adzan dluhur berkumandang dari banyak penjuru. Saya jadi ingat kata bijak Arab, al-waktu kassaifi inlam taqto’hu qoto’aka (waktu itu bagaikan pedang, bila tidak kau gunakan maka akan memenggal lehermu). Saya-pun harus buru-buru pergi sebab dalam buku agenda, masih tersisa beberapa café Nagib Mahfouz harus disambangi sebelum masa liburan usai.

Sumber
Red: irf | Sumber Berita: Aji Surya (Moskow) | www.republika.co.id