22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Alasan Mbah Maridjan Tidak Turun

http://4.bp.blogspot.com/_Hl72bzNxBm4/Sfu042F7zNI/AAAAAAAAADk/73h1cK_S_V4/s400/mbah+marijan_2.jpgMbah Maridjan (83), sebagai juru kunci Gunung Merapi, lebih banyak melihat fenomena menggunakan naluri yang merujuk pada kebiasaan niteni (memerhatikan).

Keyakinannya tentang ancaman bahaya letusan Gunung Merapi yang hampir tidak pernah merambah Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, memberikan pelajaran niteni bahwa lingkungan alam di sisi selatan Gunung Merapi masih merupakan benteng pertahanan bagi warganya.

Dalam kosmologi keraton Yogyakarta, dunia ini terdiri atas lima bagian. Bagian tengah yang dihuni manusia dengan keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Keempat bagian lain dihuni oleh makhluk halus. Raja bagian utara bermukim di Gunung Merapi, bagian timur di Gunung Semeru, bagian selatan di Laut Selatan, dan bagian barat di Sendang Ndlephi di Gunung Menoreh.

Namun, jauh dari ungkapan-ungkapan itu, ada suatu keyakinan yang hidup di dalam masyarakat di sekitar Gunung Merapi bahwa gunung dengan segala macam isinya dan makhluk hidup yang mendiami wilayah ini menjadi suatu komunitas. Karena itu, ada hubungan saling menjaga dan saling melindungi.

Ketika salah satu anggota mengalami atau melakukan sesuatu, dia akan memberi "isyarat" kepada yang lain dan dia akan memberitahukan kepada yang lain. Demikian pula ketika Merapi "batuk-batuk", dia juga memberi isyarat kepada yang lain, termasuk kepada Mbah Maridjan.

Barangkali karena saat itu belum menerima isyarat, Mbah Maridjan berpendapat bahwa Merapi tidak akan melakukan sesuatu. Selanjutnya, Mbah Maridjan tidak mau diajak mengungsi (meninggalkan Gunung Merapi).

Penulis: Hertanto Soebijoto | Editor: Hertanto Soebijoto | Kompas.com

 

KOMENTAR



  • untung suropati
    Kamis, 28 Oktober 2010 | 10:12 WIB
    beliau tdk turun krn msh ada masyarakat yg blm turun. beliau benar 2x menepati janjinya kpd HB IX. pemimpin itu spt itu, menuju lap yg pertama, meninggalkan lap yg terakhir. banyakkah org ind saat ini yg punya komitmen tinggi spt beliau ?beliau tlh tiada. kita ini org Timur, janganlah mengungkit keburukan org yg tlh tiada. tdk baik. selamat jln mbah maridjan semoga amal ibadah Anda diterima di sisi Tuhan


  • kornels Turnip
    Kamis, 28 Oktober 2010 | 10:01 WIB
    Mbah Marijan adalah orang yang istimewa dengan naluri yang sangat tajam dalam membaca alam. Namun sayang NALURI yang dimiliki sudah "TUMPUL" karena terkontaminasi pengaruh modernisasi. Saya khawatir Nalurinya tumpul sejak jadi selebritis yang selalu di ekspos. Dan jadi bintang iklan komersial sebuah produk. Jika kita lihat nabi-nabi jaman peradaban kuno, hidunya jauh terasing dari hiruk pikuk keramaian.


  • titi hadiwiyoto
    Kamis, 28 Oktober 2010 | 09:57 WIB
    mbah Marijan memang orang baik..seperti org2 baik yg memang hidup dikaki gunung dan tdk membutuhkan apa2 selain ketenangan hidup...tapi lebih baik lagi orang2 yg hidup dikota dan punya kesetiakawanan yg sangat tinggi terhadap org lain..sampai tdk memikirkan nyawanya dan keluarganya dirumah demi ketidak tegaan terhadap seorang mbah Marijan..


  • akdam Buana
    Kamis, 28 Oktober 2010 | 09:54 WIB
    Bagi seorang patriot tugas ada tugas tampa harus mengeluh itu saya melihat sosok mbah Marijan, kalaupun mati dalam tugas itu lah takdirnya. Semoga kita mengerti arti kehidupan seorang mbah Marijan


  • Jusman Hafiedy
    Kamis, 28 Oktober 2010 | 09:52 WIB
    Selamat jalan m'bah semoga amal ibadah di terima Allah SWT, AMIN ........