pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Bencana Alam Muncul saat Bulan Purnama?

http://gaiagirls.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/full-moon.jpg

 

 

 

 

 

 

Bencana alam dicurigai selalu terjadi saat bulan purnama. Profesor riset LAPAN menegaskan adanya korelasi antara bulan purnama dengan kejadian bencana.

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN Thomas Djamaluddin menyebutkan faktor kosmogenik dari luar bumi perlu dicermati. Walau bukan pemicu utama bencana, tapi faktor kosmogenik perlu diwaspadai.

Faktor bulan telah mempengaruhi pasang surut (pasut) air laut di bumi. Padahal pasut ini sebenarnya juga dialami oleh kulit bumi. Walau gayanya relatif kecil dibandingkan gaya yang menggerakkan lempeng bumi dan bagian-bagiannya, diyakini pasut berpotensi memicu pelepasan energi yang berdampak gempa atau gunung meletus, kata Thomas.

Namun Thomas menegaskan pasut hanya sebagai pemicu pelepasan energi. Karena penumpukan energi sepenuhnya merupakan proses geologis di kulit bumi.

Walau secara statistik belum ditemukan bukti yang meyakinkan antara kaitan pasut maksimum bulan-matahari dengan kejadian gempa, tetapi beberapa gempa besar terjadi sekitar bulan purnama atau bulan baru, kata Thomas.

Namun untuk gunung meletus, secara statistik telah ditemukan sebagian besar gunung meletus terjadi sekitar bulan baru, atau bulan purnama.

Gaya yang dihasilkan pasang surut hanya bagian kecil dari gaya yang menyebabkan gempa bumi dan letusan gunung. Walau gayanya kecil, tetapi dapat memicu kejadian itu. Ilmuwan memang tidak mendapati korelasi pasang surut dengan gempa. Tetapi, hubungan antara pasang surut dan letusan gunung telah teridentifikasi, lapor Situs Survei Geologi Amerika Serikat.

Mauk dan Johnston (1973), dalam makalahnya On the Triggering of Volcanic Eruptions by Earth Tides, J. Geophys. Res 78(17), 3356-3362 melaporkan dari data 680 letusan gunung berapi besar sejak tahun 1900 di daratan, sebagian besar terjadi saat pasang maksimum.

Demikian juga data dari Stasiun Pengamat Gunung Berapi Hawaii (HVO) melaporkan dari 52 letusan sejak Januari 1832, sebagian besar yakni hampir setengahnya terjadi sekitar pasang maksimum.

Sekitar bulan baru atau bulan purnama, pasang akibat gravitasi bulan diperkuat oleh gravitasi matahari yang berada hampir satu garis. Akibatnya air laut naik lebih tinggi dari pasang biasa.

Air pasang akan makin tinggi bila posisi bulan dan matahari segaris dan jaraknya dari bumi pada posisi terdekat. Ini berpotensi menyebabkan pasang tinggi.

Bila efek pasang ini diperkuat oleh efek meteorologis akibat angin, maka gelombang pasang (rob) besar berpotensi terjadi. Sesuai dengan konfigurasi bumi-bulan-matahari, pasang maksimum di laut terjadi sekitar tengah malam atau sekitar tengah hari.
[ito/Inilah.com]