25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Menentang Doktrin Kristen, Manuskrip Injil Yudas Tidak Dipamerkan

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/injil-yudas.jpg&h=235&w=355&zc=1Pihak berwenang Mesir menolak untuk memamerkan "Injil Yudas" kepada para pengunjung Museum Koptik, dan memutuskan untuk menyimpannya sehingga tidak memicu kemarahan penganut Kristen di Mesir.

DR Zahi Hawass, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Barang Antik di Mesir menegaskan bahwa Injil Yudas, yang diambil kembali oleh Mesir dari Amerika Serikat pada bulan Juli tahun lalu tidak akan dipamerkan di Museum Koptik atau di museum Mesir manapun, tapi hanya akan disimpan di gudang penyimpanan museum Koptik demi menjaga perasaan penganut kristen Koptik.

Isi manuskrip tersebut menyoroti serangan Isa Al-Masih kepada para imam dan pengikutnya, mengklaim bahwa mereka akan menggiring rakyat gereja kepada pembantaian sebagai pengorbanan. Serta memberikan penjelasan tentang mitos asal-usul dunia. Menganggap semua murid-murid Yesus di atas kebatilan, sedangkan hanya Yudas sendiri yang berada diatas jalan yang benar. Injil tersebut menunjukkan bahwa murid-murid Yesus telah berbuat syirik dan kufur terhadap Tuhan yang sebenarnya, yaitu Tuhannya Yesus dan Yudas, menurut keyakinannya.

Hawass mengungkapkan dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh koran "Mesir El-Yaoum" pada hari Selasa adanya negosiasi antara Dewan Tertinggi Benda Antik dengan Swiss dan Amerika Serikat, untuk mengembalikan seluruh bagian Injil, katanya, menambahkan: "Kami terus berjuang untuk mengembalikannya, karena itu adalah bagian dari peradaban Mesir".

Tapi dia menekankan bahwa memamerkan Injil tersebut di Mesir "tidak mungkin, karena berisi hal-hal yang menyinggung doktrin Kristen, sebagaimana kita tidak menerima apapun yang menjelekkan Islam, maka kita juga menolak untuk menampilkan apa-apa yang menjelekkan agama Kristen", mencatat bahwa pengembalian Injil adalah perkara penting, karena merupakan bagian dari sejarah Mesir, "meskipun hanya ditempatkan di gudang penyimpanan".

Dan Kisah penemuan Injil Yudas di Mesir yang kemudian diselundupkan dari Mesir dan kemudian kembali lagi tahun 1978 ketika seorang petani Mesir menemukan manuskrip Injil Yudas tersebut di sebuah desa di Governorat Minya, (300 km) sebelah selatan Kairo, dan kemudian dijual kepada seorang pria dari Kairo, yang pada gilirannya menjualnya kepada pedagang barang kuno, yang tidak memahami pentingnya, lalu melemparkannya di gudang.

Manuskrip tersebut masih disimpan oleh pedagang barang kuno Mesir tersebut sampai seorang ahli Swiss melihatnya, dan kebetulan ahli tersebut cukup menyadari pentingnya manuskrip ini, lalu dia mencurinya dan menyelundupkannya ke Swiss, namun kembali lagi ke Kairo setelah pedagang barang kuno tersebut mengembalikannya karena menyadari pencurian manuskrip tersebut menunjukkan pentingnya. Akibat upaya ini manuskrip tersebut mengalami kerusakan parah dimana sebagiannya terhapus dan robek.

Setelah pedagang barang kuno Mesir gagal menjual manuskrip tersebut, dia menyimpannya di salah satu loker bank di Long Island di New York, dan berada di sana selama 16 tahun, menyebabkan kerusakan lebih dan lebih sulit untuk membaca teksnya, hingga peneliti Amerika Michael van Rijn memimpin kampanye menuntut kembalinya Injil ini ke Mesir, yang akhirnya dikembalikan pada bulan Juli lalu.

ar/islammemo/voa-islam.com