18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Savon d'Alep Tetap Berbuih Sejak Zaman Nabi Isa

http://3.bp.blogspot.com/_pR_EksC6nxI/S7xloYpjJbI/AAAAAAAAEYI/OAbukyM9RjM/s400/alep01.jpgAroma wangi dari minyak zaitun dan laurel memenuhi udara Aleppo tua, rumah bagi industri sabun kuno, yang kembali bergeliat sejak pemerintah menganggkat larangan yang melumpuhkan perniagaan lima tahun terakhir.

Bersarang di antara jalan-jalan labirin berusia 2.000 tahun, di pelataran rumah-rumah dan hotel-hotel tua yang dikenal dengan sebutan khan, sejumlah bengkel kerja telah memproduksi "Savon d'Alep"

Namun para peniru rakus, yang menjual sabun murah dengan mencatut nama mereka, telah merusak pasar ekspor para pekerja terampil dan berpengalaman itu.

"Konsumen Eropa sangat pilih-pilih. Mereka mungkin akan mengeluarkan beberapa euro untuk sepotong sabun yang bertuliskan Aleppo, tapi mereka mungkin tidak akan membeli sabun buatan Suriah lagi, jika sabun itu tidak menjadikan kulit mereka bagus," kata Safuh al-Deiri, seorang pengusaha Suriah yang telah mengekspor sabun Aleppo ke Prancis sejak 1980an.

Menurut Deiri, yang tinggal di Lyon Prancis, sabun Aleppo telah mempengaruhi perkembangan pembuatan sabun di Marseilles selama Prancis menjajah Suriah dan Libanon dari tahun 1920 hingga 1946.

Sabun asli, yang disebut dengan emas hijau Aleppo, hanya dibuat dengan menggunakan minyak zaitun dan laurel, serta air dan sodium palmate, resep alami yang menjadikan bahan-bahannya mengeras.

Batangan sabun kemudian dipotong dengan tangan dan dibiarkan kering selama enam bulan hingga tiga tahun, supaya awet. Rupanya yang kasar dengan bentuk kotak besar seberat masing-masing seperempat kilo, merupakan ciri khas dari sabun itu.

Alami dan sederhana, begitu resep dari sabun Aleppo. Minyak zaitun berfungsi sebagai pelembab alami, sedangkan minyak laurel sebagai pembersih.

Hal itu sangat berbeda dengan sabun moderen yang kebanyakan dibuat dari lemak babi, tulang kuda, dan aneka macam minyak "murahan" seperti minyak sawit dan minyak biji-bijian lainnya.

Permintaan akan produk organik dan alami yang sedang marak, membantu pemasaran sabun Aleppo tetap terjaga di Eropa, di mana kebanyakan orang lebih menyukai sabun "mewah" ala Barat yang terbuat dari 20 macam bahan, termasuk bahan kimia.

Bisnis di Aleppo, yang dulunya merupakan sebuah kosmopolitan niaga yang menghubungkan Jalur Sutra, menurun sejak Partai Baath menguasai Suriah hampir 50 tahun lalu. Mereka menerapkan kebijakan ekonomi ala Soviet, sehingga menjadikan bisnis-bisnis keluarga nyaris punah.

Beberapa tahun belakangan, iklimnya membaik. Berbagai hambatan bagi perusahaan-perusahaan swasta dihapuskan. Arsitektur kota pun mengalami peremajaan, pariwisata meningkat, demikian pula pasar perdagangan sabun.

Sayangnya, meskipun keadaan pasar membaik, nama lima keluarga yang telah dikenal sebagai pembuat sabun--Zanabili, Najjar, Fansa, Jbeili dan Sabouni, yang artinya dalam bahasa Arab pembuat sabun--tetap saja tidak terangkat. Bahkan mereka tidak punya papan nama di pintunya.

Sekarang mereka mengekspor sebagian besar produksinya. Diperkirakan 600 ton setahun dikirim ke Eropa, Korea Selatan dan Jepang, terutama kualitas tinggi yang menggunakan 16% minyak laurel.

Kesuksesan mereka sebenarnya bisa mencetak skor, kalau saja para peniru yang jumlahnya ratusan itu tidak ada. Para pembuat sabun Aleppo palsu  menggunakan pewarna kimia untuk menggantikan warna hijau alami yang dimiliki minyak zaitun dan laurel.

Sabun buatan industri modern dijual dengan harga $2 sekilo. Bandingkan dengan $16 untuk setiap kilo sabun tradisional, tergantung dari dari kualitas zaitun dan perbandingan minyak laurel yang dipakai.

Nama Savon d'Alep bisa diselamatkan jika pemerintah Suriah mau membela warisan industri sabun tradisonal mereka. Sebab di Prancis, sudah beredar sabun zaitun dan laurel buatan China.

Nabil Zanabili, pengrajin sabun yang letaknya di seberang masjid Usmaniya bisa memeriksa kualitas sabun, termasuk mengetahui apakah perbandingan minyak zaitun dan laurelnya tepat, hanya dengan menggunakan kaca pembesar dan daya cium hidungnya.

Kata Zanabili, Aleppo telah menjadi pusat pembuatan sabun sejak sebelum zaman Nabi Isa. Demikian pula dengan kota yang pada zaman Turki moderen dikenal dengan Antioch, kota Nablus di Palestina dan Tripoli.

Walaupun Zanabili mempertahanakan resep sabun tradisionalnya, dia juga membuat jenis sabun lain dengan tambahan minyak almond, mint dan jeruk lemon dalam campuran laurel, untuk memenuhi selera sebagian pasar Eropa dan Asia. Dia menjamin, kualitasnya tetap tinggi.

Sultana, yang membuka sebuah toko kelas atas di distrik Jdeidah  tiga tahun lalu, menambahkan esens melati impor dari Prancis dan memiliki produk sabun cair tangan laurel.

Marhaf Sabouni yang jejak warisan keluarga pembuat sabunnya bisa dilacak hingga 600 tahun ke belakang mengatakan, membeli sabun buatan pengrajin ternama adalah cara yang aman supaya tidak tertipu, karena mereka tidak mau bermain-main dengan kualitas dan reputasi mereka.

Tapi rupanya menemukan produk berkualitas tinggi di pasar lokal pun tidak mudah. Pembeli yang cermat harus mengunjungi bengkel-bengkel kerja yang terletak di kawasan tua Aleppo.

Naji Fahed pemilik dua toko sabun eceran di ibukota Suriah, Damaskus, menjual sabun buatan Fansa $17 sekilo. Tapi sabun yang lainnya kurang dari itu, karena tidak semua orang menghargai kualitas sabun tradisional.

"Sabun murah membakar kulit Anda, tapi ada saja pelangganya," kata Fahed. "Seorang aktris Suriah menjadi langganan tetap saya. Dia kebanyakan membeli sabun kualitas buruk dan mengatakan bahwa itu yang terbaik buat kulitnya."
yang terkenal itu dengan tangan selama ratusan tahun.

di/tdz/hidayatullah.com