21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Bagi Warga Mesir, Bung Karno Adalah Ahmad Soekarno

http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/08/s-12.jpgAlmarhum proklamator yang juga Presiden pertama RI Bung Karno telah lama meninggalkan dunia yang fana ini. Tetapi, bagi warga dan pejabat Mesir, Bung Karno masih lekat dalam ingatan mereka.

Bagi mereka, Presiden Soekarno ibarat pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.” Bung Karno dikenang dengan nama Ahmad Soekarno.

"O saya masih segar ingatan saya atas gambar-gambar ini, ketika itu saya masih muda melihat begitu akrabnya Presiden Ahmad Soekarno dan Presiden Nasser. Di masa itu, hubungan persahabatan Mesir dan Indonesiabegitu dekat," ungkap Gubernur Sinai Utara Murad Muafik saat menjamu makan siang Duta Besar Republik Indonesiauntuk Mesir AM Fachir, Minggu (2/1/2011) waktu setempat.

Dubes Fachir diundang bersilaturrahim dan makan siang oleh sang gubernur setelah acara penyerahan bantuan pemerintah dan masyarakat Indonesiauntuk warga Palestina di Rafah, perbatasan Gazadengan wilayah Mesir. Bantuan peralatan medis itu diterima Direktur Bulan Sabit Merah Palestina Wilayah Jalur Gaza Khalil Al-Foul dengan difasilitasi Ketua Bulan Sabit Merah Sinai Utara, Mesir, Jenderal (Purn) Osama Serghani.

Seusai jamuan makan, Dubes Fachir memberi kenang-kenangan kepada Muafik berupa buku Jauh di Mata Dekat di Hati: Potret Hubungan Indonesia-Mesir.

Begitu melihat gambar pelukan akrab antara mantan Presiden Soekarno dan mendiang Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dalam buku itu, Muafik terkagum-kagum. Ingatannya menerawang masa lalu ketika dia yang masih belia menyaksikan tokoh pemimpin kedua negara tersebut bersahabat karib bahu membahu dalam mengusung gerakan antikolonialisme dan kekompakkan sesama negara dunia ketiga atau negara berkembang. Ketika itu, Presiden Soekarno dan Presiden Nasser bersama Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito, dan Presiden Ghan Nkrumah menggalang Gerakan Non-Blok.

Gerakan Non-Blok dikobarkan di tengah Perang Dingin dan menguatnya Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa Barat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet (kini tersisa Rusia) dan Chinayang berhaluan kiri/komunis. KTT Non Blok pertama digelar di Beograd, Yugoslavia, pada 1961.

Ant/nic/inilah.com

 

Artikel Terkait