14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Amerika Mengaku Tak Tahu tentang G30S

http://2.bp.blogspot.com/_8_BmyIfOYUI/Sboh9dGEuoI/AAAAAAAAAGY/fIohmcu0oAE/s320/cold_war_flag.jpgPemerintah Amerika Serikat sering dapat tudingan berada dibalik Gerakan 30 September 1965. Maklum, saat itu dunia terbagi atas Blok Barat dan Timur, dan Soekarno memimpin Indonesia lebih dekat ke Timur. G 30 S, yang berujung pada jatuhnya Bung Besar, jadi kemenangan Amerika, yang menganggap Indonesia sebagai negara terpenting di Asia Tenggara.

"Jika dikatakan AS sebagai dalang, itu bukan kesimpulan yang benar," ujar Bradley Simpson, Doktor Sejarah Princeton University, AS, di Diskusi Indonesia and the World di GotheHaus, Jakarta Pusat, Rabu (19/1).

Selama 10 tahun dia meneliti tragedi yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat dan ratusan ribu warga yang dituduh simpatisan Partai Komunis Indonesia itu. Penelitian dilakukan lewat membaca dokumen resmi pemerintah di Perpustakaan Negara dan Kepresidenan AS.

Hasilnya, dia melanjutkan, AS tidak tahu apa-apa tentang operasi penculikan yang dipimpin Letnan Kolonel Untung Sjamsuri itu. "Malam itu Kedutaan AS di Jakarta kebingungan," katanya.

Dinas intelijen AS yang mahsyur menelisik informasi tidak tahu keberadaan Presiden Soekarno. "Apa ikut diculik, terbunuh, atau di mana," kata Simpson. Hari-hari berikutnya, perwakilan AS masih diselimuti tanda tanya. Mereka bahkan tidak tahu latar belakang pemimpin penumpasan G 30 S, Mayor Jenderal Soeharto. Padahal Panglima Komando Strategis Angkatan Darat itu juga menjabat pemimpin operasi Perebutan Irian Barat dan wakil panglima Konfrontasi dengan Malaysia.

Namun, Simpson melanjutkan, Amerika tahu kejadian besar akan terjadi di periode itu. "AS ingin militer kontrol Indonesia," katanya.

Saat Inggris hanya menginginkan Indonesia kacau sehingga tidak bisa melancarkan serangan ke Malaysia, yang baru mereka beri kemerdekaan, AS ingin lebih. Mereka takut Indonesia, negara dengan 100 juta penduduk beralih ke komunis.

Tapi intelijen menghapus opsi menggulingkan Soekarno karena memiliki massa yang kuat. "Kecuali ada satu teman yang berusaha jatuhkan dia," ujar Simpson.

Maka AS bagai ketiban durian runtuh dengan adanya G 30 S. Tapi, tujuan mereka belum tercapai: menghapus PKI sampai akarnya. Saat Angkatan Darat memimpin penumpasan, Duta Besar Marshall Green mengirim kawat ke Washington. "Angkatan Darat tidak akan menghabisi PKI," kata Simpson.

Mereka lalu bertindak lewat propaganda massa. Berbagai isu dihembuskan mulai temuan palu arit yang digunakan untuk membunuh korban Lubang Buaya, sampai pengiriman senjata dari Cina. "AS juga kirimkan senjata untuk menghabisi PKI," ujarnya.

Tujuan kampanye ini, Simpson melanjutkan, adalah menggulingkan Soekarno dan mengantar militer ke pucuk kekuasaan. Pada 1967, Jenderal Soeharto menggantikan Soekarno sebagai presiden Indonesia. "Setelah itu mereka membantu teknokrat mengamankan investasi Barat di Indonesia," katanya.

REZA M | tempointeraktif.com


Artikel Terkait