25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Perkawinan Sejenis Disuport Jaringan Internasional

Perkawinan Sejenis Disuport Jaringan Internasional

Fiqhislam.com - Pakar Tafsir Dr. Saiful Bahri mengajak masyarakat Indonesia untuk bisa menjaga dan memperkuat kembali subtansi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

“Jangan sampai bisa dijebol, UU tentang perkawinan itu yaitu perkawinan yang terjadi antara laki-laki dengan perempuan. Dan itu sudah jelas,” ujar Saiful kepada hidayatullah.com, Jum’at (18/09/2015).

Lebih lanjut, Saiful mengatakan, kalau berbicara hukum syariat terkait dengan perkawinan sejenis itu lebih rumit. Dan pada faktanya tidak ada dalam hukum positif di negara ini yang membolehkan perkawinan sejenis itu. Karena itu, pemerintah harus mampu melindungi bangsa ini melalui UU tentang Perkawinan tersebut.

“Dan seharusnya tidak boleh terjadi perkawinan sesama jenis di Indonesia karena tidak ada hukum positifnya,” tegasnya.

Saiful mengingatkan kalau mungkin ada negara lain yang sudah terlanjur melegalkan perkawinan sejenis maka Indonesia jangan sampai ikut-ikutan. Karena, selain kultur, secara idelogis perkawinan sejenis itu tidak ada dan secara sosial membahayakan tatanan hukum, agama dan negara.

“Lebih banyak yang mengecam daripada yang setuju. Dan yang setuju itu lebih banyak karena solidaritas dari kelainan yang menular itu, maka harus segera diobati,” cetusnya.

Saiful menambahkan secara ideologis, umat Islam harus konsolidasi bahwa perkawinan sejenis ini menyalahi syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika hendak membahasakan dengan umat non muslim, perkawinan sejenis bisa membahayakan kemanusiaan.

Dan jika ingin berbicara lebih luas sampai jaringan luar negeri, maka perkawinan sejenis itu jelas bisa mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sebab mereka itu disuport oleh jaringan Internasional baik dana, media, publishing. Mereka itu sudah masuk di tingkat PBB. Mudah-mudahan kita bisa mengawasi pekembangan anak-anak kita,” tandasnya. [yy/hidayatullah]

Jika Dibiarkan Pernikahan Sejenis Bisa Menjalar

Guru Besar Psikologi Seksual Universitas Gajah Mada (UGM), Prof Kuncoro prihatin atas praktik pernikahan sejenis yang dilakukan oleh Joe Tully dan Tiko Mulya di Bali.

Menurutnya, praktik tersebut bisa saja menjalar kepada orang-orang yang berperilaku sama dengan pasangan tersebut, jika pemerintah tak segera menindaknya.

“Undang-undang kan sudah melarang, tapi jika itu didiamkan bisa merembet,” katanya kepada Okezone, Sabtu (19/8/2015).

Kuncoro menjelaskan, dalam teori psikologi kecenderungan seseorang untuk melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis, dapat dipelajari dari teori "anima animus" yang digagas oleh Carl Gustav Jung.

Menurut Kuncoro, dua istilah itu diciptakan Jung untuk menggambarkan karakteristik dari seks yang berlawanan, yang ada dalam setiap diri laki-laki dan perempuan.

“Anima adalah sifat kewanitaan yang tersembunyi di dalam diri laki-laki, sedangkan animus adalah sifat kelaki-lakian yang tersembunyi dalam diri perempuan,” jelasnya.

Namun demikian, lanjut Kuncoro, perilaku tersebut masih ada di Indonesia lantaran sosialisasi dan juga interaksi dengan orang dengan karakter yang sama terus dilakukan dan cenderung didiamkan oleh negara.

 “Adanya organisasi gay itu memfasilitasi mereka untuk berhimpun, kalau mereka berhimpun sosialisasi juga terus terjadi,” tandasnya. [yy/okezone]

Perkawinan Sejenis Dinilai Membuka Pintu Kehancuran Umat Manusia

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, DR. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc mengatakan bahwa perkawinan sesama jenis itu melukai rasa keagamaan bangsa Indonesia.

Selain itu, perkawinan sejenis bertentangan dengan semua agama dan budaya yang ada di Indonesia, bahkan bertentangan dengan dasar negara seperti Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang tentang Perkawinan.

“Pemerintah harus mengusut dengan cermat dan akurat kasus perkawinan sejenis, kemudian melakukan tindakan tegas dan memberikan hukuman maksimum sesuai dengan UU dan peraturan yang berlaku,” kata Sodik dalam rilisnya kepada hidayatullah.com, Kamis (17/09/2015).

Menurut Sodik, jika pemerintah lunak dan tidak tegas dalam melakukan tindakan terhadap pelanggaran hukum dan norma dasar kemanusiaan maka, kasus perkawnan sejenis akan terus berulang dan diikuti oleh kelompok Lesbian, Homoseksual, Biseksual dan Transgender (LGBT).

“Ini berarti membuka pintu untuk menghancurkan masa depan seluruh ummat manusia,” cetusnya.

Sodik sepakat bahwa untuk meningkatkan nilai maupun kualitas manusia di Indonesia ke arah yang lebih bermutu, adil dan beradab antara lain dengan pencanangan revolusi mental menuju kemajuan dan perkembangan ke arah yang lebih baik.

“Namun, kalau kasus perkawinan sejenis seperti itu saja dibiarkan justru artinya kita sedang melakukan revolusi mental ke arah kehancuran dan kebinasaan,” demikian tandasnya. [yy/hidayatullah]