24 Rabiul-Akhir 1443  |  Senin 29 Nopember 2021

basmalah.png

Kontroversi Lift Kosher Picu Perang Antar Yahudi

Kontroversi Lift Kosher Picu Perang Antar YahudiHingga saat ini, meski menimbulkan kontroversi, komunitas Yahudi ortodoks telah diperkenankan untuk mempergunakan sebuah lift yang dirancang khusus dan "disesuaikan" dengan hukum-hukum Yahudi yang melarang penggunaan alat-alat elektronik pada hari Sabbath.

"Lift Kosher" tersebut memiliki sebuah mode Sabbath yang memastikan bahwa lift tersebut berhenti di setiap lantai, agar para penumpang tidak perlu menekan tombol untuk memanggil lift.

Namun sekelompok rabbi yang dipimpin oleh Yosef Shalom Elyashiv, pemimpin komunitas Yahudi ultra-ortodoks Ashkenazi Lithuania, yang berusia 99 tahun mengecam hal tersebut dan menyatakan bahwa bahkan lift kosher bertentangan dengan hukum Yahudi.

Para rabbi mengatakan bahwa mereka telah mencapai keputusan bulat setelah berkonsultasi dengan "sejumlah teknisi dan insinyur lift yang bersertifikat".

Penggunaan lift kosher memang selalu memicu perdebatan. Para penentang mengklaim bahwa meski para penumpang (Yahudi) tidak menekan tombol, berat badan penumpang meningkatkan jumlah energi listrik yang dipergunakan untuk memberikan daya kepada lift, dan hal itu dinilai melanggar hukum Yahudi.

Larangan penggunaan lift kosher tersebut membuat kaum Yahudi ortodoks yang tinggal di lantai atas sebuah gedung menjadi kerepotan.

Yosef Ball, seorang Yahudi ortodoks, dan istrinya kini tidak lagi mempergunakan lift yang dibangun khusus untuk hari Sabbath, sejak sebuah peraturan rabbi melarang penggunaannya.

Setiap Sabtu, mereka harus menaiki tangga yang tinggi untuk pulang ke rumah, bersama dengan lima orang anak mereka ditambah dengan kereta bayi. "Memang sulit, namun kami menaiki tangga dengan perlahan dan memerlukan banyak kesabaran," kata Ball, 29.

Hukum Yahudi, atau Halacha, melarang penggunaan benda-benda elektronik pada hari Sabbath, namun selama berpuluh-puluh tahun, para rabbi "menghalalkan" lift khusus yang secara otomatis berhenti di setiap lantai, tanpa harus menekan tombol, sehingga para Yahudi ortodoks bisa menaikinya dan tinggal di lantai atas gedung.

Ketika seorang rabbi terkemuka menyatakan bahwa penggunaan lift tersebut bertentagan dengan hukum Yahudi, hal itu memicu perdebatan dan memaksa kam Yahudi ortodoks yang tinggal di tempat tinggi untuk memutuskan apakah mereka siap untuk menaiki puluhan, bahkan ratusan anak tangga setiap kali mereka pulang ke rumah setelah mendatangi sinagog  pada hari Sabtu.

Komunitas ortodoks memang telah sejak lama berbeda pendapat mengenai lift Sabbath.

Peraturan tersebut juga berpotensi untuk memberikan sinyal peringatan kepada pemerintah, yang mengadopsi undang-undang pada tahun 2001, dimana lift yang dibangun di gedung-gedung tinggi harus memiliki mode Sabbath.

Namun masih belum jelas ada berapa banyak Yahudi di luar komunitas Yahudi Ashkenazi non-Hasidic Lithuania yang akan mematuhi aturan tersebut. Sejumlah institusi kerabbian telah menyerang peraturan yang menyesuaikan teknologi dengan hukum Yahudi tersebut.

Kalangan lainnya memperingatkan bahwa maklumat tersebut hanya akan  mempersulit kehidupan para keluarga ortodoks, yang secara tradisi memiliki banyak anak, untuk menaiki banyak anak tangga.

"Tidak ada pasangan muda yang sudi untuk pindah ke lantai sembilan atau sepuluh dari sebuah gedung jika tempat itu pada akhirnya menjadi penjara bagi mereka sendiri," kata Jonathan Rosenblum, seorang pengamat ultra-ortodoks.

Rabbi Eliyashiv dikenal karena sebelumnya telah membuat peraturan yang menimbulkan perdebatan, menyatakan penggunaan wig dan sandal plastik ilegal di hari penebusan dosa. Seorang rabbi lain pernah memberikan maklumat kepada para pengikutnya agar tidak mengorek hidung pada hari Sabbath.

Rabbi Reuven Bulka, mantan presiden Kongres Yahudi Kanada, mengatakan bahwa ada banyak bangunan di Kanada, seperti sinagog, apartemen atau rumah jompo, yang memiliki lift Sabbath. Ia menambahkan bahwa para pemimpin Yahudi Kanada tidak yakin apakah Eliyashiv hanya mencantumkan nama pada rekomendasi tersebut, atau merumuskan sendiri peraturan tersebut.

"Jika benar, hal itu akan memberatkan," kata Bulka. "Masalahnya, masih tidak jelas apakah dia mengatakan sesuatu yang sesuai dengan reputasinya." (dn/tg/gm)

suaramedia.com