18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Kiamat: Bulan Darah, 28 September, Ini Kata Gereja

Kiamat: Bulan Darah, 28 September, Ini Kata Gereja

Fiqhislam.com - Banyak orang yang  mengaitkan fenomena gerhana bulan merah darah akhir pekan ini,  dengan datangnya hari kiamat.  Gereja Mormon di Utah, Amerika Serikat, bahkan perlu membuat pernyataan  mengenai hal ini buat menyetop keresahan masyarakat di sana.

Juru bicara Gereja Mormon Eric Hawkins  mengatakan, pihaknya telah  berkirim edaran kepada para guru dan gereja di lingkungannya untuk menjelaskan mengenai hal itu.  Menurut Eric seperti ditulis dalam USA TODAY,  tulisan dan spekulasi para anggotanya mengenai bulan darah  yang dihubungkan dengan hari kiamat, tidaklah mencerminkan pandangan gereja. “Tulisan-tulisan itu merupakan pandangan pribadi,” kata Eric.

Gereja Mormom selama ini  menganjurkan agar pengikutnya bersiap secara fisik dan rohani untuk menghadapi situasi  yang naik  dan turun dan membuat persediaan makanan yang cukup. Tapi Gereja ini juga meminta pengikutnya  agar tidak mengantisipasi keadaan secara berlebihan.

Bulan darah terjadi ketika ada bulan purnama di dekat bumi   yang disebut super moon  dan pada saat bersamaan juga terjadi  gerhana bulan.  Dua peristiwa akan menghasilkan cahaya kemerahan di sekitar bulan agak gelap selama sekitar satu jam. ulan darah terakhir terjadi pada tahun 1982 dan yang berikutnya tidak akan terjadi sampai 2033.

Sebelumnya, penulis  Julie Rowe  yang  merupakan pengikut Gereja Mormon   menghubungkan  bulan darah dan bencana baru-baru ini  dengan datangnya kiamat.   Rowe mengeluarkan pernyataan itu di website-nya  pada 10 September  tapi  mengatakan bahwan hal ini  bukan sikap resmi gereja.  "Ini hanyalah bagian dari perjalanan pribadi untuk membantu orang  meningkatkan iman, “ ujar Rowe.

Geger Kiamat 28 September

Sejumlah pendeta percaya bahwa kemunculan fenomena blood moon tetrad atau bulan merah darah merupakan tanda-tanda terjadinya hari akhir atau hari kiamat. Kemunculan fenomena blood moon yang terjadi pada hari-hari perayaan agama Yahudi semakin memperkuat anggapan tersebut.

Blood moon tetrad merupakan empat gerhana bulan total yang posisinya menyebabkan gelombang merah cahaya matahari masuk ke atmosfer bumi sehingga mengubah bulan menjadi merah. Blood moon sudah terjadi tiga kali terjadi sejak 15 April 2014. Pada Senin, 28 September 2015, blood moon diprediksi akan kembali terjadi.

Pendeta asal Amerika Serikat dan penulis buku Four Blood Moons: Something is about to Change, John Hagee, percaya bahwa gerhana bulan yang akan terjadi pada Senin, 28 September 2015, sudah tertulis dalam Alkitab. Hagee kemudian merujuk kepada Bab 2 ayat 31 dalam Book of Joel.

“Matahari akan diubah menjadi kegelapan, dan bulan menjadi darah, sebelum hari yang besar dan mengerikan dari Tuhan datang,” demikian bunyi tafsiran ayat itu. Menurut Hagee, hari akhir sudah dekat. "Tuhan mengirimkan Bumi sebuah tanda bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi," katanya.

Pendeta asal Washington, Mark Bilts, mengatakan tanda-tanda alam yang berkaitan dengan matahari, bulan, dan bintang menunjukkan sesuatu. Bilts mengatakan, matahari dan bulan menunjukkan kecemasan suatu bangsa. Sementara itu, bintang memberikan tanda agar manusia berhati-hati.

Kemunculan Blood Moon berturut-turut terjadi pada perayaan Passover pada April 2014, Sukkot pada Oktober 2014, dan Passover pada April tahun berikutnya. Terakhir, kemunculan Blood Moon akan bertepatan dengan perayaan Yahudi yang dikenal dengan Feast of The Tabemades.

Pada 1493, blood moon tetrad juga terjadi bertepatan dengan perayaan keagamaan Yahudi. Saat itu, umat Yahudi diusir dari Spanyol semasa era penaklukan Spanyol. Blood moon tetrad berikutnya terjadi pada 1949 setelah negara Israel terbentuk. Terakhir, fenomena itu terjadi saat Israel memenangkan Perang Enam Hari melawan negara-negara Arab.

David Reed, profesor Teologi, Keagamaan, dan Pergerakan Agama Baru University of Toronto, Kanada, mengatakan penganut aliran injili cenderung mengaitkan blood moon dengan peristiwa seperti penciptaan negara Israel. Reed mengatakan hal itu terjadi karena mereka merasa terancam keamanannya.

"Fenomena ini merupakan sebuah alat yang digunakan berdasarkan ketakutan, yaitu bahwa Anda sebaiknya siap menghadapi kembalinya Yesus pada hari kiamat,” kata sang profesor.

Meski banyak bermunculan pendapat pendeta yang mengaitkan blood moon dengan kiamat, pastor dari Toronto, Neil MacCarthy, mengatakan gagasan itu datang dari gereja-gereja Kristen berskala kecil. "Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan pernyataan terkait Blood Moon sebagai tanda hari akhir," katanya.

Adapun juru bicara Persekutuan Gereja Indonesia Jerry Sumampouw mengatakan fenomena blood moon tetrad atau bulan merah darah tidak ada kaitannya dengan hari kiamat. Menurut Jerry, fenomena alam memang kerap kali dapat menjadi peringatan akan sesuatu, namun itu bukan petunjuk hari akhir.

Menurut Jerry, tidak ada yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi. "Kiamat itu misteri," katanya kepada Tempo, Minggu, 27 September 2015. Tugas manusia hanya mempersiapkan diri mengadapi kiamat. Berani sesumbar memprediksi waktu kiamat, menurut Jerry, sudah bertentangan dengan ajaran agama. [yy/tempo]