11 Safar 1443  |  Minggu 19 September 2021

basmalah.png

Sejarah Komunitas Yahudi di Indonesia

Sejarah Komunitas Yahudi di Indonesia Fiqhislam.com - Sudah lebih dari setengah abad, Shoshana Lehrer meninggalkan Indonesia. Namun ia masih tetap ingat terhadap negeri yang ribuan kilometer jauhnya dari tempat tinggalnya sekarang di pinggiran Kota Haifa, Israel.
 
Padahal, ia dan keluarganya hidup di Indonesia sebagai pengungsi, setelah kabur dari kejaran pasukan Nazi di Austri pada 1938. “Meski kami mengalami saat-saat amat sulit di sana, saya senang. Indonesia sebuah negeri indah. Saya benar-benar merasa seperti negara saya,” kata perempuan 77 tahun ini kepada surat kabar the Jerusalem Post Desember tahun lalu.
 
Bukan hanya Lehrer yang pernah merasakan atmosfer Indonesia. Sediktinya ada 50 orang Yahudi di Israel yang juga punya pengalaman serupa. Untuk berbagi kenangan, mereka membentuk sebuah perkumpulan pada 1995 yang disebut Tempo Dulu. Anggotanya termuda berusia 65 tahun.
 
Menurut Lehrer, mereka berkumpul paling sedikit sekali atau dua kali setahun. Selain berbagi cerita, mereka memasak makanan Indonesia, seperti rendang dan nasi rawon. Bahkan, kebaanyakan di antara anggota Tempo Dulu yang diketuai Lehrer ini masih mengetahu beberapa kata dalam bahasa Indonesia.
 
Lehrer dan anggota Tempo Dulu menjadi saksi dan bukti sejarah bahwa masyarakat Yahudi pernah menetap di Indonesia. Profesor Rotem Kowner dari Universitas Haifa, Israel, mengungkapkan orang Yahudi pertama yang bermukim di Indonesia adalah seorang saudagar dari Fustat, Mesir. “Ia meninggal di pelabuhan Barus, barat daya Sumatera pada 1290,” ujarnya. Sejak 2003, Kowner sudah meneliti sejarah komunitas Yahudi di Indonesia.
 
Ia bahkan yakin, orang-orang Yahudi yang sudah memeluk agama Nasrani juga ikut dalam rombongan kapal Portugis yang mendarat di Nusantara pada awal abad ke-16. Orang-orang Yahudi ini menetap di sekitar Selat Malaka, pantai utara Sumatera, dan Pulau Jawa.
 
Kedatangan orang-orang Yahudi ke Indonesia terus berlangsung seiring masuknya dua perusahaan Belanda: the Dutch East India Company (VOC) dan the Dutch West Indian Company (WIC) pada 1602. Salah satunya, seorang prajurit Belanda kelahiran Ukraina, Leendert Miero (1755-1834) yang tiba pada 1775. Ia menjelma menjadi orang kaya dan memiliki sebuah rumah mewah di daerah Pondok Gede (daerah perbatasan antara Jakarta Timur dan Bekasi).
 
Setelah itu muncul Jacob Saphir (1822-1886) yang mampir selama tujuh pekan dalam perjalanannya ke Australia pada 1861. Pelancong Yahudi keturunan Rumania ini melaporkan terdapat sejumlah orang Yahudi di Batavia, Surabaya, dan Semarang. Namun, tidak ditemukan komunitas Yahudi.
 
Saphir mencatat, terdapat sedikitnya 20 keluarga Yahudi di Batavia yang merupakan keturunan Belanda dan jerman. Mereka berprofesi sebagai pedagang, pegawai pemerintah, dan serdadu Hindia Belanda. Namun, tidak ada sinagoge atau kuburan khusus orang Yahudi saat itu.
 
Pada 1921, seorang penyandang dana Zionis, Israel Cohen, mendarat di Jawa dalam kunjungan lima hari. Ia memperkirakan saat itu terdapat sekitar 2.000 orang Yahudi yang tinggal di Pulau Jawa.
 
Komunitas Yahudi mulai muncul pada 1920-an dengan munculnya the Association for Jewish Interests in the Dutch East Indies dan the World Zionist Conferemce (WZC) yang memiliki cabang di Batavia, Bandung, Malang, Medan, Padang, Semarang, dan Yogyakarta. WZC yang berpusat di London ini berdiri pada 1920 dan merupakan organisasi pencari dana bagi gerakan Zionis. Sebuah majalah bulanan bernama Erets Israel terbit di Padang sejak 1926 hingga ditutup oleh Jepang pada 1942.
 
Pemerintah Hindia Belanda pernah melakukan sensusu pada 1930 yang menyebutkan terdapat 1.039 orang Yahudi. Kebanyakan tinggal di Jawa (lebih dari 85 persen), Sumatera (11 persen), dan di beberapa pulau (kurang dari 4 persen). Menjelang Perang Pasifik (1941-1945) jumlah orang Yahudi di Indonesia mencapai puncaknya, yakni sekitar 3.000 orang.
 
Kaum Yahudi di Indonesia ini terdiri dari tiga golongan. Pertama, orang-orang Yahudi berkewarganegaraan Belanda yang dipekerjakan oleh pemerintah kolonial sebagai penjaga toko, tentara, guru, dan dokter. Kelompok kedua adalah Yahudi Bagdadi yang berasal dari Irak, Yaman, dan negara lain di Timur Tengah. Mereka kebanyakan tinggal di Surabaya dan bekerja sebagai pengusaha ekspor-impor, pedagang asongan, serta tukang kayu dan batu. Golongan ketiga adalah Yahudi pengungsi yang lari dari kejaran Nazi. Mereka dari Jerman, Austria, dan Eropa Timur.
 
Yahudi Bagdadi dikenal religius, bahkan banyak yang ultraortodoks. Sedangkan Yahudi Belanda sering berasimilasi walau tetap menjaga tradisi Yahudi. Beberapa di antaranya menyembunyikan identitas yahudi mereka dan menikah dengan perempuan Kristen Eropa atau gadis Indonesia.
 
Secara ekonomi, orang-orang Yahudi ini hidup makmur. Mereka mempekerjakan orang-orang asli Indonesia sebagai pembantu, tukang masak, dan sopir. Pedndapatn per kapita mereka 4.017 guilder ketimbang pribumi yang cuma 78 guilder. “Kami mempunyai sebuah mobil sport,” kata Dr Eli Dwek yang pernah tinggal di Surabaya seamasa kecil.
 
Setelah Indonesia merdeka, komunitas Yahudi mulai menurun. Menurut laporan Kongres Yahudi Sedunia (WJC)yang keluar beberapa hari setelah pengsuran orang-orang Belanda, terdapat sekitar 450 orang Yahudi di Indonesia pada November 1957. Enam tahun kemudian jumlahnya terus merosot menjadi 50 orang. Kini diperkirakan hanya 20 orang.
 
Namun sekarang komunitas Yahudi mulai bangkit dengan berdirinya menorah raksasa dan dua sinagoge di kota Manado dan Tondano, Sulawesi Utara. Kelompok ini dipimpin oleh Rabbi Yaakov Baruch. “Kami berupaya menjadi Yahudi yang baik,” kata Rabbi Yaakov.
 
Menorah ini juga menjadi lambang dari Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel.
 
Bait Hatfusot/Inside Indonesia/Jerusalem Post/New York Times/Faisal Assegaf
tempointeraktif.com