5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Hipnosis vs Gendam, Beda Tapi Sama

Hipnosis vs Gendam, Beda Tapi Sama"Tarik napas dalam-dalam. Lepaskan perlahan. Satu, dua, tiga. Pejamkan matamu. Istirahatkanlah pikiranmu. Longgarkanlah semua persendianmu..."

Mulut wanita paruh baya itu tak berhenti merapalkan 'mantra'. Di hadapannya, wanita yang terlihat lebih muda terpejam khusyuk mendengarkannya.

"Dalam hitungan ke-tiga, bukalah mata dengan perlahan. Ya, satu, dua, tiga," ujar wanita paruh baya itu mengakhiri kegiatannya.

Lantas, si wanita muda mulai membuka mata dengan perlahan. Meski telah terbuka, tapi tatapan matanya terlihat masih kosong. "Itu efek-efek halusinasi menuju sadar," kata si perapal mantra.

"Seperti ada yang meluk ya, gak mau lepas," ujar Andrien, vocalist band Superplus yang bersedia menjadi 'korban' hipnoterapis di Program 811, Metro TV, Kamis (25/8).

Awalnya, wanita cantik itu mengaku tak bersedia menjadi objek hipnotis. " Tapi makin lama, malah makin tenang gitu," tuturnya sumringah.

Tak ada yang aneh dengan kegiatan itu. Di televisi, kegiatan bernama hipnotis ini hampir tiap hari menjadi santapan mata pemirsa. Ada yang memang dibuat untuk mempertontonkan kehebatan, namun tak terkecuali untuk humor semata.

Negatifnya, hipnotis marak membius pemudik jelang Lebaran. Prof Ronnie Nitibaskara, kriminolog Universitas Indonesia, mencatat tindak kriminal itu dimulai sejak dua atau bulan sebelum Lebaran.

"Kesempatan yang halal untuk tujuan materialistis tidak terbagi rata. Sehingga kemudian ada orang yang mengambil jalan menyimpang menimbulkan inovasi baru. Mulai dari kekerasan, kejahatan sampai mencari uang dengan cara menghipnotis," kata Ronnie.

"Sebenarnya, hipnotis itu orang yang melakukan kegiatannya. Nah, kalau kegiatannya sendiri, itu hipnosis," si perapal mantra menjelaskan.

Wanita paruh baya pembaca 'mantra' itu ialah Dewi Yogo Pratomo. Master hipnoterapis cum doktor psikologi ini tercatat sebagai salah satu hipnoterapis mumpuni Indonesia. Ia pernah beberapa kali menghipnosis para tersangka kasus kejahatan besar semisal pembunuh berantai dan teroris.

Menurut wanita kelahiran Jakarta, 10 Maret 1964 itu, hipnosis atau hipnotis bukanlah sesuatu yang tak bisa ditolak kehadirannya. Karena, efek hipnotis tidak sepenuhnya melelapkan korban. "Korban masih dalam keadaan setengah tidur, setengah sadar," tuturnya.

Justru, kegiatan yang bisa mengontrol penuh pikiran manusia itu bukan hipnosis. Kegiatan itu dikenal masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa dengan nama gendam atau gundam dalam bahasa Sunda.

"Tubuh korban bisa bergerak mengikuti keinginan tukang gendam," ujarnya lagi.

Terlebih, hipnosis itu ia yakini hanya berlangsung selama lebih kurang 15 menit. Sedangkan gundam bisa sampai dua jam lebih.

Setali tiga uang, Prof Ronnie Nitibaskara, seorang kriminolog dan antropolog Universitas Indonesia, mengatakan gendam atau gundam dalam ilmu antropologi merupakan bagian dari Occultisme. "Selain gendam, ada juga sirep. Nah, biasanya menggunakan tanah kuburan yang dilemparkan ke rumah, lalu seisi rumah tidur," tuturnya.

Occultisme, Ronnie memaparkan, merupakan tindakan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kuasa gelap. "Itu (Occultisme) sesuatu yang tersembunyi, bersifat rahasia," tambahnya.

Di masyarakat Indonesia, occultisme bisa dipraktekkan menjadi tiga rupa. Pertama, occultisme bersifat penipuan. Praktek ini biasanya dilakukan oleh orang yang mengaku pandai mengobati orang sakit, pandai mencari barang hilang, pandai mencari roh, dan pandai menghipnotis seseorang. "Tapi nyatanya, bohong," kta Ronnie.

Selanjutnya, sering juga dijumpai occultisme yang bersifat alamiah. Kemahiran meramal, bisa mendengar dari jarak jauh, dan psikometri (mengetahui benda milik orang lain dengan hanya meraba), didapatkan secara alamiah.

Ketiga, ada juga occultisme yang bisa dipelajari. Jenis ini biasanya masih sering dilakukan oleh orang-orang di pedalaman sebagai sebuah tradisi.

"Yang pasti si tukang gendam pasti tahu siapa orang yang mudah di-gendam," ujar Dewi. Ia mencontohkan orang-orang yang biasa jalan di saat tidur merupakan orang yang mudah dipengaruhi. Termasuk orang dalam kondisi lelah fisik dan psikis.

Sementara, bentuk komunikasi yang dilakukan penggendam itu mentransfer energi melalui mata. Mengapa mata? "Karena kata orang Jerman, mata itu mengekspresikan seluruh jiwa," cakapnya.

Selain melalui pandangan mata, transfer sugesti pun bisa disalurkan hanya lewat suara. "Makanya banyak kasus gendam telepon," tambahnya lagi.

Untuk menghindari upaya penggendam, ada beberapa cara yang ditawarkan Dewi. Pertama, bila sedang bepergian atau mudik lebaran sepertio saat ini, usahakan jangan sendiri. "Jadi kalau bepergian mending rame-rame. Karena gendam tidak bisa menembus orang dalam keadaan ramai atau sering berkomunikasi," tambah Dewi.

Kedua, jika ada orang yang menepuk dari belakang, pertama kali yang dilakukan adalah berteriak. Dengan teriakan, orang yang ditepuk secara otomatis akan memutus transfer gendam lewat hentakan tangan penggendam.

Dan yang paling penting menurut Dewi ialah, usahakan tidak menggunakan pakaian mencolok, perhiasan, dan memamerkan barang-barang mewah. "Bawa uang secukupnya aja," pungkasnya.

metrotvnews.com