15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Protestan Vs Saksi Yehuwa: Sesama Kristen Saling Menyesatkan

Protestan Vs Saksi Yehuwa: Sesama Kristen Saling MenyesatkanPercakapan ini terjadi antara saya dengan teman Kristen Protestan yang sangat fanatik. Sebut saja namanya Fai, bukan nama sebenarnya. Dia adalah wanita yang baik dan sangat taat pada ajaran yang dianut. Pada suatu ketika, wanita yang berasal dari kota Kediri-Jatim ini  ingin sedikit mengkritisi islam, dengan menilai LDII yang terdapat di kotanya sebagai sampel. Namun secara pelan dan santun saya jelaskan tentang sesatnya Islam Jama’ah alias Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Dia bisa menerima penjelasan-penjelasan sederhana yang saya presentasikan, saya menghormati teman satu ini karena sifatnya yang dewasa dan santun setiap terlibat diskusi dan perdebatan.

Dalam sebuah pertemuan saya dengannya di sebuah taman, saya sengaja bertanya secara detil mengenai sekte dan alirannya. Dengan datar dijawabnya, “Saya ini Kristen Protestan yang aktif di gereja Hong Kong Island.”

Ketika itu saya ceritakan, bahwa sebelumnya saya pernah beberapa kali duduk dalam gereja yang berbeda-beda dan mendengarkan kajian pendeta, mulai dari pendeta asal Indonesia, Malaysia, Korea maupun Jerman, yang dari ke semua pendeta tersebut mahir berbahasa Indonesia, saya ceritakan pula, pendeta-pendeta ini gigih menyebarkan ajaran Kristen.

Dari sekte-sekte Kristen di Hong Kong, Saksi Yehuwa (Jehovah’s Witness)  yang paling gigih berburu pengikut di setiap kesempatan. Selesai saya bercerita, Fai memberikan komentar datar dan wajahnya menggambarkan kemarahan, “Mereka sekte-sekte sesat, terutama saksi Yehuwa, mereka adalah paham setan yang sesat,” ujarnya ketus.

“Kenapa mereka kok disebut setan dan sesat?” tanya saya hati-hati.

Fai menjelaskan panjang lebar terhadap saya. Menurutnya, Saksi Yehuwa sesat atau paham setan, karena tidak mau hormat pada bendera, tidak menuhankan Yesus, dan mereka menggunakan uang sebagai pelicin jalan gerakan penyebaran agamanya. Mereka juga mewajibkan membayar dengan bayaran mahal bagi yang mampu mengajak pengikut. Bayaran itu akan bertambah seiring banyaknya jumlah orang yang mau diajak ikut dalam sektenya.

Fai bercerita juga bahwa bos Saksi Yehuwa adalah pengusaha kaya raya yang siap membeli pengikut. Semua jemaat gerejanya hidup dengan materi cukup.

Saya terdiam lalu tersenyum di hadapan Fai, mengucapkan terimakasih atas penjelasannya. Waktu itu saya langsung berpikir, “Jadi sesama Kristen itu saling menuduh sesat?”

Menuhankan Yesus aja sudah sesat, tetapi masih menyesatkan sesama jemaat sesat?

Yulianna PS
voa-islam.com