pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Geger Pendeta Mengaku Gay yang Menolak Sembuh

Geger Pendeta Mengaku Gay yang Menolak Sembuh

Fiqhislam.com - Pengakuan mengejutkan datang dari imam di sebuah gereja. Uskup Krzysztof Charamsa mengakui dia seorang gay. Pengakuan imam tersebut menimbulkan kegemparan di saat Sinode (pertemuan para petinggi gereja Katolik untuk menghasilkan doktrin) tentang keluarga akan berlangsung di Roma.

Ia dikatakan telah dipecat dari jabatannya di Vatikan beberapa jam setelah menyampaikan kondisinya tersebut kepada publik. Mantan imam, Mario Bonfanote, mengklaim Vatikan diam-diam mengirimkan Uskup gay tersebut ke sebuah biara khusus di Pegunungan Alpen untuk disembuhkan.

"Uskup itu diperintahkan pergi ke biara Venturini, di Trento, untuk kembali menemukan jalan yang benar," kata Bonfanote seperti yang dikutip dari laman Premier Christian Radio, Selasa, 6 Oktober 2015. Namun, menurut Telegraph, Charamsa menolak rencana tersebut. "Mereka ingin 'menyembuhkan' saya tapi saya menolak pergi," katanya.

Setelah menolak rencana Vatikan tersebut, Charamsa mengatakan dia langsung diberhentikan dari jabatannya di Vatikan.

Gianluigi Pasto, 72, imam yang bertanggung jawab atas biara Venturini, mengatakan kepada surat kabar Italia: "Saya hanya bisa mengatakan bahwa di sini kami membantu para imam menjadi sehat."

Pasto membantah bahwa tempat yang disiapkan untuk Uskup Charamsa digunakan untuk menangani imam gay, atau imam dengan kecenderungan pedofilia. "Saat ini kami tidak memiliki imam gay atau imam pedofilia. Kepastian tugas kami adalah untuk menyambut semua orang," ujarnya.

Kelompok hak-hak gay marah terhadap laporan tersebut. Francis DeBernardo, Direktur Departemen Jalan Baru (kelompok hak-hak LGTB Katolik AS), mengatakan kepada The Independent: "Menjadi gay bukanlah penyakit yang perlu disembuhkan. Yang perlu disembuhkan bukan homoseksualitas tetapi homofobia."

Sementara itu, berbicara pada Sinode, Paus Fransiskus, sebagaimana dikutip dari PCR telah menekankan bahwa Gereja harus memiliki keberanian untuk berevolusi jika itu adalah "apa yang Allah inginkan". Namun media itu tidak memastikan seperti apa sikap Paus terhadap fenomena homoseksualitas. Hingga berita ini diturunkan, Vatikan menolak berkomentar. [yy/tempo]