12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Ilmuwan Ini Menjelaskan Apa yang Sebenarnya Terjadi Ketika Manusia Mati

Ilmuwan Ini Menjelaskan Apa yang Sebenarnya Terjadi Ketika Manusia Mati

Fiqhislam.com - Seorang dokter di New York memaparkan bagaimana kematian yang dialami manusia itu sebenarnya sebuah sensasi yang menyenangkan. Tidak seperti yang digambarkan dogma agama, kematian itu menurut sains ternyata sangat nyaman.

Dr Sam Parnia, Direktur Perawatan Kritis dan Penelitian Sesusitasi di NYU Langone School of Medicine di New York, memastikan kalau kematian itu memang sangat nyaman. Orang-orang yang pernah mengalami mati suri terkadang menggambarkan pertemuan dengan kerabat yang telah meninggal.

Sebenarnya gambaran tersebut bukanlah bukti dari kehidupan setelah kematian. Mengenai proses fisik, Dr Parnia mengatakan kepada Oz Talk baru-baru ini bahwa kematian itu adalah proses, bukan momen hitam putih.

"Hasil akhirnya adalah manusia mengalami pengurangan oksigen yang masuk ke dalam otak ketika mati dan itu menyebabkan sirkuit otak manusia mati dan manusia menjadi tidak sadar akan dunia luar," terangnya seperti dilansir Express.co.uk.

"Saat jantung berhenti, semua proses kehidupan ikut berhenti karena tidak ada darah yang sampai ke otak, ke ginjal, dan hati. Ini menjadikan manusia tidak bernyawa dan tidak bergerak. Itulah waktu yang digunakan dokter untuk memberi kita waktu kematian," terangnya.

Dr Parnia mengatakan, ada proses mental yang membuat orang yang selamat dari kematian malah menginginkan kematian. “Meskipun kita menderita sebelum mati, proses kematian menjadi sangat nyaman, sangat membahagiakan, damai. Orang menggambarkan sensasi cahaya yang cerah, hangat, dan ramah yang menarik orang ke arahnya," katanya.

Orang yang pernah mengalaminya, menggambarkan sensasi kematian dengan bertemu kerabat mereka yang telah meninggal, seolah-olah mereka datang untuk menyambut mereka. Mereka sering mengatakan bahwa mereka tidak ingin hidup dalam banyak masalah, sangat nyaman dan itu seperti magnet yang menarik mereka sehingga mereka tidak ingin kembali ke kehidupan.

“Banyak orang menggambarkan sensasi terpisah dari jasad mereka dan menyaksikan dokter dan perawat sedang berjuang menyembuhkannya," katanya. Bahkan, lanjutnya, ada beberapa dari mereka mendeskripsikan sensasi di mana mereka melihat semua yang telah mereka lakukan.

Namun, Dr Parnia mengatakan ada penjelasan ilmiah untuk reaksi ini, dan mengatakan melihat orang bukanlah bukti kehidupan setelah kematian, tetapi lebih mungkin otak hanya memindai dirinya sendiri sebagai teknik bertahan hidup. "Berkat teknologi dan sains modern, kematian tidak harus terbatas pada filsafat dan agama, tetapi dapat dieksplorasi melalui sains," katanya. [yy/sindonews]