23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Indonesia, Negeri PancaSial

Indonesia, Negeri PancaSialFiqhislam.com - Seperti yang tertulis dalam UUD 45 bahwa dasar dan landasan Negara kita adalah PANCASILA.

Dan azas NKRI adalah Bhineka Tunggal Ika yang dilambangkan dengan burung Garuda sebagaimana telah dirumuskan oleh para founding fathers bangsa ini yang diperjuangkan dengan tetesan air mata, kucuran darah, serta ribuan nyawa melayang. Inilah lima ayat ‘suci’ dari Pancasila yang terlahir atas intervensi Tuhan yang diwakilkan lewat para khalifahNya di muka bumi pertiwi ini :

PANCASILA

1.      Ketuhanan Yang Maha Esa

2.      Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

3.      Persatuan Indonesia

4.      Kerakyatan Yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan

5.      Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Tapi lihatlah kini apa yang terjadi ? Jawa jadi sarang kemungkaran, Mesuji Berdarah, Bima Membara, Papua Bergolak,….. Di mana rimbamu kini Pancasila ? Lalu mana bukti kesaktianmu kini ? Mana jati dirimu kini ?

Beberapa pertanyaan diatas sekedar untuk memancing ingatan kita kembali bagaimana eksistensi pancasila sekarang ini sebagai dasar negara, sebagai pandangan hidup, sebagai nafas filosofi kita sepertinya telah mengalami degradasi atau bahkan sudah hilang sama sekali ruhnya dari hati kita sebagai individu maupun bangsa. Maraknya bencana alam dan perilaku manusia yang mungkar menunjukkan betapa telah jauhnya nilai-nilai luhur pancasila dari hati bangsa Indonesia.

Silahkan anda suruh anak-anak sekolah sekarang melafalkan lima butir Pancasila pasti jarang yang hafal. Mereka akan lebih hafal lagunya Melinda ( Cinta satu malam ), Ayu Thing-thing ( Alamat palsu ), Justin Beiber atau Beyonce. Sekarang ini Pancasila hanyalah konsep belaka bukanlah pedoman nilai-nilai untuk hidup sehari-hari. Dengan kata lain Pancasila sekarang ini hanyalah ornament  belaka bukannya landasan ataupun pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila hanyalah asesoris belaka, sekedar untuk menghiasi dan melengkapi berdirinya sebuah Negara yang bernama Indonesia

Yang lebih menyakitkan lagi adalah perilaku penyelenggara Negara yang seharusnya menjadi panutan rakyat malah sebaliknya menjadi cemohan rakyat. Karena mereka tidak amanah sehingga perilakunya tidak terpuji dan menyengsarakan rakyat, seperti korupsi, manipulasi kebijakan sehingga merugikan bangsa dan Negara, eksploitasi alam dan manusia (homo homini lupus), menjual aset nasional kepada asing, dsb.

Imbas lebih luas dari kondisi tersebut adalah timbulnya anarkhisme, kekerasan dan kebiadaban masyarakat. Seperti kita ketahui bersama beberapa tahun era pemerintahan SBY ini banyak sekali muncul konflik antar etnis dimana-mana, seperti di Papua, Sulawesi, Sumatra, Nusa Tenggara, Maluku, Jawa ..dsb. Perseteruan massa yang destruktif, anarkhis dan saling membantai satu sama lain. Kriminalitas dan perilaku asusila terjadi setiap hari. Sepertinya negeri ini sedang terkena kutukan kubro. Bencana, prahara dan tragedi kemanusiaan silih berganti, hilir-mudik tak pernah kunjung henti.  

Perilaku para penyelenggara Negara dan sebagian masyarakat kita sebenarnya telah terinveksi virus materialisme yang oleh Karl Marx disebut dengan dialektika historis materialisme, artinya, hidup ini ditentukan oleh materi semata. Semakin seseorang memiliki banyak materi maka ia akan semakin powerfull  dalam hidup karena segala sesuatunya itu bisa dikendalikan dengan kekuatan materinya ( sejalur esensi kapitalisme dan sekularisme ).

Apapun bentuknya, apapun namanya di negeri ini semuanya bisa dibeli dengan uang (materi). Uang adalah segala-galanya. Uang adalah yang paling utama. Money is number one and God is number sixty-nine. You can deny it but just hypocrite.

Ideologi Marxis ini pada akhirnya akan menggiring dan menjebak manusia pada paham Atheis (anti Tuhan) karena logika berpikir mereka hanya berorientasi pada materi belaka dengan mengandalkan akal dan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Segala hal yang sifatnya metafisik dan irasional ditolak mentah-mentah oleh mereka (marxis). Mereka lebih mengandalkan logika-rasional dan sekulerisme belaka. Jadi wajar-wajar saja orang-orang marxis-komunis sangat alergi dengan Theisme. Dimata mereka ‘ religion is opium and wishfull thingking ’ (agama adalah candu dan pelipur lara sejenak ). Dengan kata lain agama adalah tempat pelarian sementara manusia dari problem kehidupan. Jadi siapapun saja yang telah terjangkiti virus marxis ini pasti akan menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya, walau ia seorang yang religius sekalipun. Termasuk para elit dan sebagian masyarakat negeri ini sehingga perilaku mereka menjadi arogan, amoralis sarat hipokrisi. Itu yang membuat Negara ini jadi under-developed. 

Dan yang sangat membahayakan lagi adalah jika orang-orang religius terjangkiti virus marxisme menjadi pejabat publik maka keserakahan, kelicikan, kerakusan, dan kemunafikan jadi karakter dan mainstream mereka. Jika sudah demikian kondisinya maka bisa dipastikan negara dalam kondisi S.O.S perlu penanganan khusus untuk mengatasinya.  

Perilaku narxis para elit itu juga salah satu bentuk ekses dari peradaban modern yang menjadikan uang sebagai alat tukar utama, sehingga orang berlomba-lomba untuk mencari dan menimbun uang sebanyak-banyaknya agar bisa survive dan powerfull  tanpa pijakan etika, moral dan agama. Kenapa demikian, karena segala sesuatunya akhirnya diukur dengan uang. Jadilah sekarang ini adagium populer di Indonesia; Keuanganan nan maha kuasa. Dan memang demikianlah faktanya dari tingkat kelurahan hingga Istana Negara - begitulah adanya.  Dan yang lebih absurd  lagi uang hasil ‘jarahan’ tersebut mereka gunakan untuk kepentingan ibadah seperti; umroh, naik haji, zakat dan amal sosial lainnya -- yang semata-mata untuk menyelamatkan atau mendongkrak status sosialnya. Dan anehnya lagi orang-orang Indonesia mudah dan paling suka ditipu dengan fenomena tersebut. Jadi alangkah sulit dan beratnya mengurai benang bundet yang tercelup nila kecuali dibuang atau dibakar – itulah Indonesia.

Berdasarkan premis di atas maka banyak para penyelenggara Negara kita dan sebagian masyarakat kita yang mengabaikan nilai nilai profetik; etika dan agamanya. Akhirnya mereka berani melakukan kolusi dan korupsi, merampok uang Negara, dan berbagai macam abused of power lainnya. Yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila. Dan yang kini terjadi adalah pelecehan nilai-nilai dari Pancasila yang akhirnya menjadi antitesis dari Pancasila itu sendiri sehingga sekarang menjadi PancaSial yang eksesnya telah menyeruak ke seluruh penjuru Indonesia. Inilah antitesis dari Pancasila :

PANCASIAL

1.      Keuangan yang Maha Kuasa

2.      Kemanusiaan yang Jahil dan Biadab

3.      Perseteruan Bangsa Indonesia

4.      Kerakyatan yang Dipimpin oleh Kemunafikan, Kelicikan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan

5.      Ketidakadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Entah sampai kapan virus dan balak Pancasial ini menggerogoti Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kekacauan, kebiadaban, dan ketidakadilan semakin menjadi dimana-mana, di segenap pelosok negeri. Dan celakanya belum muncul juga Imam Mahdi, Satria Piningit, dan Juru Selamat negeri yang bisa mengatasi segala masalah, prahara, petaka dan bencana bangsa ini sebagaimana yang dikatakan oleh para winasis ( futurolog, forecaster, fortune teller, pakar, agamawan dan paranormal ) ??.

Sebagai individu dan anak bangsa, kita hanya bisa berharap keajaiban terjadi di negeri ini. Semoga muncul seorang atau sekelompok figur yang tegas, pemberani, adil, punya integritas, kredibilitas, kapabilitas yang tinggi dan memiliki  komitmen mulia untuk bangsa dan negaranya. Mampu menghalau balak Pancasial yang benar-benar telah menyialkan dan menyengsarakan bangsa Indonesia ini secepatnya -- dan berganti Cahaya dan Ruh Pancasila Madhani yang bersinar benderang di langit dan bumi pertiwi ini. Jaya Sentausa selamanya. Maka akan tersenyum binar para Founding Fathers kita di singgasananya. Bukannya menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya lalu mengucap : “ Duhh  Gusti  nyuwun  pangaksami .…naudzubillah min dzaliik !! “ 

Oleh : hery nugroho algama
herialgama@gmail.com

rimanews.com