29 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 04 Desember 2021

basmalah.png

Krisis Kecerdasan Yahudi

Fiqhislam.com - Sepanjang sejarah, Yahudi berhasil menorehkan prestasi-prestasi. Yang terpenting di bidang keuangan dan ekonomi.

Krisis Kecerdasan Yahudi Ini menjadikan mereka bertahan dimanapun mereka berada di dunia, meski jumlah mereka sedikit. Kebanyakan mereka bangga dengan “kecerdasan akal yahudi” di balik kekuatan itu. Sementara selain mereka silau dengan kecerdasan yahudi.

Namun apakah benar, kecerdasan akal yahudi masih berhak menerima “pelangi besar” di sekilingnya saat ini? Ataukah pelangi itu semakin mengecil dibanding yang dibayangkan banyak orang?

Beberapa pekan lalu seorang pemuda yang diyakini berasal dari Saudi membuka kedok kecilnya kecerdasan Israel. Pemuda yang menjuluki dirinya OXOmar dan mengaku Wahabi dalam emailnya. Sang hacker ini mampu membobol ratusan kartu kredit warga Yahudi. Ia juga mengetahui terlebih dahulu penutupan situs bursa Israel dan situs perusahaan El Al Airlines Israel.

Ini bukti ketidakmampuan Israel menghadapi kemampuan seorang Muslim Arab. pemuda itu telah membuka aurat Israel dalam bidang komputer, hitech, teknik militer, dan keamanan dengan teknologi canggih. Bahkan menjebol teknologi yang diklaim paling canggih di dunia. Bahkan hacker Oxomar bukan hanya menjebol situs-situs dan mencuri data, ia menantang Mossad untuk menangkapnya dengan jeda dua pekan. Sayangnya Mossad tak berani.

“Teroris eletronik” ini ternyata membuat gusar Israel. Israel berusaha meminimalisir serangan eletronik ini. Namun justru pertahanan Israel dalam hal alamat email Israel terbobol. Apalagi situs wakil Menlu Israel Dany Ayalon juga dihack oleh sejumlah orang setelah ia mengeluarkan kecaman terhadap pembobolan tersebut.

Israel tidak berdaya menghadapi serangan ini. Ini adalah bukti krisis “kecerdasan Yahudi”. Apalagi itu terjadi pada saat sangat jarang orang percaya terhadap Israel alias kredibilitasnya runtuh. Hal itu bukan hanya terjadi di dunia Arab Islam saja, namun dunia secara umum menolak “logika zionis” yang memimpin “kecerdasan Yahudi” sejak 100 tahun lalu.

Kecerdasan itu bergantung kepada manipulasi sejarah dan pemutar balikan fakta. Selai itu juga bergantung kepada pemanfaatan narasi emosional. Semua zionis sekarang ini mencari pembenaran atas apa yang semua dilakukan oleh entitas yang dianggap pernah dizhalimi oleh sejarah “Holocoust” dengan membuang sejarah bangsa lain.

Selama ini rezim-rezim Arab silau dengan kecerdasan Yahudi. Kini ada potensi di kalangan bangsa Arab Muslim yang mampu terlibat dalam melakukan perang spikis terhadap Israel. Maka seharusnya negara-negara Arab pasca revolusi ini memayungi mereka dan memberikan ruang.

sabili.co.id