25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Jejak Homoseksual dari Zaman Kolonial ke Era Global

Jejak Homoseksual dari Zaman Kolonial ke Era GlobalFiqhislam.com - Kampanye LBGT di negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia memang satu tantangan tersendiri bagi mereka. Di Indonesia, catatan sejarah seringkali dijadikan legitimasi untuk eksistensi mereka.

Namun hal ini perlu dicermati kembali. Munculnya satu-dua kasus homoseksual di tanah air bukanlah pembenaran untuk eksistensi mereka. Yang lebih penting adalah melihat reaksi masyarakat terhadap perilaku keji ini.

Di tanah air, jejak homoseksual lebih banyak terekspos pada masa kolonial. Pada masa kolonial, praktek homoseksual telah tumbuh subur. Homoseksual bukanlah pelanggaran hukum di Hindia Belanda, kecuali jika melibatkan tindak pedofilia, yaitu kegiatan homoseksual dengan pemuda di bawah usia 21 tahun. Perbuatan tersebut melanggar Pasal 292. (Marieke Blombergen: 2011).

Kenyataannya perbuatan tersebut banyak terjadi pada pria kulit putih dewasa dengan pemuda pribumi. Hal ini merupakan bagian dari relasi penjajah dan terjajah yang tak seimbang. Sosok kulit putih yang hegemonik menjadi sosok yang lebih dominan.

Hingga kemudian terjadi ledakan skandal yang memalukan. Praktek homoseksual justru menghinggapi para pejabat kolonial dan seringkali menjerat para pemuda atau anak laki-kali bangsa pribumi dan menjadi skandal besar yang memalukan pemerintahan kolonial Belanda.

Seorang Residen Batavia, yang juga kepala polisi Batavia, Fievez de Malines, diduga berhubungan seks dengan anak-anak laki di bawah umur. (Marieke Blombergen: 2011) Asisten Residen Coolhas juga ditahan. Hal ini menimbulkan kegemparan di Hindia Belanda pada saat itu dan mencoreng wajah pemerintah kolonial yang melarang praktek homoseksual terhadap pemuda di bawah usia 21 tahun.

Di Hindia belanda praktek homoseksual memang sudah mewabah. Di pulau Bali misalnya, pada tahun 1930-1940-an dikenal sebagai surga kaum homoseksual. Bahkan menimbulkan praktek prostitusi kaum homoseksual yang melayani bangsa asing yang berlibur ke Bali. (Geofrey Corbet Green : 2002)

Di Jawa, tepatnya di Bandung. Seorang pelajar pribumi diperkosa oleh gurunya. Di Batavia, polisi disebutkan menangkapi anak-anak jalanan dan membariskan mereka di depan barisan laki-laki Eropa yang dicurigai; bila anak-anak remaja tersebut menunjuk salah satu laki-laki Eropa tersebut, itu dianggap mengindikasikan bahwa laki-laki tersebut telah melakukan hubungan seksual dengan mereka, dan orang-orang Eropa tersebut kemudian ditahan. (Tom Boellstorff : 2005)

Di Medan, terdapat sebuah rumah dikenal sebagai tempat berkumpul dan berpestanya kaum homoseksual. Pemilik rumah tersebut memiliki pasangan, soerang pribumi bernama Oesman. (Marieke Blombergen: 2011)

Pada tahun 1938-1939, pemerintah melakukan pembersihan terhadap kaum homoseksual. Pembersihan ini dilakukan setelah pada November 1938 seorang pengidap homoseksual, W.G van Eyndthoven diketahui menerima tamu seorang pemuda di bawah umur, di kamar hotelnya. Dari dokumen Eyndthoven ditemukan berbagai surat-surat yang menyeret jaringan kaum homoseksual. (Marieke Blombergen: 2011)

Pada pertengahan Desember, Jaksa Penuntut Umum, H. Marcella menyimpulkan perbuatan kriminal homoseksual perlu perhatian serius. Sebanyak 225 pria ditangkap di seluruh Hindia Belanda pada periode Desember 1938 hingga Mei 1939.
Tindakan pemerintah kolonial ini dianggap tidak cukup. Pada bulan Januari 1939, Moh.

Husni Thamrin, tokoh politik asal Betawi, di dewan rakyat Volksraad, mempertanyakan kelambanan pemerintah kolonial mengatasi kejadian ini. Mengapa intervensi pemerintah kolonial baru terjadi di bulan Desember 1938, padahal telah ada skandal sejak pertengahan tahun 1938?

Moh. Thamrin juga mempertanyakan ada berapa aparat pemerintah kolonial, kepolisian, dan guru yang terlibat dalam skandal ini? Tindakan apa yang akan dilakukan terhadap pemuda yang terlibat dalam skandal ini? Akhirnya secara tajam, Moh. Husni Thamrin juga mempertanyakan apakah perilaku orang asing akan dipantau? (Bataviaaach Nieuwsblaad, 21 Januari 1939).

Praktek homoseksual nyatanya memang sudah menjadi kekhawatiran masyarakat pribumi di Hindia Belanda (Indonesia) sejak lama. Bukan saja protes Moh. Husni Thamrin yang menandakan hal tersebut, tetapi juga misalnya dari terbitnya buku Maisir Thaib, yang berjudul “Bahaja Homo-sexualiteit dan bagaimana membasminja” pada tahun 1939.

Hal ini menjadi menarik karena Maisir Thaib menyuarakan kekhawatirannya dari Sumatera Barat. Artinya fenomena nista homoseksual bukan hanya dominasi wacana di pusat kekuasaan kolonial di Batavia saja. Thaib dalam buku tersebut menyatakan bagaimana fenomena tersebut bisa menjangkiti masyarakat Minangkabau,

“Dengan teroes-terang kita njatakan—sebab dalam koepasan wetenschap [ilmiah] ta’ haroes semboenisemboenian—bahwa homo-sexualiteit ini tersiar loeas ditempat-tempat jang banjak berkoempoel djenis laki-laki sadja, atau perempoean sadja jang nafsoe berahinja soedah timboel, seperti disoerau-soerau, tangsi2 [barak], internaat2 [asrama], dan sebagainja.” (Jeffrey Hadler : 2010)

Ia pun melanjutkan, bahwa penting bagi orang tua untuk memperingatkan akan bahaya homoseksual.

Kepada iboe bapa jang mengirimkan anak-anaknja kesoerau-soerau atau internaat2, dengan tidak diberi adjaran lebih dahoeloe, tentang bahajanja perboeatan mesoem ini, adalah seperti menjerahkan anaknja keliang singa.” (Jeffrey Hadler : 2010)

Kekhawatiran Maisir Thaib nampaknya beralasan. Mengingat praktek homoseksual bukan saja melanda masyarakat umum ‘orang barat.’ Bahkan masyarakat pribumi itu sendiri. Namun yang lebih mengerikan lagi, praktek homoseksual juga terjadi di institusi yang di bawah pengawasan pemerintah kolonial, yaitu penjara. Di dalam penjara, perbuatan keji ini terjadi sejak lama.

Penjara Sukamiskin, Bandung, menjadi saksi perjalanan hidup Soekarno, yang kelak diangkat sebagai presiden pertama RI. Sukamiskin bukan saja menjadi saksi pemenjaraan terhadap Soekarno, namun juga menjadi saksi bisu praktik penyimpangan dan kejahatan seksual. Sebuah cermin kelamnya kehidupan dalam penjara yang dihuni oleh Soekarno.

Catatan peristiwa kelam itu dapat kita peroleh dari cerita Soekarno saat dirinya menghuni penjara tersebut. Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan perbuatan nista tersebut.

“Di hadapanku laki-laki melakukan pertjintaan dengan laki-laki lain. Seorang Belanda jang tjerdas dan potongan orang gede-gede membanting-tulang seperti budak di bagian benatu pendjara. Aku sedang berada dekatnja ketika pendjaga pendjara menjampaikan kepadanja bahwa ia akan dipindahkan bekerdja ketempat jang lebih tjotjok dengan pembawaan mentalnja daripada pekerdjaan membudak jang telah dilakukannja begitu lama. ,,Kami akan pindahkan tuan besok, kata pendjaga itu. ,,Mulai dari sekarang tuan tidak perlu lagi membungkuk di bak-uap dan tangan tuan tidak akan mengelupas lagi dalam air jang mendidih. Karena kelakuan tuan jang baik, tuan diberi pekerdjaan ringan di rumah-obat. Belanda itu mendjadi takut. Mulutnja bergerak gugup. ,,0 tidak. teriaknja sambil menggapai tangan pendjaga itu. ,,Tidak ……… tidak……ach, tidak. Djangan aku dipindahkan ke sana"

Pendjaga jang keheranan itu menjangka orang tahanan itu salah dengar. ,,Tuan tidak mengerti, kata pendjaga mengulangi. ,, Ini suatu keringanan. Keringanan untuk mengerdjakan jang lebih mudah.

,,Djangan…….. djangan,” orang tahanan itu membela pendiriannja. ,,Pertjajalah padaku, aku tidak mau keuntungan ini. Kuminta dengan sangat, biarkanlah aku bekerdja di bagian benatu. Biar bekerdja keras.”

“,,Kenapa ?” tanja pendjaga tidak pertjaja.

“,,Karena,” bisiknja, “,,Tempatnja tertutup di sini dan aku selalu dilingkungi orang sepandjang waktu. disini aku bisa berhubungan rapat dengan orang-orang di sekelilingku. Sedang di rumah-obat aku tak mendapat kesempatan ini dan tidak akan bisa menggeser pada laki-laki lain. Djangan…….djangan pindahkan aku kesana. Inilah akibat pengurungan terhadap manusia.” (Cindy Adams : 1966) Kecanduan pada perbuatan terkutuk kaum Nabi Luth telah membuat pria tersebut tak mau pindah.

Lain waktu, Soekarno menceritakan sosok homoseksual penghuni sel yang gemar melakukannya dengan anak-anak muda pribumi. Di balik teralis penjara, laku maksiat itu tidak sirna. Malah menjadi-jadi.

“Sungguh banjak persoalan homoseksuil di antara orang kulitputih. Seorang Belanda berambut keriting, dengan pundaknja jang lebar dan sama seperti laki-laki lain jang bisa dilihat dimana-mana, telah didjatuhi hukuman empat tahun kerdja berat.

Kedjahatannja, karena bermain-main dengan anak-anak muda. Tapi walaupun dihukum berkali-kali untuk menginsjafkannja, namun nampaknja ratusan anak laki-laki jang berada disekelilingnja adalah satu-satunja obat bagi penjakitnja, wallahu’alam. Hukumannja telah habis dan dipagi ia meninggalkan pendjara, kukira dia bisa baik lagi.”

“Sebulan kemudian dia menonton bioskop. Dia duduk di bangku depan dikelilingi oleh delapan atau sembilan anak-anak muda. Orang kulitputih berambut pirang dan berbadan besar duduk dikelas kambing jang disediakan untuk orang Bumiputera tentu mudah diketahui orang. Terutama kalau perhatiannja tidak terpusat kepada film. Djadi, kembalilah ia mengajunkan langkah menudju bui. Pendjara bukanlah obatnja. Ia kembali keselnja jang lama sebelum keadaannja berobah.”

Orang kulitputih itu dimasukkan kesel di bawahku. Di sini ia berusaha lagi menawarkan kegemarannja itu.

“Pada waktu tidak ada orang disekelilingku, kutanjakan hal in kepadanja. ,,”Kenapa?” tanjaku. ,,Kenapa engkau mau bertjinta denganku ?” Dan ia mendjawab, “Karena disini tidak ,ada perempuan.”

Aku mengangguk, ,”Memang benar. Aku sendiri djuga menginginkan kawan perempuan, tapi bagaimana bisa……….”

“Kemudian ia menambahkan, “Jah, apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?”
”Ooooh,” kataku terengah. ,,”Kau sakit !” (Cindy Adams : 1966)

Gerakan Homoseksual di Era Orde Baru

Perilaku sakit juga diceritakan Mochtar Lubis, salah satu tokoh pers nasional. Ia menceritakan pengalamannya selama ia di Rumah Tahanan Militer Jl. Boedi Oetomo, Jakarta, pada tahun 1960-an. Seorang temannya sesama tahanan bercerita kejahatan pengidap homoseksual di penjara Cipinang. Anak-anak muda dipelihara oleh para tahanan homoseksual tersebut. Jika sudah bosan mereka dijual seharga dua slof rokok saja. Anak-anak muda tersebut dipaksa dengan ancaman pisau dan kekerasan lainnya. Mereka terkadang dipaksa pula berdandan seperti wanita. (Mochtar Lubis : 1980)

 

Di Masa Orde Baru kaum gerakan homoseksual mulai menggeliat. Pada akhir tahun 1960-an dibentuk Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) yang dikemudian difasilitasi Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Wadam sendiri berarti ‘wanita-adam’ atau banci. Istilah ini kemudian ditentang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena memakai nama Nabi Adam yang mulia. Istilah wadam kemudian pada tahunn 1978 diganti dengan ‘waria’ (Wanita-Pria). (Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013)

Pada tahun 1982 mulai dibentuk organisasi Lambda Indonesia. Organisasi ini terdiri dari sekumpulan pria homoseksual. Mereka kemudian menyesuaikan kampanye mereka secara perlahan. Termasuk dengan pemakaian istilah yang mereka gaungkan, yaitu ‘emansipasi.’

Istilah emansipasi mereka pilih ketimbang istilah yang biasa dipakai gerakan homoseksual di Barat yaitu ‘Coming Out’ (Pengakuan terbuka) atau ‘Liberation.’ Lambda Indonesia menerbitkan Majalah G: Gaya Hidup Ceria. Majalah ini terbit dari tahun 1982 hingga 1986. Lambda Indonesia juga menginspirasi beberapa perempuan lesbian di Jakarta untuk membentuk Persatuan Lesbian Indonesia (Perlesin). Namun Perlesin hanya bertahan kurang dari satu tahun. (Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013)

Pada tahun 1986, Lambda Indonesia tak lagi bernyawa. Meski demikian sejak tahun 1985 cabang Lambda Indonesia di Yogyakarta membentuk kelompok lokal mereka sendiri yaitu Persaudaraan Gay Yogyakarta. Mereka kemudian menerbitkan publikasi berkala bernama Jaka. (Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013)

Di Surabaya, Lambda Indonesia disana membentuk Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara, disingkat GAYa NUSANTARA. Mereka menerbitkan penerbitan berkala bernama GAYa NUSANTARA. (Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013)

Di tahun 1980-an memang menjadi titik tolak pergerakan kaum LBGT. Beberapa dari mereka mulai menulis dan diundang ke kampus atau LSM. Tahun 1990-an, muncul kelompok-kelompok diberbagai daerah seperti Jakarta, Pekanbaru, Denpasar, Malang, dan Makassar. Chandra Kirana, kelompok lesbian di Jakarta menerbitkan publikasi mereka sendiri yaitu Gaya Lestari, setelah beberapa tahun sebelumnya menjadi sispan dalam GAYa Nusantara.

Tahun 1993 diadakan Kongres Lesbian Gay Indonesia (KLGI) pertama di Kaliurang, Yogyakarta. Kongres kedua di Lembang Bandung pada 1995, dan Ketiga di Denpasar pada 1997. Di akhir 1990-an, Komunitas Lesbian di Jakarta bernama Swara Srikandi dibentuk. Mereka kemudian berjejaring ke daerah lainnya. (Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013)

Maraknya gerakan LGBT di tahun itu tak lepas dari diterimanya  aktivis LGBT dalam komunitas atau LSM-LSM perempuan atau yang terkait dengan kampanye HIV. Namun satu peristiwa yang cukup penting adalah diterimanya perwakilan lesbian dalam Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 14-17 Desember 1998. (Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013 dan Koalisiperempuan.or.id)

Pasca reformasi gerakan LGBT semakin marak. Namun eksistensi mereka bukanlah gerakan sporadis apalagi tanpa modal. Sebaliknya, kampanye gerakan LBGT ini adalah gerakan global yang bukan saja didukung para penganutnya tetapi juga didukung Lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melalui United Nation Development Programme (UNDP), PBB menyokong secara massif kampanye pengakuan terhadap kaum LBGT diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satunya adalah laporan dari Indonesian National LGBT Community Dialogue yang diadakan di Bali pada tahun 2013. Hasil dari pertemuan ini kemudian dituangkan ke dalam satu laporan yang digarap secara serius berjudul ‘Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report.’ Lembaga donor Amerika Serikat, USAID dan UNDP menjadi penyokong laporan ini.

Peluncuran laporan tentang kondisi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender ( LGBT) di Indonesia pada 2014 disponsori oleh lembaga PBB.

Laporan ini ditulis oleh Dede Oetomo, salah satu aktivis LGBT kawakan di Indonesia. Laporan ini mengkaji beberapa aspek soal kaum LGBT di Indonesia. Diantaranya aspek hukum, budaya, termasuk sorotan tentang edukasi (baca kampanye) seks di Indonesia, tentu dengan sudut pandang yang mengakomodir eksistensi kaum LGBT.

Laporan itu merekomendasikan Pendidikan seksual yang komprehensif yang memuat edukasi keragaman Sexual Orientation and Gender Identity (SOGI) di segala institusi Pendidikan. Peluang lain yang disebutkan dalam laporan ini adalah Pendidikan keragaman orientasi seksual lewat edukasi berbasis Hak Azasi Manusia (HAM);
“Other opportunities identified by participants were other education programmes which can be used to discuss sex and sexuality, for example a human rights education programme where SOGIrelated human rights such as expounded in the Yogyakarta Principles can be part and parcel of education on diversity and multiculturalism; and HIV education that includes open discussion of sexuality.”(Dede Oetomo dalam Being LGBT in Asia: Indonesia Country Report: 2013)

Laporan tahun 2013 ini setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa kampanye LGBT di Indonesia dilakukan bukan saja secara masif dan didukung badan seperti USAID dan UNDP, tetapi juga dilakukan secara sistematis dan terukur. Hal ini dapat kita baca dari laporan satu badan di bawah Sekretariat PBB, yaitu Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR).

Laporan Juni 2018 yang berjudul “The Role of the United Nations in Combatting Discrimination and Violence against Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Intersex People” dapat memberi kita gambaran bahwa kampanye dukungan terhadap kaum LGBT ini dilakukan secara masif di seluruh dunia oleh berbagai Lembaga di bawah PBB seperti UNDP, WHO, OHCHR, bahkan UNICEF yang bertugas pada persoalan anak-anak di dunia.

OHCHR misalnya berperan memberi advokasi dan saran kebijakan untuk berbagai negara terkait keragaman orientasi seksual. PBB lewat OHCHR bahkan membuat satu situs yang didedikasikan khusus untuk keragaman orientasi seksual (UN Free & Equal / www.unfe.org). (The Role of the United Nations in Combatting Discrimination and Violence against Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Intersex People: 2018)
UNDP berperan sebagai Lembaga yang turut mengedukasi keragaman orientasi seksual dengan bekerja sama dengan komunitas-komunitas lokal, salah satunya adalah program yang menghasilkan laporan Being LGBGT in Asia termasuk di Indonesia tadi.

Peran lain dari UNDP adalah mendorong perubahan kebijakan yang lebih ramah pada kaum LGBT di berbagai negara. (The Role of the United Nations in Combatting Discrimination and Violence against Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Intersex People: 2018)

Lembaga UNICEF yang berkutat pada anak-anak juga tak lepas dari kampanye dukungan pada kaum LGBT. UNICEF terutama memastikan tidak ada diskriminasi pada hak anak- Menariknya, UNICEF bukan saja membela hak anak-anak yang orang tuanya adalah LGBT tetapi juga mengakui adanya anak-anak  yang menjadi LGBT atau yang dianggap sebagai LGBT.

“The organization’s work on LGBTI children – and those who are perceived as LGBTI – supports this mandate and is in line with UNICEF’s current global Strategic Plan 2014-2017…” (The Role of the United Nations in Combatting Discrimination and Violence against Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Intersex People: 2018)

Ada beberapa lembaga lain di bawah PBB seperti ILO dan WHO dan juga lembaga yang bekerja sama seperti Bank Duniamenyokong keragaman orientasi seksual ini. Di Indonesia sendiri, selain mendukung laporan Being LGBT in ASIA di Indonesia, PBB juga terlibat dalam riset senada lewat ILO.

Bank Dunia juga terlibat dalam kampanye eksistensi kaum transgender (waria/wanita-pria) di Indonesia. Salah satunya lewat video yang berjudul “Social Inclusion: A Transgender Story” yang memuat kisah-kisah para waria di Indonesia. [yy/republika]

Oleh Beggy Rizkiansyah,Penulis dan Pemerhati Sejarah